Eceng Gondok Diolah Jadi Pembenah Tanah Murah untuk Petani Krejengan


Krejengan, Lensaupdate.com - Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, mengenalkan inovasi sederhana untuk menjaga kesuburan lahan pertanian dengan memanfaatkan eceng gondok.

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui praktik pembuatan pembenah tanah bersama Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Krejengan di rumah Makruf, Desa Gebangan, Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini turut melibatkan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Perkebunan serta POPT Pangan Hortikultura.

Pemanfaatan eceng gondok dipilih karena bahan tersebut mudah ditemukan dan dapat diolah menjadi asam humat. Bahan ini diharapkan membantu memperbaiki kondisi tanah yang mengalami penurunan kualitas akibat penggunaan lahan secara terus-menerus.

POPT Perkebunan dari Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya Ika Ratmawati mengatakan pembenah tanah berbahan eceng gondok memiliki manfaat terhadap kondisi fisik, kimia dan biologi tanah.

“Pembenah tanah ini berfungsi memperbaiki struktur fisik, kimia dan biologi tanah secara alami dengan memanfaatkan tanaman liar di perairan, yaitu eceng gondok, yang diproses sehingga menjadi asam humat,” katanya.

Ika menjelaskan, kualitas tanah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan unsur hara. Kandungan karbon juga diperlukan untuk mendukung kondisi tanah agar tetap baik bagi pertumbuhan tanaman.

“Asam humat yang kita buat ini merupakan bentuk humus yang menyediakan unsur penting tersebut. Dengan begitu, tanah menjadi lebih gembur dan tanaman pun tumbuh optimal,” jelasnya.

Sementara POPT Pangan Hortikultura wilayah Kecamatan Krejengan Kamaluddin Harahap mengatakan asam humat juga dapat membantu meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan unsur hara.

“Dengan struktur tanah yang kembali gembur, akar tanaman dapat menyerap nutrisi dengan lebih efisien, sehingga hasil pertanian pun meningkat,” terangnya.

Dalam praktiknya, bahan yang digunakan cukup sederhana. Petani menyiapkan 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram limbah kulit nanas, 250 mililiter EM4, 250 mililiter molase dan 10 liter air.

Seluruh bahan tersebut dicampurkan dalam wadah untuk kemudian difermentasi selama sekitar 30 hingga 60 hari. Setelah proses fermentasi selesai, cairan yang dihasilkan dapat diencerkan sebelum digunakan pada lahan pertanian.

Kamaluddin menerangkan, penggunaan pembenah tanah tersebut dilakukan dengan mencampurkan sekitar 10 mililiter cairan hasil fermentasi ke dalam satu liter air. Larutan kemudian diaplikasikan ke lahan dengan cara dikocorkan.

Koordinator BPP Kecamatan Krejengan Muhammad Mustajib menyambut positif praktik pembuatan pembenah tanah tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam ini memberikan pengalaman langsung kepada petani untuk mengembangkan solusi pertanian yang mudah diterapkan.

“Kita harapkan pendekatan seperti ini terus dilakukan, agar petani bisa menemukan solusi atas masalah pertanian mereka sendiri melalui praktik yang mudah dan aplikatif,” ujarnya.

Ketua KTNA Kecamatan Krejengan Imam Wahyudi menilai pemanfaatan bahan lokal menjadi bukti bahwa inovasi pertanian tidak selalu membutuhkan biaya besar.

“Program ini menjadi contoh nyata bahwa solusi pertanian tidak selalu bergantung pada teknologi mahal, tapi bisa juga dimulai dari inovasi lokal yang sederhana dan ramah lingkungan,” terangnya.

Melalui kegiatan tersebut, KTNA dan BPP Kecamatan Krejengan mendorong petani untuk lebih memperhatikan kesehatan tanah sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian.

Pemanfaatan eceng gondok dan limbah organik lainnya juga diharapkan tidak hanya menjadi alternatif pembenah tanah yang murah, tetapi sekaligus mendorong penerapan pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan. (nab/zid)

Baca Juga :