BPP Kecamatan Gending Olah Keong dan Eceng Gondok Jadi Pupuk Organik


Gending, Lensaupdate.com - Upaya mendorong praktik pertanian ramah lingkungan terus digalakkan di Kecamatan Gending. Sejumlah kelompok tani (Poktan) mengikuti pelatihan pembuatan asam amino dan Photosynthetic Bacteria (PSB) dari bahan keong mas serta asam humat berbahan eceng gondok di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gending, Selasa (24/2/2026).

Pelatihan menghadirkan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan dari Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya Ika Ratmawati. Kegiatan diikuti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Gending, perwakilan kelompok tani se-Kecamatan Gending serta tim Polsek Gending.

Selama ini keong mas dikenal sebagai hama yang merusak tanaman padi muda. Namun melalui pelatihan ini, petani diajak mengolahnya menjadi pupuk asam amino dari daging keong serta PSB dari telur keong mas. Begitu pula eceng gondok yang kerap dianggap gulma, ternyata dapat diolah menjadi asam humat sebagai pembenah tanah yang kaya nutrisi.

POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menjelaskan, pembuatan asam amino dilakukan dengan 5 kilogram keong mas yang dimasak dan dihancurkan, kemudian dicampur 250 ml EM4, 250 ml tetes tebu serta 10 liter air dan difermentasi selama 14 hari.

“Aplikasi 30 ml per liter semprot. Ini efektif merangsang pertumbuhan tanaman, memperbaiki sel tanaman dan memacu proses pembuahan,” ujarnya.

Untuk PSB, dibutuhkan seperempat kilogram telur keong mas, 50 gram terasi dan lima sendok micin yang difermentasi dengan 10 liter air dan dijemur hingga berwarna merah pekat selama satu bulan.

“Aplikasi 20 ml per liter semprot. PSB baik meningkatkan efisiensi fotosintesis, memacu pertumbuhan akar dan memperkuat imunitas tanaman,” jelasnya.

Sementara pembuatan asam humat dari eceng gondok dilakukan dengan mencampur 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram kulit nanas, 250 ml EM4, 250 ml tetes tebu dan 10 liter air, lalu difermentasi selama satu bulan. Dosis penggunaan 10 liter untuk satu hektare lahan yang dicampur 100 liter air saat pengolahan tanah.

Salah satu petani Desa Pesisir Suhaeri mengapresiasi pelatihan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan aplikatif dan relevan dengan kondisi petani.

“Selain mudah dibuat, bahan-bahannya tersedia di sekitar kita. Selama ini biaya sarana produksi kimia semakin mahal,” ungkapnya.

Sementara Koordinator BPP Kecamatan Gending Zulaichah Kusumawardhani menilai inovasi ini menjadi solusi ekologis sekaligus ekonomis bagi petani.

“Pelatihan ini momentum tepat untuk mengurangi ketergantungan bahan kimia sintetis. Kami siap memfasilitasi dan memperluas praktik ini agar pertanian lebih lestari,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari Polsek Gending melalui Kanit Binmas Dwi Nur Widodo yang berharap pelatihan serupa dapat diperluas untuk mendukung program swasembada pangan.

Melalui pelatihan ini, petani di Kecamatan Gending didorong menerapkan budidaya yang lebih ramah lingkungan, menekan biaya produksi serta menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian. (nab/zid)