Tegalsiwalan, Lensaupdate.com – Upaya mendorong praktik pertanian ramah lingkungan terus digencarkan di Kecamatan Tegalsiwalan. Sejumlah kelompok tani (Poktan) mengikuti pelatihan pembuatan jadam sulfur berbahan baku belerang serta asam humat berbahan eceng gondok di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tegalsiwalan, Senin (2/3/2026).
Pelatihan menghadirkan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan dari Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya Ika Ratmawati. Kegiatan tersebut diikuti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Tegalsiwalan serta perwakilan kelompok tani se-Kecamatan Tegalsiwalan.
Selama ini, pengendalian hama dan penyakit tanaman kerap dilakukan menggunakan bahan kimia sintetis. Melalui pelatihan ini, petani dikenalkan alternatif alami yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis. Jadam sulfur dapat dimanfaatkan sebagai insektisida dan fungisida alami, sementara eceng gondok yang selama ini dianggap gulma diolah menjadi asam humat sebagai pembenah tanah kaya nutrisi.
POPT Perkebunan Ika Ratmawati menjelaskan pembuatan jadam sulfur dilakukan dengan mencampur 1 kilogram belerang, 800 gram NaOH, 50 gram garam krosok dan 3 liter air hingga tercampur rata.
“Aplikasi 2 ml per liter semprot. Ini efektif untuk mengendalikan hama seperti kutu, ulat, belalang serta penyakit seperti karat daun, bercak maupun layu,” ujarnya.
Sementara pembuatan asam humat dari eceng gondok dilakukan dengan mencampur 5 kilogram eceng gondok, 1 kilogram kulit nanas, 250 ml EM4, 250 ml tetes tebu dan 10 liter air, lalu difermentasi selama satu bulan. Dosis penggunaan 10 liter untuk satu hektare lahan yang dicampur 100 liter air saat pengolahan tanah.
Salah satu petani Desa Sumberbulu Sambang Irawan mengapresiasi pelatihan tersebut karena bahan yang digunakan murah dan mudah diperoleh.
“Materi yang diberikan aplikatif dan relevan dengan kondisi petani, apalagi biaya sarana produksi kimia semakin mahal,” ungkapnya.
Sementara Koordinator BPP Kecamatan Tegalsiwalan Vivin Tyas Pamungkas menilai inovasi ini menjadi solusi ekologis sekaligus ekonomis bagi petani serta sejalan dengan program pemerintah dalam mendukung swasembada pangan.
“Pelatihan ini momentum tepat untuk mengurangi ketergantungan bahan kimia sintetis. Kami siap memfasilitasi dan memperluas praktik ini agar pertanian lebih lestari,” ujarnya.
Melalui pelatihan tersebut, petani di Kecamatan Tegalsiwalan didorong menerapkan budidaya yang lebih ramah lingkungan, menekan biaya produksi serta menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian. (mel/fas)
