Gading, Lensaupdate.com - Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo terus mendorong pelaku industri kecil mengolah potensi komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah. Salah satu langkah yang dilakukan melalui pelatihan olahan kopi dan gula aren bagi pelaku industri kecil di pasar tradisional di Kampoeng Kita Hotel & Resto, Desa Condong, Kecamatan Gading, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut dibuka Ketua Dekranasda Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris, SE., MM. Hadir pula Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto, Ketua DWP Kabupaten Probolinggo Rita Erik Ugas Irwanto serta sejumlah pejabat terkait.
Sebanyak 50 pelaku industri kecil dari Kecamatan Gading, Tiris dan Krucil mengikuti pelatihan tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai pengolahan kopi dan gula aren, peningkatan kualitas produk, kebersihan, pengemasan hingga strategi pemasaran.
Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan kapasitas pelaku industri kecil agar mampu mengembangkan komoditas lokal menjadi produk yang memiliki daya saing.
“Melalui pelatihan ini kami ingin memberikan tambahan keterampilan kepada para pelaku industri kecil, khususnya dalam mengolah kopi dan gula aren. Tidak hanya dari sisi pengolahan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas, membuat kemasan yang menarik dan memperluas pemasaran,” katanya.
Menurut Sugeng, Kabupaten Probolinggo memiliki potensi besar pada komoditas kopi dan gula aren. Bahkan, berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, produksi gula aren Kabupaten Probolinggo disebut menjadi yang terbesar di Jawa Timur.
Potensi tersebut, kata dia, harus diikuti dengan kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Pelaku usaha diharapkan tidak hanya menjual komoditas dalam bentuk mentah, tetapi mulai menghasilkan produk turunan yang dikemas secara menarik dan dipasarkan ke pasar yang lebih luas.
“Jangan sampai kita hanya menjadi penghasil bahan baku. Bagaimana bahan baku ini bisa kita olah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah, dikemas dengan baik dan kemudian dipasarkan lebih luas. Itu yang menjadi salah satu tujuan dari pelatihan ini,” tegasnya.
Pengembangan gula aren Kabupaten Probolinggo juga mulai mendapat perhatian melalui Program Communal Branding Palm Sugar. Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama DKUPP Kabupaten Probolinggo melakukan verifikasi dan identifikasi lapangan di Kecamatan Krucil dan Tiris.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat identitas bersama produk gula aren Kabupaten Probolinggo, meningkatkan nilai tambah, memperluas akses pasar serta memperkuat daya saing produk lokal.
Sugeng menjelaskan Kecamatan Tiris menjadi salah satu wilayah potensial penghasil gula aren. Dari 16 desa yang ada, sebanyak 12 desa merupakan wilayah penghasil gula aren. Sementara di Desa Kalianan Kecamatan Krucil, produksi gula semut tercatat sekitar 30 kilogram per hari dalam proses identifikasi program tersebut.
“Potensi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan gula aren Kabupaten Probolinggo tidak hanya sebagai komoditas bahan baku, tetapi juga sebagai produk olahan unggulan yang memiliki identitas dan daya saing,” tambahnya.
Sementara Ketua Dekranasda Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris mengapresiasi DKUPP yang terus memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM dan industri kecil.
“Terima kasih kepada DKUPP atas dukungannya terhadap pelaku UMKM di daerah kita. Semoga ini menjadi ikhtiar baik untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.
Ning Marisa mendorong peserta melihat peluang pasar yang semakin terbuka, termasuk mengembangkan kopi dan gula aren dalam berbagai bentuk produk kemasan.
“Semoga pelatihan ini dapat bermanfaat untuk peserta. Melihat potensi kopi dan gula aren yang kita miliki, kita juga harus melihat peluang untuk menjadikannya produk kemasan lainnya. Sekarang hotel-hotel juga mulai melirik gula aren dalam bentuk sachet,” jelasnya.
Ia berharap pelaku industri kecil mampu meningkatkan kualitas, kemasan, kebersihan serta pemasaran agar produk lokal Kabupaten Probolinggo semakin dikenal dan mampu menjangkau konsumen di luar daerah.
Melalui pelatihan tersebut, DKUPP berharap muncul inovasi baru dari pelaku industri kecil sehingga kopi dan gula aren tidak berhenti sebagai komoditas bahan baku. Pengolahan yang lebih kreatif dan profesional diharapkan dapat membuka pasar baru, meningkatkan nilai jual produk sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat Kabupaten Probolinggo. (riz/zid)
Baca Juga :
.jpeg)