Bantaran, Lensaupdate.com – Unit Layanan Disabilitas (ULD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo terus mendorong peningkatan kapasitas guru dalam memberikan layanan pendidikan inklusif. Penguatan tersebut dilakukan melalui Safari Inklusif yang digelar di Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Dikdaya Kecamatan Bantaran, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan yang didukung Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), Kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia tersebut melibatkan kepala sekolah dan guru jenjang TK, SD hingga SMP di Kecamatan Bantaran.
Setiap satuan pendidikan mengirimkan kepala sekolah bersama satu orang guru untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Safari Inklusif diawali dengan coaching model CARE di SDN Legundi I Kecamatan Bantaran, kemudian dilanjutkan dengan workshop di aula Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan Bantaran.
Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai identifikasi sembilan hambatan fungsional serta Desain Universal untuk Pembelajaran (DUP). Materi diberikan untuk membantu guru memahami keberagaman kebutuhan peserta didik sekaligus menyesuaikan proses pembelajaran.
Sejumlah narasumber turut memberikan pendampingan, di antaranya Ketua Pokja ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Siti Chusnul Khotimah, Sekretaris ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo M. Taufik serta empat guru lulusan pelatihan pendidikan inklusif tingkat mahir.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono, District Officer INOVASI Kabupaten Probolinggo Anwar Sutranggono serta Tim ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo wilayah barat.
Ketua Pokja ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Siti Chusnul Khotimah mengatakan Safari Inklusif merupakan bagian dari upaya memperkuat kompetensi guru, khususnya Guru Pembimbing Khusus (GPK), dalam memberikan pembelajaran kepada peserta didik dengan karakteristik yang beragam.
“Safari Inklusif merupakan kegiatan dalam rangka mengadvokasi guru pembimbing khusus atau GPK dalam membelajarkan murid yang beragam karakteristiknya, tanpa terkecuali murid dengan disabilitas,” ujarnya.
Menurut Chusnul, kegiatan tersebut dirancang berdasarkan berbagai persoalan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran inklusif. Karena itu, materi tidak hanya diberikan secara teoritis, tetapi diarahkan agar dapat diterapkan secara langsung di lingkungan sekolah.
“Kegiatan Safari Inklusif oleh ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo ini benar-benar menjawab permasalahan guru dalam membelajarkan kelas dengan layanan inklusif,” jelasnya.
Ia berharap penguatan kapasitas melalui Safari Inklusif mampu meningkatkan kemampuan guru dalam memahami kebutuhan setiap peserta didik.
“Harapannya semua guru memiliki kompetensi yang memadai dalam memberikan layanan pembelajaran inklusif,” tambahnya.
Safari Inklusif juga dikemas dengan konsep blended learning. Pendekatan tersebut memungkinkan proses pembelajaran, pendampingan dan penguatan kapasitas menjangkau lebih banyak guru dari berbagai jenjang pendidikan.
Pengembangan layanan ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo turut mengacu pada regulasi mengenai penyediaan akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas, termasuk Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023.
Sementara Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono menegaskan pemerintah daerah memiliki komitmen membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan ramah bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Komitmen tersebut mengacu pada implementasi Cetak Biru Pendidikan Inklusi berdasarkan Peraturan Bupati Probolinggo Nomor 34 Tahun 2021.
“Peraturan Bupati Nomor 34 Tahun 2021 bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan janji kita bersama. Mari wujudkan Kabupaten Probolinggo sebagai rumah pendidikan tanpa batas bagi setiap anak,” katanya.
Hary menjelaskan, implementasi Cetak Biru Pendidikan Inklusi mencakup enam pilar utama pemenuhan hak individual anak. Keenamnya meliputi pemerataan dan akses pendidikan tanpa diskriminasi, peningkatan mutu yang relevan, kebermaknaan pembelajaran, keberlanjutan dukungan, keterlibatan aktif masyarakat serta penghargaan terhadap keanekaragaman.
Melalui kerangka tersebut, sekolah reguler yang menerima ABK didorong mampu menerapkan prinsip pendidikan inklusif. Lingkungan belajar juga harus memberikan kesempatan kepada seluruh anak untuk berkembang sesuai potensi dan kebutuhannya.
“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo senantiasa mendukung berbagai program kegiatan ULD. Safari Inklusif merupakan program yang sangat baik dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan,” tambah Hary.
Ia berharap peningkatan kompetensi guru tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari.
“Penguatan kapasitas tersebut diharapkan menjadi fondasi terwujudnya layanan pendidikan yang inklusif, ramah dan memberikan kesempatan yang setara bagi setiap anak di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya.
Melalui Safari Inklusif, ULD Disdikdaya Kabupaten Probolinggo berupaya memastikan keberagaman peserta didik dapat direspons melalui layanan pendidikan yang tepat. Penguatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci agar sekolah mampu menciptakan ruang belajar yang ramah, adaptif dan setara bagi seluruh anak. (cit/fas)
Baca Juga :
.jpeg)