Dringu, Lensaupdate.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi dan otomatisasi membuat dunia kerja mengalami perubahan yang semakin cepat. Kondisi tersebut mendorong Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Probolinggo membekali mahasiswa dengan strategi karier agar lebih siap menghadapi persaingan dunia profesional.
Pembekalan tersebut disampaikan Kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo Saniwar saat memberikan bimbingan karier kepada sekitar 60 mahasiswa Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Panca Marga (UPM) Probolinggo, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan bertema “Membangun Keunggulan Kompetitif: Strategi Karier untuk Calon Insinyur dan Ahli IT Masa Depan” tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami perubahan kebutuhan dunia kerja sekaligus mempersiapkan kompetensi sebelum menyelesaikan pendidikan.
Materi yang diberikan tidak hanya membahas peluang kerja, tetapi juga kesiapan kompetensi, kemampuan beradaptasi, sertifikasi, pengalaman kerja, literasi digital hingga pengembangan jiwa kewirausahaan.
Saniwar mengatakan mahasiswa perlu mempersiapkan diri sejak masih berada di bangku kuliah. Menurutnya, ijazah saja tidak cukup untuk menjamin seseorang mampu memenangkan persaingan kerja di tengah perubahan teknologi.
“Intinya, setelah lulus dari UPM ini, pola pikirnya harus berubah. Jangan berpikir ketika lulus nanti harus bekerja sebagai pegawai negeri. Itu harus dihilangkan,” katanya.
Ia menjelaskan lulusan perguruan tinggi memiliki banyak pilihan dalam menentukan masa depan. Selain bekerja pada perusahaan maupun sektor industri, mereka dapat mengembangkan kompetensi yang dimiliki untuk membangun usaha secara mandiri.
Karena itu, mahasiswa didorong tidak hanya memikirkan bagaimana mendapatkan pekerjaan, tetapi juga berani menciptakan lapangan pekerjaan.
“Jangan hanya berpikir mencari lapangan pekerjaan baru, tetapi bagaimana menciptakan lapangan kerja baru,” jelasnya.
Saniwar menilai perkembangan AI menjadi salah satu tantangan yang harus dipahami calon lulusan. Teknologi tersebut dapat mengubah cara perusahaan menjalankan pekerjaan, kebutuhan keterampilan, hingga jenis pekerjaan yang tersedia.
Bagi mahasiswa Fakultas Teknik dan Informatika, perkembangan tersebut sekaligus membuka peluang untuk menciptakan inovasi dan layanan baru berbasis teknologi.
Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila mahasiswa memiliki kemampuan beradaptasi dan bersedia terus meningkatkan kompetensi.
“Perkembangan digitalisasi, otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) membuat dunia kerja terus berubah sehingga lulusan harus memiliki kemampuan beradaptasi,” terangnya.
Dalam bimbingan karier tersebut, mahasiswa juga diajak mengevaluasi kesesuaian kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan industri. Pengalaman magang, pelatihan, sertifikasi kompetensi dan kemampuan digital dinilai dapat menjadi nilai tambah ketika lulusan mulai memasuki proses rekrutmen.
Saniwar menegaskan dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki latar belakang pendidikan, tetapi juga mampu menunjukkan kemampuan yang dapat diterapkan secara langsung.
“Dunia kerja tidak menunggu kita siap. Yang dibutuhkan saat ini adalah kompetensi yang relevan, kemampuan beradaptasi, sertifikasi kompetensi, literasi digital dan jiwa kewirausahaan,” urainya.
Untuk memberikan gambaran mengenai kondisi pasar kerja daerah, Saniwar memaparkan data ketenagakerjaan Kabupaten Probolinggo tahun 2025.
Berdasarkan data tersebut, jumlah angkatan kerja pada Agustus 2025 mencapai 717.180 orang, meningkat sebanyak 39.051 orang dibandingkan Agustus 2024.
Sementara penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 696.246 orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 2,92 persen.
Dari struktur lapangan pekerjaan, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Kabupaten Probolinggo dengan kontribusi 42,51 persen. Selanjutnya sektor jasa menyerap 41,14 persen, sedangkan sektor manufaktur sebesar 16,35 persen.
Data tersebut menjadi salah satu gambaran yang perlu dipahami mahasiswa ketika menentukan arah karier. Saniwar meminta calon lulusan tidak terpaku pada lapangan pekerjaan yang sudah tersedia.
“Kondisi ini menjadi salah satu tantangan yang perlu dipahami calon lulusan ketika menentukan arah karier. Saya meminta agar mahasiswa tidak terpaku pada lapangan pekerjaan yang sudah tersedia, melainkan mampu membaca peluang dan menciptakan kegiatan ekonomi baru,” pintanya.
Selain perkembangan teknologi, Saniwar menyoroti sejumlah tantangan ketenagakerjaan yang perlu diantisipasi mahasiswa. Di antaranya ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri, dominasi pekerjaan informal, minimnya pengalaman kerja bagi lulusan baru, serta perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Karena itu, mahasiswa perlu memanfaatkan masa perkuliahan untuk membangun pengalaman dan portofolio. Pelatihan, magang, sertifikasi, organisasi maupun proyek yang relevan dengan bidang keahlian dapat menjadi modal ketika memasuki dunia kerja.
Disnaker Kabupaten Probolinggo juga memperkenalkan sejumlah dukungan pemerintah di bidang ketenagakerjaan. Program tersebut meliputi pelatihan berbasis Balai Latihan Kerja (BLK) dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), sertifikasi kompetensi, program magang, konsultasi karier hingga dukungan kewirausahaan.
“Pelatihan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan dan pengetahuan seseorang agar mampu mendapatkan pekerjaan, mempertahankan posisi sekaligus berkembang di dunia kerja,” ujarnya.
Disnaker juga mendorong mahasiswa untuk tidak takut mengambil jalur kewirausahaan. Menurut Saniwar, menjadi wirausahawan dapat menjadi alternatif karier sekaligus memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian.
Mahasiswa dapat mengembangkan gagasan dan kompetensi yang dimiliki menjadi produk maupun jasa yang memiliki nilai ekonomi. Khususnya di bidang teknik dan informatika, perkembangan teknologi memberikan banyak ruang untuk menciptakan usaha berbasis digital.
Kewirausahaan juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru, mendorong inovasi, meningkatkan pendapatan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya, teman-teman ini bisa menciptakan lapangan kerja, bukan hanya mencari lapangan pekerjaan sehingga nantinya bisa menjadi orang sukses di masyarakat,” tambahnya.
Untuk mendukung kesiapan tersebut, diperlukan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah dan dunia usaha. Kampus memiliki peran dalam menyiapkan kompetensi sekaligus mendorong mahasiswa berwirausaha.
Pemerintah dapat memperkuat dukungan melalui program pelatihan, sertifikasi, pendampingan dan kebijakan ketenagakerjaan. Sementara dunia usaha dapat berperan sebagai mitra dalam penyediaan lapangan kerja, magang dan pengembangan kompetensi.
Saniwar berharap mahasiswa yang mengikuti bimbingan karier tersebut tidak hanya membawa ijazah ketika lulus, tetapi juga memiliki kemampuan yang sesuai kebutuhan dunia kerja.
“Melalui kegiatan bimbingan karier ini para calon lulusan diharapkan tidak hanya membawa ijazah ketika memasuki dunia profesional. Mereka juga diharapkan memiliki kompetensi, pengalaman, kemampuan digital, sertifikasi serta keberanian membaca peluang,” ungkapnya.
Dengan bekal tersebut, lulusan perguruan tinggi di Kabupaten Probolinggo diharapkan mampu menghadapi perubahan dunia kerja dengan lebih siap. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan untuk bersaing memperoleh pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi dan membuka lapangan kerja baru.
Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, kesiapan beradaptasi menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda. Mahasiswa yang mampu menggabungkan kompetensi akademik, keterampilan praktis, literasi digital dan jiwa kewirausahaan akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun karier yang berkelanjutan. (yud/fas)
Baca Juga :
