Kraksaan, Lensaupdate.com - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) IPA SMP mengajak peserta didik mengenal sains melalui pengalaman langsung. Upaya tersebut diwujudkan melalui EksploraSains bertajuk “Satu Hari Jadi Ilmuwan Muda” di SAE Innovation & Creative Center (SICC) Kabupaten Probolinggo, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan ruang kepada siswa dalam mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan bereksperimen serta keberanian menghasilkan gagasan baru. Sebanyak 15 siswa dari lima sekolah mengikuti kegiatan yang memadukan pembelajaran sains dengan praktik secara langsung.
Kelima sekolah yang terlibat yakni SMPN 2 Kraksaan, SMP Al-Irsyad, SMP Taman Dewasa, SMP Ma’arif NU Kraksaan dan SMP Taruna Islam Al Kautsar.
Kegiatan EksploraSains turut dihadiri Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bapelitbangda Kabupaten Probolinggo Fandhi Putra, Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Like Lidyawati serta Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Probolinggo Hesthiyono Suko Adi.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Like Lidyawati mengatakan pembelajaran sains seharusnya tidak hanya berlangsung melalui teori di ruang kelas. Menurutnya, siswa perlu mendapatkan kesempatan untuk menguji pengetahuan melalui percobaan dan mengamati secara langsung proses yang terjadi.
“Pembelajaran sains perlu memberikan ruang kepada siswa untuk mencoba, mengamati, menemukan solusi dan menghasilkan karya. Sekolah agar bergantian memanfaatkan gedung SICC sebagai tempat untuk menuangkan ajang talenta bagi siswa-siswinya,” katanya.
Melalui konsep “Satu Hari Jadi Ilmuwan Muda”, para peserta diajak menjelajahi berbagai zona interaktif yang menampilkan sejumlah proyek inovasi sains. Tiga zona tersebut memperkenalkan karya yang telah dikembangkan guru pembimbing bersama peserta didik dari sejumlah sekolah di Kabupaten Probolinggo.
Pada Zona A, peserta mengenal Dabar Oil, sebuah inovasi berupa ekstrak daun bawang merah yang dikembangkan sebagai alternatif minyak penyedap makanan. Proyek tersebut merupakan hasil karya SMPN 1 Dringu dan SMPN 1 Tongas dengan guru pembimbing Retno Irawati dan Yenni Kurniati.
Kemudian Zona B menghadirkan Liliac Jantah, inovasi yang memanfaatkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapis bawang merah. Karya tersebut dikembangkan SMPN 1 Dringu dengan guru pembimbing Anggarini Dian P.
Sementara itu, Zona C menampilkan sejumlah alat peraga sains karya SMPN 1 Kraksaan. Di antaranya model peraga DNA, alat peraga pompa hidrolik serta eksperimen electricity generation statis menggunakan buah jeruk.
Berbagai karya tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa konsep sains yang dipelajari di sekolah dapat dikembangkan menjadi eksperimen dan produk inovatif. Siswa juga mendapat kesempatan mengamati cara kerja alat serta memahami konsep di balik setiap proyek.
Like menjelaskan, EksploraSains tidak sekadar bertujuan mengenalkan teori sains kepada peserta. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas dan keberanian siswa dalam mencoba sesuatu yang baru.
“Untuk para pelajar dari PAUD, SD dan SMP agar terus berlatih dan bereksperimen dalam segala kemampuan yang dimilikinya,” jelasnya.
Agar aktivitas berjalan terarah, setiap peserta memperoleh Science Passport sebagai panduan mengikuti berbagai kegiatan. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang melakukan rotasi setiap 10 menit dari satu zona ke zona berikutnya.
Sistem tersebut membuat seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengikuti setiap aktivitas sekaligus menjaga kelancaran kegiatan. Aspek keselamatan juga menjadi perhatian selama pelaksanaan eksperimen.
Like menjelaskan, penggunaan sejumlah peralatan seperti kompor Bunsen dan spiritus dilakukan di bawah pengawasan pendamping. Ventilasi ruangan juga diperhatikan untuk memastikan kegiatan eksperimen berlangsung dengan aman dan sesuai prosedur.
“Aspek keselamatan dan kesehatan kerja turut menjadi perhatian. Penggunaan alat pemanas seperti kompor Bunsen dan spiritus dilakukan dengan pengawasan pendamping serta memperhatikan ventilasi ruangan,” terangnya.
Menurut Like, beberapa inovasi yang diperkenalkan dalam EksploraSains memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang bernilai ekonomi. Dabar Oil dan Liliac Jantah, misalnya, dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan melalui program Sciencepreneurship di lingkungan sekolah.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat menghubungkan pembelajaran sains dengan kreativitas dan kewirausahaan. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar menemukan solusi terhadap suatu persoalan, tetapi juga mulai mengenal bagaimana sebuah inovasi dapat dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat.
Like berharap EksploraSains tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali. Ia mendorong agar program tersebut dapat dikembangkan menjadi agenda berkala dengan melibatkan lebih banyak sekolah di Kabupaten Probolinggo.
“Harapannya EksploraSains tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi dapat menjadi agenda berkala dengan melibatkan lebih banyak sekolah di Kabupaten Probolinggo. Anak-anak kita punya banyak kemampuan yang harus terus dipupuk dan didukung agar selalu berani menuangkan ide dan kreasi,” tegasnya.
Menurutnya, pengembangan potensi peserta didik membutuhkan dukungan bersama. Orang tua dan masyarakat memiliki peran penting dalam memberikan ruang serta dorongan agar anak berani mengeksplorasi minat dan kemampuannya.
Kemajuan pendidikan, lanjut Like, tidak cukup hanya dilihat dari pencapaian akademik. Sekolah juga perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, inovasi dan kemampuan memecahkan masalah.
“Harus ada dorongan terbaik agar pendidikan di Kabupaten Probolinggo semakin maju dan berkembang, baik dari sisi akademik maupun nonakademik,” pungkasnya.
EksploraSains “Satu Hari Jadi Ilmuwan Muda” menjadi salah satu upaya memperkenalkan pembelajaran sains yang lebih aktif dan aplikatif. Melalui eksperimen, eksplorasi dan karya inovasi, siswa diharapkan semakin percaya diri mengembangkan ide sekaligus melihat sains sebagai bidang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (nab/zid)
Baca Juga :
Kabupaten Pasuruan Pelajari Inovasi Multigrade, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Tunjukkan Praktik Baik 186 Sekolah
