Kraksaan, Lensaupdate.com - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo terus mengembangkan program literasi yang mengikuti perkembangan teknologi. Salah satunya melalui pelatihan robotik dan mini workshop yang melibatkan 50 siswa SMPN 1 Kraksaan di SAE Innovative Creative Centre (SICC), Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang bekerja sama dengan Robotku School Probolinggo tersebut menjadi bagian dari Program Sekolah Literasi. Para pelajar tidak hanya diajak memahami teknologi secara teori, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik dengan mengenal komponen, merakit dan mengoperasikan robot.
Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas mengatakan konsep literasi saat ini telah berkembang seiring kemajuan teknologi. Kemampuan membaca dan menulis perlu diimbangi dengan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah serta kemampuan beradaptasi.
“Literasi itu tidak hanya membaca buku, tetapi bagaimana anak-anak mampu mendapatkan pengetahuan, mengolahnya, kemudian menerapkannya. Melalui robotik ini, kami ingin siswa mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mengenal teknologi,” ujarnya.
Menurut Ulfiningtyas, pembelajaran robotik memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui proses mencoba dan menemukan solusi. Ketika terjadi kesalahan dalam perakitan atau pemrograman, siswa didorong untuk mencari penyebab dan memperbaikinya.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak. Ketika mereka mencoba merakit sesuatu, kemudian menemukan kendala dan mencari cara agar robot bisa bekerja, di situlah proses berpikir kritis dan kreativitas mereka berkembang,” jelasnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan dasar mekanika robot, mulai dari rangka, roda hingga gear. Mereka juga mempelajari komponen elektronika seperti kabel, baterai dan sensor yang berfungsi membaca kondisi lingkungan.
Tidak berhenti pada perangkat keras, peserta juga mendapat pengenalan dasar pemrograman atau coding. Materi tersebut membantu siswa memahami bagaimana perangkat lunak dapat digunakan untuk memberikan perintah sehingga robot mampu bergerak atau memberikan respons tertentu.
Ulfiningtyas menjelaskan pembelajaran robotik juga mendorong kemampuan kolaborasi. Para siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan selama pelatihan. Proses tersebut melatih komunikasi sekaligus membangun kebiasaan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
“Anak-anak belajar bahwa ketika ada sesuatu yang tidak berhasil, mereka tidak langsung menyerah. Mereka harus mencoba lagi, mencari penyebabnya dan menemukan solusinya. Inilah semangat yang ingin kami tumbuhkan melalui Sekolah Literasi,” tuturnya.
Menurutnya, literasi berbasis teknologi merupakan bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan zaman. Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat memperoleh bahan bacaan, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan, kreativitas dan teknologi.
Dispersip Kabupaten Probolinggo berharap pelatihan serupa dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak sekolah. Dengan demikian, semakin banyak pelajar memperoleh kesempatan mengenal teknologi melalui kegiatan yang edukatif dan menyenangkan.
“Semoga dari kegiatan ini muncul anak-anak yang memiliki minat terhadap teknologi dan terus mengembangkan kemampuannya. Kami ingin perpustakaan dan program literasi menjadi ruang belajar yang terbuka, kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman,” pungkasnya.
Melalui Program Sekolah Literasi, Dispersip Kabupaten Probolinggo berupaya memperluas makna literasi agar tidak hanya berorientasi pada budaya membaca, tetapi juga kemampuan menciptakan, berinovasi dan memanfaatkan teknologi secara positif. Dengan pendekatan tersebut, pelajar diharapkan tumbuh menjadi generasi yang kreatif, adaptif dan siap menghadapi tantangan masa depan. (nab/zid)
Baca Juga :
