Bupati Haris dan Guru Besar IPB Bahas Pengembangan Pesantren Mandiri Pangan


Kraksaan, Lensaupdate.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo membuka peluang penguatan sektor pertanian melalui kolaborasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Salah satu fokus kerja sama tersebut adalah pengembangan model pesantren mandiri pangan dengan memanfaatkan potensi lahan, sumber daya manusia dan teknologi pertanian.

Hal itu dibahas saat Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menerima audiensi rombongan Guru Besar IPB dalam rangka Program Dosen Pulang Kampung 2026 di Kabupaten Probolinggo, Jumat (14/8/2026).

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah daerah, pondok pesantren, kelompok tani dan masyarakat untuk mengembangkan pertanian yang produktif sekaligus berkelanjutan.

Rombongan IPB dipimpin Prof. Dr. Ir. Abdul Munif bersama Prof. Dr. Ir. Hari Wijayanto, M.Si., Prof. Dr. Ir. Elis Nina Herliyana, M.Si. dan Dr. Ir. Yudiwanti Wahyu EK., MS.

Program yang diperkenalkan dalam audiensi tersebut mengusung tema “Model Pesantren Mandiri Pangan melalui Pembelajaran Pertanian Berbasis Alam di Kabupaten Probolinggo.” Konsep ini diarahkan untuk menjadikan lingkungan pesantren sebagai ruang pembelajaran sekaligus pengembangan kegiatan pertanian.

Dalam program tersebut, IPB juga memperkenalkan sejumlah pendekatan pertanian yang dapat diterapkan sesuai kondisi daerah. Salah satunya pemanfaatan pupuk organik dan biopestisida sebagai alternatif dalam penerapan pertanian sehat.

Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar lingkungan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan upaya mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Pesantren dapat menjadi tempat pembelajaran bagi santri untuk mengenal proses produksi pangan sekaligus memahami pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan.

Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menyambut positif kehadiran para akademisi IPB. "Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membantu pemerintah daerah mempercepat pembangunan melalui ilmu pengetahuan, teknologi dan pendampingan," katanya.

Lebih lanjut Bupati Haris menilai pesantren memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Keberadaan lahan di lingkungan pesantren dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif dengan dukungan teknologi yang tepat.

“Kami menilai pesantren mempunyai potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat pemberdayaan masyarakat, termasuk di sektor pertanian. Lahan yang tersedia di lingkungan pesantren dapat dimanfaatkan secara produktif dengan dukungan teknologi dan pendampingan yang tepat,” lanjutnya.

Menurutnya, pengembangan pertanian di lingkungan pesantren juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan sekaligus mempersiapkan generasi muda agar memiliki keterampilan di luar bidang keagamaan.

Pesantren tidak hanya diharapkan menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga dapat melahirkan generasi yang memiliki kemampuan mengelola potensi ekonomi di lingkungannya.

“Pengembangan pertanian di lingkungan pesantren juga dapat menjadi bagian dari upaya regenerasi petani. Generasi muda perlu diberikan pemahaman bahwa pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional, melainkan sektor strategis yang dapat dikembangkan menjadi profesi sekaligus sumber ekonomi,” jelasnya.

Bupati Haris menekankan pentingnya keberlanjutan program. Ia berharap kolaborasi dengan IPB tidak berhenti pada kegiatan audiensi atau penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan secara langsung.

“Harapannya ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Kita ingin ada pendampingan dan kolaborasi yang berkelanjutan, sehingga ilmu dan teknologi yang dimiliki IPB bisa benar-benar diterapkan di Kabupaten Probolinggo,” tegasnya.

Ketua Tim Guru Besar IPB Prof. Dr. Ir. Abdul Munif mengatakan Program Dosen Pulang Kampung merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat melalui transfer pengetahuan dan teknologi.

Menurut Munif, Kabupaten Probolinggo memiliki potensi untuk mengembangkan model pesantren mandiri pangan karena pesantren mempunyai modal sosial yang kuat dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Kami bermaksud memberikan gambaran tentang pentingnya ketahanan pangan, kemandirian pangan dan regenerasi petani. Pesantren sangat potensial menjadi pionir karena memiliki kedekatan dengan masyarakat,” ungkapnya.

Munif menjelaskan, penerapan konsep pertanian di pesantren tidak harus dimulai dengan lahan yang luas. Setiap pesantren dapat mengembangkan kegiatan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki.

Lahan terbatas pun tetap dapat dimanfaatkan melalui teknologi dan metode pertanian yang sesuai. Dengan pendekatan tersebut, santri dapat memperoleh pengalaman praktis sekaligus memahami peluang ekonomi sektor pertanian.

“Kami berharap para santri mulai melihat sektor pertanian sebagai bidang yang memiliki prospek ekonomi. Dengan penguasaan ilmu dan teknologi, pertanian tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga dapat membuka peluang usaha baru bagi generasi muda,” terangnya.

Dalam audiensi tersebut, IPB juga menyerahkan sertifikat apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Probolinggo sebagai mitra dalam Program Dosen Pulang Kampung 2026.

Penyerahan sertifikat menjadi bentuk penghargaan atas dukungan Pemkab Probolinggo dalam pelaksanaan program yang mempertemukan unsur akademisi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kegiatan pertanian di lingkungan pesantren, tetapi berkembang menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di wilayah lain.

Pengembangan pesantren mandiri pangan juga berpotensi memberikan manfaat lebih luas, mulai dari peningkatan keterampilan santri, penguatan ketahanan pangan, regenerasi petani hingga terbukanya peluang usaha baru.

Melalui sinergi Pemkab Probolinggo dan IPB, pesantren diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Konsep pertanian berbasis alam di lingkungan pesantren menjadi salah satu langkah untuk menghubungkan pendidikan, ketahanan pangan, teknologi dan pemberdayaan generasi muda dalam satu ekosistem. (nab/zid)

Guru Juga :