Banyuanyar, Lensaupdate.com - Literasi di sekolah tidak berhenti ketika siswa selesai membaca sebuah cerita. Kemampuan memahami isi bacaan, menemukan konflik, merangkum gagasan hingga menyampaikannya kembali menjadi bagian penting agar literasi berubah menjadi keterampilan yang benar-benar digunakan.
Pendekatan tersebut diterapkan dalam pembekalan seni tutur dan literasi bagi siswa SMP Negeri 1 Banyuanyar bersama Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo Hesthiyono Suko Adhi, Selasa (29/9/2026).
Puluhan siswa mengikuti kegiatan yang diarahkan pada kemampuan mendongeng sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah. Salah satu kemampuan yang ditekankan adalah menyusun sinopsis sebelum sebuah cerita dibawakan di hadapan penonton.
Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo Hesthiyono Suko Adhi mengatakan kemampuan mendongeng tidak cukup dibangun melalui hafalan teks. Siswa perlu memahami cerita yang akan disampaikan.
“Saya mengajak siswa memahami bahwa kemampuan mendongeng tidak hanya bergantung pada hafalan naskah, tetapi juga pada pemahaman terhadap alur dan konflik cerita,” ujarnya.
Menurut Hesthiyono, sinopsis menjadi salah satu fondasi agar siswa memahami struktur cerita secara lebih sederhana.
“Semua bermula dari sinopsis atau ringkasan cerita,” jelasnya.
Melalui latihan tersebut, siswa diarahkan menyusun alur cerita yang mudah dipahami dan diingat. Mereka juga diajak mengenali konflik yang mampu menarik perhatian sejak awal, sekaligus mengatur komposisi antara narasi dan dialog.
Pelatihan menggunakan dua contoh cerita sebagai bahan praktik. Pertama, kisah persahabatan anak dan penjaga alam dalam “Kode Hijau Alas Simpenan”. Kedua, legenda lokal tentang asal-usul nama Desa Klenang yang memanfaatkan unsur tiruan bunyi gamelan, seperti “Ning....Nong....Klennang....Klennong”.
Dari dua cerita tersebut, siswa berlatih memadatkan narasi menjadi sinopsis. Tujuannya bukan membuat siswa menghafal seluruh cerita kata demi kata, melainkan memahami rangkaian peristiwa sehingga dapat tetap bercerita ketika berada di atas panggung.
“Kunci sinopsis yang baik adalah alur yang mengalir dan konflik yang jelas. Dengan begitu, jika di panggung kita lupa teks, alur cerita tetap terjaga dan kita mampu berimprovisasi dengan tenang,” tuturnya.
Tahapan berikutnya menyentuh kemampuan tampil. Siswa mendapatkan materi performa panggung dan teknik vokal melalui konsep olah suara 5P, yakni Pace, Pause, Pitch, Projection dan Pronunciation.
“Melalui latihan ini siswa mempraktikkan pengaturan tempo berbicara, penggunaan jeda dramatis, pengaturan nada, proyeksi suara hingga artikulasi. Para siswa juga diajak melakukan latihan vokal secara bersama-sama untuk membangun keberanian dan mengurangi rasa kaku ketika tampil di depan publik,” terangnya.
Kemampuan bertutur juga tidak hanya bergantung pada suara. Mimik wajah, gestur dan postur tubuh turut diperkenalkan agar penyampaian cerita lebih hidup. Penggunaan properti juga diarahkan secara proporsional agar mendukung cerita tanpa mengganggu gerak penutur.
Pada bagian akhir, siswa dan guru pendamping diperkenalkan dengan sejumlah komponen penilaian dalam lomba bertutur atau mendongeng. Aspek tersebut mencakup penampilan, teknik bertutur, penguasaan materi, atribut pendukung, improvisasi, blocking panggung hingga integrasi nilai karakter 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Melalui pelatihan ini, kemampuan literasi siswa diarahkan tidak berhenti pada aktivitas membaca. Siswa juga didorong mampu memahami isi cerita, merangkumnya menjadi gagasan yang utuh dan mengomunikasikannya dengan percaya diri,” tambahnya.
Kepala SMPN 1 Banyuanyar Suparno mengatakan kecakapan literasi saat ini perlu dikembangkan melampaui kemampuan membaca secara pasif. Siswa juga perlu memiliki kemampuan menyerap nilai dari cerita, mengolahnya menjadi gagasan dan menyampaikannya kembali kepada orang lain.
“Kolaborasi antara sekolah dan Pustakawan Dispersip Kabupaten Probolinggo melalui kegiatan seni bertutur ini menjadi bagian dari upaya memperluas praktik literasi yang kreatif, komunikatif dan dekat dengan potensi siswa,” pungkasnya.
Melalui mendongeng, proses literasi sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk berlatih berpikir runtut dan berbicara di depan publik. Mereka membaca untuk memahami, merangkum untuk mengolah informasi, kemudian bertutur untuk mengomunikasikan kembali apa yang dipahaminya. (riz/zid)
Baca Juga :
