Kraksaan, Lensaupdate.com - Literasi di Kabupaten Probolinggo mulai diarahkan tidak hanya pada kebiasaan membaca buku. Masyarakat juga didorong mampu mengolah pengetahuan menjadi kreativitas, memahami informasi hingga mengenali perjalanan sejarah daerah.
Pesan tersebut mengemuka dalam Festival Literasi 2.0 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo di Kantor Dispersip Kabupaten Probolinggo, Selasa (22/9/2026).
Mengusung tema “Literasi Membumi, Probolinggo Mandiri: Merajut Budaya Baca Menuju Masyarakat Kabupaten Probolinggo SAE,” festival tersebut mempertemukan pelajar, masyarakat, komunitas dan pegiat literasi dalam berbagai kegiatan.
Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris bersama Wakil Bupati Fahmi AHZ, Sekretaris Daerah Ugas Irwanto, Ketua TP PKK sekaligus Bunda Literasi Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris serta Kepala Dispersip Ulfiningtyas turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Usai membuka festival, Bupati Haris melihat langsung sejumlah stand yang menampilkan program dan karya literasi. Salah satu yang menarik perhatian adalah dokumentasi foto sejarah dan arsip lama Kabupaten Probolinggo, termasuk rekaman perjalanan daerah pada masa pemerintahan Banger di era kolonial Belanda.
Keberadaan arsip tersebut memperlihatkan bahwa literasi juga dapat menjadi pintu untuk mengenali identitas dan perjalanan sebuah daerah.
“Literasi bukan hanya tentang membaca buku. Literasi adalah bagaimana masyarakat mendapatkan pengetahuan, memahami informasi dan kemudian mampu menggunakannya untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Karena itu, gerakan literasi harus terus kita dorong bersama,” ujar Haris.
Menurutnya, perpustakaan juga perlu berkembang menjadi ruang belajar dan kreativitas. Fungsinya tidak sebatas tempat menyimpan koleksi buku, tetapi menjadi ruang masyarakat untuk belajar, berkegiatan dan menghasilkan karya.
Bunda Literasi Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari Moh. Haris turut mengajak masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda, membangun kebiasaan membaca dengan cara yang menyenangkan.
“Membaca itu asyik. Dari membaca kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan, membuka wawasan dan kemudian mengembangkan kreativitas. Karena itu, budaya membaca harus terus kita tumbuhkan, terutama kepada anak-anak dan generasi muda,” ungkapnya.
Menurut Ning Marisa, budaya literasi tidak dapat dibangun oleh satu pihak. Keluarga, sekolah, pemerintah, perpustakaan, komunitas dan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca.
Ragam kegiatan Festival Literasi 2.0 juga menunjukkan upaya memperluas bentuk literasi. Peserta mengikuti Membaca Nyaring (Read Aloud) Outdoor, Sekolah Literasi Melukis Menggunakan Ampas Kopi, pelatihan konten kreator bagi penyandang disabilitas hingga Wisata Perpustakaan.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa literasi dapat dikembangkan melalui berbagai medium, selama mampu mendorong masyarakat belajar dan berkarya.
Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas mengatakan festival tersebut menjadi bagian dari Gerakan Kabupaten Probolinggo Membaca.
“Festival Literasi 2.0 ini kami hadirkan sebagai ruang bersama untuk menggerakkan budaya membaca sekaligus memberikan ruang kepada masyarakat untuk berkreativitas. Kami ingin literasi hadir lebih dekat dengan masyarakat, tidak hanya melalui buku, tetapi juga melalui kegiatan yang edukatif, kreatif dan menyenangkan,” jelasnya.
Festival juga menjadi momentum memberikan apresiasi kepada pelajar dan pengelola perpustakaan yang berprestasi. Di antaranya pemenang Lomba Perpustakaan Desa, Lomba Bertutur, Lomba Resensi Buku dan Lomba Video Konten Literasi.
Penghargaan juga diberikan kepada Bunda Literasi teraktif dalam pendampingan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial serta perangkat daerah dengan capaian pengawasan kearsipan internal.
Ulfiningtyas berharap semangat tersebut tidak berhenti ketika festival berakhir.
“Harapan kami, apa yang dilakukan hari ini tidak berhenti setelah festival selesai. Budaya membaca harus terus dilanjutkan dan menjadi kebiasaan. Perpustakaan juga harus terus hadir sebagai ruang belajar, berkarya dan berinteraksi bagi masyarakat,” tambahnya.
Dengan demikian, gerakan literasi di Kabupaten Probolinggo tidak hanya berbicara mengenai jumlah buku yang dibaca. Lebih jauh, literasi diarahkan menjadi proses untuk memperluas wawasan, melahirkan kreativitas, memahami informasi serta mengenali sejarah dan lingkungan sekitar.
Dari buku hingga arsip sejarah, dari bertutur hingga membuat konten, Festival Literasi 2.0 menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa budaya membaca dapat berkembang menjadi budaya belajar dan berkarya. (nab/zid)
Baca Juga :
.jpeg)