Petani Kabupaten Probolinggo Perkuat Pertanian Organik Hadapi Ancaman Perubahan Iklim


TEGALSIWALAN – Ancaman perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem dan meningkatnya serangan hama kini menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian. Menjawab kondisi tersebut, Komunitas Regu Pengendali Hama Penyakit Tumbuhan (RPHPT) Bayu Perkasa Kabupaten/Kota Probolinggo menggelar Seduluran Organik Probolinggo (SOP) ke-2 sebagai ruang belajar sekaligus memperkuat kolaborasi petani dalam mengembangkan pertanian organik yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung di PPAH "Sumber Jaya", Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Rabu (5/8/2026), berhasil menarik perhatian lebih dari 175 peserta dari berbagai daerah. Selain petani dari Kabupaten dan Kota Probolinggo, peserta juga datang secara mandiri dari Lumajang, Jember hingga Pasuruan. Antusiasme tersebut menunjukkan semakin besarnya kesadaran petani terhadap pentingnya inovasi pertanian ramah lingkungan di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.

Forum ini juga dihadiri perwakilan UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur, Laboratorium Pandaan Pasuruan, Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Probolinggo, Camat Tegalsiwalan Hariyanto, Kepala Desa Banjarsawah, penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta para pegiat pertanian organik.

Mengangkat tema "Keanekaragaman Hayati dalam Menyikapi Perubahan Iklim", kegiatan ini membahas berbagai strategi mempertahankan produktivitas pertanian melalui pemanfaatan sumber daya hayati. Perubahan pola musim yang tidak menentu dinilai meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman, sehingga petani dituntut menerapkan metode budidaya yang lebih adaptif dan ramah lingkungan.

Ketua Pelaksana SOP ke-2, Suharsono, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari semangat gotong royong para pegiat pertanian organik untuk berbagi ilmu dan pengalaman tanpa bergantung pada program tertentu.

Menurutnya, seluruh biaya yang dibayarkan peserta dikembalikan dalam bentuk manfaat berupa materi pelatihan, relasi, konsumsi, suvenir hingga doorprize.

"Peserta membayar Rp25 ribu dan seluruhnya dikembalikan dalam bentuk ilmu, relasi, doorprize, suvenir dan konsumsi. Alhamdulillah antusiasme peserta sangat luar biasa," katanya.

Semangat kolaborasi tersebut mendapat apresiasi dari Koordinator Jabatan Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur, Agus Riyadi. Ia menegaskan bahwa perubahan iklim tidak bisa dihadapi dengan cara-cara lama, melainkan membutuhkan inovasi berbasis ekologi.

Menurut Agus, penerapan pengendalian hama terpadu, pelestarian musuh alami, pemanfaatan agens hayati, hingga peningkatan kapasitas petugas dan petani merupakan langkah strategis untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.

"Semoga melalui kegiatan SOP ini lahir berbagai gagasan, pengalaman dan rekomendasi yang dapat memperkuat strategi adaptasi sektor pertanian terhadap fenomena iklim dengan tetap menjaga kelestarian keanekaragaman hayati demi mendukung swasembada pangan," ujarnya.

Salah satu materi yang paling menarik perhatian peserta disampaikan oleh pakar fitopatologi Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Dr. Roosmarrani Setiawati, yang mengulas manfaat mikoriza bagi pertanian modern.

Ia menjelaskan bahwa mikoriza merupakan jamur baik yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman dan memiliki banyak fungsi penting bagi pertumbuhan tanaman.

"Mikoriza memiliki banyak fungsi penting, mulai sebagai bioprotektor yang melindungi tanaman, biofertilizer yang meningkatkan pertumbuhan tanaman, bioprosesor yang membantu penyerapan unsur hara, bioaktivator yang meningkatkan simpanan karbon hingga bioagregator yang memperbaiki struktur tanah," terangnya.

Teori tersebut kemudian diperkuat melalui praktik lapangan yang dipandu pegiat pertanian organik PPAH "Sumber Jaya", Budiono. Ia menunjukkan secara langsung tanaman jagung yang menggunakan mikoriza memiliki sistem perakaran lebih kuat dan mampu menembus tanah hingga lebih dari satu meter.

Menurut Budiono, akar yang lebih panjang membuat tanaman lebih mudah menyerap air dan unsur hara, sehingga tetap mampu bertahan saat musim kemarau panjang maupun ketika curah hujan tidak menentu.

"Ini bukti peran mikoriza dalam sistem perakaran. Akar menjadi lebih lebat dan panjang sehingga mampu menyerap nutrisi dan air lebih baik, terutama saat musim kemarau panjang akibat perubahan iklim," jelasnya.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta sepakat menjadikan Seduluran Organik Probolinggo sebagai agenda tahunan. Forum ini diharapkan terus berkembang menjadi pusat berbagi inovasi, memperkuat jejaring petani organik, sekaligus mendorong lahirnya teknologi ramah lingkungan yang mampu menjaga keanekaragaman hayati, meningkatkan ketahanan pangan, dan memperkuat masa depan pertanian berkelanjutan di Probolinggo. (yud/fas)