BPBD Kabupaten Probolinggo Petakan 19 Desa Rawan Kekeringan untuk Distribusi Air Bersih


Probolinggo, Lensaupdate.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mulai memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih selama musim kemarau. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sesuai kondisi di lapangan.

Berdasarkan hasil pemetaan awal, terdapat 16 dusun yang tersebar di 19 desa dan menjadi perhatian BPBD Kabupaten Probolinggo. Wilayah tersebut berada di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Tiris, Banyuanyar, Tegalsiwalan, Wonomerto, Leces, Kuripan dan Tongas.

Pemetaan menjadi salah satu langkah antisipasi BPBD untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan dukungan distribusi air bersih. Kondisi geografis dan ketersediaan sumber air menjadi perhatian dalam menentukan prioritas penanganan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan kebutuhan air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus dipastikan ketersediaannya, terutama ketika memasuki musim kemarau.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat yang memang harus terpenuhi, sehingga di musim yang kering ini menjadi perhatian kami,” katanya.

Oemar menjelaskan sejumlah desa yang masuk dalam pemantauan BPBD antara lain Desa Paras, Tegalsono, Tegalwatu, Rejing, Tulupari dan Sumberkramat. Desa-desa tersebut menjadi bagian dari wilayah yang dipantau terkait potensi kekurangan pasokan air bersih.

“BPBD dalam mengatasi kekeringan ini sudah mulai memetakan beberapa desa yang menjadi atensi kami dalam hal mengatasi kekurangan air bersih di masyarakat,” jelasnya.

Menurut Oemar, pemetaan diperlukan agar penanganan tidak dilakukan secara sporadis. Data wilayah terdampak akan menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan bantuan serta menentukan lokasi yang perlu mendapatkan prioritas apabila kondisi kekurangan air bersih semakin meluas.

Selain melakukan pemetaan, BPBD Kabupaten Probolinggo juga terus memantau perkembangan kondisi di lapangan. Pemantauan dilakukan untuk melihat perubahan ketersediaan sumber air serta kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.

“Pemetaan wilayah menjadi bagian penting dalam upaya BPBD mengantisipasi dampak kekeringan. Dengan mengetahui desa-desa yang menjadi prioritas, penanganan terhadap kebutuhan air bersih masyarakat dapat dilakukan secara lebih terarah,” terangnya.

Kondisi kekurangan air bersih berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari kebutuhan minum, memasak hingga kebutuhan sanitasi. Karena itu, pemerintah daerah melalui BPBD terus menyiapkan langkah penanganan sesuai hasil asesmen di lapangan.

Oemar menegaskan BPBD akan terus melakukan pemantauan terhadap desa-desa yang telah masuk dalam daftar perhatian maupun wilayah lain yang berpotensi mengalami dampak kekeringan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan akses air bersih dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan.

“Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi perhatian selama musim kemarau,” pungkasnya. (mel/fas)

Baca Juga :