Petani Krejengan Pelajari Trichoderma untuk Lindungi Tembakau dari Penyakit


Krejengan, Lensaupdate.com - Sekitar 30 anggota Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) se-Kecamatan Krejengan mengikuti pelatihan perbanyakan jamur Trichoderma sp di Desa Patemon Kecamatan Krejengan, Kamis (4/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam mencegah serangan penyakit tular tanah pada tanaman tembakau melalui pemanfaatan agen hayati yang ramah lingkungan.

Pelatihan menghadirkan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya Ika Ratmawati dan POPT Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Kamaluddin Harahap. Para peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung perbanyakan Trichoderma sp menggunakan media jagung giling.

Petugas POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menjelaskan Trichoderma sp merupakan jamur antagonis yang efektif menekan perkembangan patogen penyebab penyakit tular tanah pada tanaman tembakau.

“Penggunaan agen hayati ini efektif untuk mencegah penyakit seperti layu fusarium dan busuk batang, terutama jika diaplikasikan sejak awal masa tanam di persemaian maupun saat pindah tanam ke lahan. Jamur Trichoderma ini ibarat imunisasi untuk keamanan tanah dan tanaman tembakau,” ujarnya.

Sementara POPT Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Kamaluddin Harahap menekankan pentingnya proses sterilisasi media tanam dan teknik penyimpanan yang tepat agar kualitas jamur yang dihasilkan tetap optimal.

“Penggunaan media yang steril serta kondisi penyimpanan yang lembab akan mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan kualitas jamur Trichoderma yang dihasilkan petani,” ungkapnya.

Koordinator PPL Kecamatan Krejengan Muhammad Mustajib mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong petani lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan sarana produksi pertanian berbasis hayati.

“Kegiatan ini akan kami dorong menjadi agenda rutin bulanan agar petani tidak hanya belajar, tetapi juga mampu memproduksi sendiri kebutuhan sarana pertanian berbasis hayati,” katanya.

Ketua KTNA Kecamatan Krejengan Imam Wahyudi mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan solusi terhadap persoalan yang sering dihadapi petani tembakau, khususnya serangan penyakit setelah tanaman dipindahkan ke lahan.

“Kami sangat terbantu dengan pelatihan ini karena saat musim tanam tembakau, banyak petani mengeluhkan tanaman mudah layu setelah pindah tanam. Melalui praktik ini, kami mendapatkan solusi yang dapat langsung diterapkan di lapangan,” tuturnya.

Melalui pelatihan ini, petani di Kecamatan Krejengan diharapkan mampu mengembangkan teknologi pertanian yang lebih ramah lingkungan, menekan penggunaan bahan kimia serta meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman tembakau secara berkelanjutan. (nab/zid)