Sukapura, Lensaupdate.com - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat implementasi pembelajaran berbasis kearifan lokal sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Tengger di lingkungan pendidikan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui workshop dan pendampingan pembelajaran berbasis kearifan lokal yang digelar bekerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di SMP Negeri 1 Sukapura, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan yang diikuti kepala sekolah dan perwakilan guru SD serta SMP se-Kecamatan Sukapura ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Yadnya Kasada 2026 sekaligus upaya mendorong penguatan budaya lokal dalam proses pembelajaran di sekolah.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Akh. Arief Hermawan mengatakan pembelajaran berbasis kearifan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya daerah sekaligus memperkuat karakter peserta didik.
“Workshop dan pendampingan pembelajaran berbasis kearifan lokal ini merupakan rangkaian dari kegiatan Yadnya Kasada yang kami laksanakan bersama Universitas Negeri Yogyakarta. Kegiatan ini sebagai langkah memperkuat implementasi budaya lokal dalam proses pembelajaran,” katanya.
Menurut Arief, sekolah menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda sehingga pelestarian budaya tidak hanya dilakukan oleh komunitas adat, tetapi juga melalui dunia pendidikan.
“Kegiatan ini adalah upaya kita untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan, khususnya budaya Tengger kepada generasi muda melalui dunia pendidikan. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menegaskan bahwa salah satu strategi pemajuan kebudayaan dilakukan melalui jalur pendidikan,” jelasnya.
Arief berharap para guru mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya Tengger ke dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki pemahaman, kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya daerahnya.
“Melalui workshop dan pendampingan ini kami ingin para pendidik mampu mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, dekat dengan kehidupan peserta didik dan berakar pada budaya daerahnya sendiri. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas budaya, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan di sekolah,” pungkasnya. (put/zid)
