Idul Adha 1447 Hijriyah di Kabupaten Probolinggo Dorong Perputaran Ekonomi Peternakan Capai Rp 25,3 Miliar


Dringu, Lensaupdate.com - Momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah menjadi berkah tersendiri bagi sektor peternakan di Kabupaten Probolinggo. Tingginya antusiasme masyarakat dalam melaksanakan ibadah kurban mendorong perputaran ekonomi yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 25,3 miliar.

Data Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo mencatat sebanyak 3.899 ekor ternak dipotong selama pelaksanaan Idul Adha hingga berakhirnya hari tasyrik. Ribuan ternak tersebut tersebar di 184 titik pemotongan hewan kurban yang berada di berbagai kecamatan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Diperta Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto mengatakan jumlah ternak kurban yang tinggi menunjukkan besarnya partisipasi masyarakat sekaligus menggambarkan kuatnya aktivitas ekonomi yang terjadi selama perayaan Idul Adha.

“Berdasarkan hasil pendataan sampai hari tasyrik terakhir, jumlah ternak yang dipotong di Kabupaten Probolinggo mencapai 3.899 ekor dengan total 184 titik pemotongan. Data ini terdiri dari sapi, domba dan kambing yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo,” katanya.

Dari total ternak yang dipotong, sapi tercatat sebanyak 689 ekor, terdiri dari 603 ekor jantan dan 86 ekor betina. Sementara domba mendominasi dengan jumlah 2.499 ekor dan kambing sebanyak 711 ekor.

Menurut Niko, berdasarkan harga rata-rata ternak di pasaran, nilai transaksi yang terjadi selama musim kurban tahun ini diperkirakan mencapai Rp 25.347.500.000.

“Kalau kita perkirakan berdasarkan harga rata-rata ternak yang beredar di lapangan, maka perputaran ekonomi selama Idul Adha 1447 Hijriyah di Kabupaten Probolinggo mencapai sekitar Rp 25.347.500.000. Ini menunjukkan bahwa momentum kurban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Nilai transaksi terbesar berasal dari penjualan sapi yang diperkirakan mencapai hampir Rp 17 miliar. Perhitungan tersebut didasarkan pada harga rata-rata sapi jantan sekitar Rp 25 juta per ekor dan sapi betina sekitar Rp 22 juta per ekor.

Sementara itu, sektor domba menyumbang nilai transaksi lebih dari Rp 6,2 miliar dengan jumlah pemotongan mencapai 2.499 ekor. Adapun kambing memberikan kontribusi ekonomi lebih dari Rp 2,1 miliar dari total 711 ekor yang dipotong selama Idul Adha.

Menurut Niko, angka tersebut masih berupa estimasi konservatif karena menggunakan harga rata-rata yang cenderung lebih rendah dibandingkan harga jual aktual di lapangan.

“Angka ini masih berupa estimasi konservatif karena kami menggunakan harga rata-rata yang relatif rendah dibandingkan harga jual riil di lapangan. Jadi nilai ekonomi yang sebenarnya bisa lebih besar,” terangnya.

Selain mencatat transaksi ekonomi, Diperta juga melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban untuk memastikan keamanan pangan asal hewan yang dikonsumsi masyarakat. Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan empat kasus cacing hati pada ternak kurban di tiga kecamatan yang berbeda.

“Kami menemukan empat kasus cacing hati pada ternak kurban di tiga kecamatan yang berbeda. Jumlahnya memang kecil dibandingkan total ternak yang dipotong, tetapi tetap harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.

Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat program kesehatan ternak, khususnya melalui pemberian obat cacing secara rutin kepada ternak milik peternak.

“Harapan kami ke depan ada penguatan program cacingisasi atau pemberian obat cacing secara rutin kepada ternak. Pencegahan tentu lebih baik daripada pengobatan. Yang terlihat hanya empat kasus, tetapi yang tidak terlihat tentu perlu diantisipasi sejak dini,” ujarnya.

Niko menambahkan bahwa dampak ekonomi Idul Adha tidak hanya dirasakan peternak dan pedagang ternak, tetapi juga menggerakkan berbagai sektor pendukung seperti perdagangan pakan ternak, jasa transportasi, tenaga pemotongan hewan hingga pelaku usaha lainnya yang terlibat dalam rantai ekonomi kurban.

“Idul Adha ternyata benar-benar menggerakkan perekonomian masyarakat. Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang ada, perputaran uang lebih dari Rp 25 miliar menunjukkan bahwa sektor peternakan tetap memiliki peran strategis bagi Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (mel/fas)