Pajarakan, Lensaupdate.com - Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Sains Tingkat Provinsi Jawa Timur 2026 tidak hanya menjadi arena untuk menentukan siswa terbaik di bidang akademik. Kompetisi tersebut juga diarahkan menjadi ruang pembelajaran yang menanamkan kejujuran, sportivitas, kedisiplinan dan kepercayaan diri.
Pesan tersebut disampaikan Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo Muhammad As'adi seiring berlangsungnya OMI Sains tingkat provinsi di Kabupaten Probolinggo.
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Probolinggo di Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, menjadi salah satu titik lokasi pelaksanaan kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.
OMI Sains berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (5-6/10/2026). Peserta yang mengikuti tahapan tingkat provinsi merupakan siswa yang sebelumnya meraih juara dalam OMI tingkat kabupaten/kota se-Jawa Timur.
Hari pertama diikuti peserta jenjang MI/SD dan MTs/SMP. Kompetisi berlanjut pada Selasa untuk jenjang MA/SMA. Pelaksanaan setiap hari dibagi dalam tiga sesi untuk menyesuaikan peserta dari masing-masing jenjang.
Menurut As'adi, keberhasilan dalam kompetisi tidak semestinya hanya diukur dari hasil akhir. Pengalaman mengikuti perlombaan dapat menjadi bagian dari proses belajar siswa, termasuk ketika harus menghadapi kemungkinan kalah.
“Kompetisi tidak semata-mata menjadi ajang untuk mengejar kemenangan. Lebih dari itu, setiap perlombaan harus menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperoleh pengalaman belajar,” katanya.
Karena itu, ia meminta peserta mengikuti kompetisi dengan menjunjung nilai kejujuran dan sportivitas. Kemampuan yang dimiliki perlu ditampilkan secara maksimal tanpa mengabaikan etika dalam berkompetisi.
“Bertandinglah dengan jujur, sportif, disiplin dan percaya diri. Jangan takut kalah, karena kompetisi juga merupakan pengalaman belajar yang berharga,” terangnya.
As'adi juga mengingatkan peserta untuk menghargai sesama peserta serta menjaga nama baik madrasah. Menurutnya, prestasi akademik perlu berjalan bersama dengan pembentukan karakter.
“Peserta harus menghargai peserta lain dan menjaga nama baik madrasah. Tampilkan kemampuan terbaik tanpa menghalalkan segala cara,” tegasnya.
Pembentukan karakter tersebut, lanjut As'adi, tidak cukup dilakukan ketika siswa akan menghadapi perlombaan. Guru dan pembimbing memiliki peran dalam memberikan motivasi serta pembinaan secara berkelanjutan.
“Guru bukan hanya pendamping kompetisi, tetapi juga pembentuk karakter peserta didik. Karena itu, motivasi dan pembinaan harus diberikan secara berkelanjutan, tidak hanya menjelang lomba,” tambahnya.
OMI Sains sendiri merupakan agenda tahunan Kementerian Agama yang dilaksanakan secara berjenjang, mulai tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional.
Pelaksanaan tingkat provinsi Jawa Timur tahun ini juga memiliki pola berbeda dibandingkan 2025. Jika tahun sebelumnya dipusatkan di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, pelaksanaan 2026 menggunakan titik lokasi di masing-masing kabupaten/kota.
As'adi berharap rangkaian kompetisi tersebut tidak berhenti pada pencapaian prestasi. Peserta didik diharapkan berkembang menjadi siswa yang memiliki kemampuan akademik sekaligus mampu menerapkan nilai kejujuran, sportivitas, kedisiplinan dan sikap saling menghargai.
“Guru tidak hanya bertugas mendampingi ketika perlombaan berlangsung, tetapi memiliki tanggung jawab lebih luas dalam membentuk karakter peserta didik,” pungkasnya. (nab/zid)
Baca Juga :
