28 Pengasuh TPA Kabupaten Probolinggo Dilatih Penuhi Hak dan Kebutuhan Anak


Paiton, Lensaupdate.com - Sebanyak 28 pengasuh Tempat Penitipan Anak (TPA) di Kabupaten Probolinggo mengikuti pelatihan Konvensi Hak Anak untuk memperkuat kualitas pengasuhan dan perlindungan anak usia dini. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan anak memperoleh lingkungan pengasuhan yang aman serta mendukung tumbuh kembangnya.

Pelatihan peningkatan kapasitas pengasuh Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) tersebut diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Probolinggo bersama PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP) Paiton di Ruang Tirto Ageng 2, Gedung PJB Academy Kampus Paiton, Jumat (9/10/2026).

Sebanyak 28 peserta berasal dari empat tempat penitipan anak. Rinciannya, 13 pengasuh dari TPA Ar Rahmah Paiton, enam pengasuh TPA Namira Kraksaan, delapan pengasuh TPA Permata Kraksaan, serta satu pengasuh TPA Permata Dringu.

Materi pelatihan mencakup penyelenggaraan Tamasya, isu-isu kritis anak di Indonesia, dan Konvensi Hak Anak. Pembekalan tersebut ditujukan untuk memperkuat pemahaman pengasuh mengenai kebutuhan anak sekaligus penerapan prinsip perlindungan hak anak dalam kegiatan pengasuhan sehari-hari.

Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Ketahanan Keluarga DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo dr. Adi Nugroho WD, mengatakan peningkatan kompetensi pengasuh penting karena anak yang dititipkan berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang membutuhkan perhatian khusus.

“Anak-anak yang berada dalam pengasuhan tersebut umumnya berusia 0–72 bulan atau sejak lahir hingga enam tahun,” ujarnya.

Menurut Adi, pada rentang usia tersebut anak membutuhkan pendampingan yang memperhatikan perkembangan fisik, intelektual, dan psikologis. Karena itu, pengasuh perlu memiliki pengetahuan serta keterampilan yang memadai untuk mendukung proses perkembangan anak sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

“Harapannya, dengan meningkatkan kapasitas atau kompetensi teman-teman pengasuh ini, anak yang dihasilkan dalam rangka pendidikan pra sekolah menjadi memiliki landasan utama untuk mempersiapkan anak-anak tersebut melalui masa-masa usia pra sekolahnya,” jelasnya.

Pemantauan tumbuh kembang juga menjadi bagian penting dalam pengasuhan. Adi berharap pengasuh mampu mengenali kondisi anak yang membutuhkan perhatian lebih lanjut dan mengarahkan mereka kepada pusat layanan terkait apabila diperlukan.

Kemampuan tersebut diharapkan membantu pengasuh memberikan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing anak. Selain mendukung kesehatan dan perkembangan, langkah itu juga berkaitan dengan upaya menciptakan lingkungan penitipan yang aman bagi anak.

“Harapannya, anak-anak tersebut menjadi anak-anak yang sehat dan tumbuh cerdas. Orang tua juga bisa merasa tenang dan aman ketika memiliki kegiatan lain, terutama bekerja, karena anaknya dititipkan di tempat yang memang layak untuk mengasuh anak-anaknya,” tuturnya.

Ia menambahkan, pemahaman mengenai Konvensi Hak Anak perlu diterapkan dalam setiap proses pengasuhan. Dengan begitu, pemenuhan hak dan perlindungan anak tidak hanya menjadi materi pelatihan, tetapi juga menjadi pedoman bagi pengasuh saat menjalankan tugasnya.

“Harapannya, seluruh pengasuh ini sudah tersertifikasi hak Konvensi Anak dan tentunya dalam penerapannya di lapangan mereka bisa melakukan pengasuhan tanpa melupakan Konvensi Hak Anak ini,” terangnya.

Adi menyebut kerja sama tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi perusahaan dalam mendukung program Tamasya di Kabupaten Probolinggo. Dukungan CSR juga diharapkan dapat berlanjut untuk menunjang kegiatan pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan pembangunan keluarga, termasuk kegiatan Pemilihan Duta Genre serta Forum Anak dalam rangka Hari Anak Nasional.

“Melalui penguatan kompetensi dan pemahaman terhadap Konvensi Hak Anak ini diharapkan semakin banyak pengasuh TPA yang mampu memberikan layanan pengasuhan secara layak dan bertanggung jawab. Dengan pengasuhan yang baik, kita berharap anak-anak dapat tumbuh sehat dan cerdas sehingga menjadi generasi yang diharapkan pada 2045, yaitu Generasi Emas Indonesia,” tambahnya.

Kolaborasi dengan PT PLN Nusantara Power UP Paiton turut mendukung pelaksanaan pelatihan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Manager Business Support PT PLN Nusantara Power UP Paiton, Indra Gunawan, mengatakan dukungan perusahaan diarahkan pada peningkatan kapasitas pengasuh, termasuk melalui pengembangan pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS).

“Dukungan itu diarahkan pada pengembangan pembelajaran melalui Learning Management System (LMS) sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas pengasuh. Harapan kami, kegiatan ini menjadi modal penting keberhasilan Tamasya melalui pengasuhan yang kompeten, aman, berkualitas dan penuh kasih sayang,” ungkapnya.

Melalui pelatihan ini, DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo dan PT PLN Nusantara Power UP Paiton mendorong penguatan kualitas layanan penitipan anak melalui peningkatan kompetensi pengasuh. Penerapan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan sehari-hari menjadi langkah penting untuk memastikan kebutuhan tumbuh kembang dan hak anak mendapat perhatian selama berada di TPA. (ren/zid)

Baca Juga :