Krucil, Lensaupdate.com - Kesehatan sapi perah menjadi perhatian dalam pengawasan ternak di Kabupaten Probolinggo. Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur bersama Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo mengambil sampel darah lima sapi perah di Desa Krucil Kecamatan Krucil, Selasa (29/9/2026).
Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai langkah deteksi dini terhadap kemungkinan penyakit Mycobacterium Tuberculosis Complex (MTBC). Sampel diambil dari sapi yang memiliki riwayat atau gejala klinis tertentu sehingga memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Lima sapi yang diperiksa seluruhnya merupakan sapi perah betina. Dua ekor milik Ahmadi dan tiga ekor milik Feri. Ternak tersebut memiliki riwayat gejala berupa sesak napas, diare, kondisi tubuh kurus serta produksi susu yang naik turun.
Pengambilan sampel dipimpin Ketua Tim Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur drh. Erni Puspawati bersama lima anggota. Dari Diperta Kabupaten Probolinggo turut mendampingi Novita dan drh. M. Arafi.
Kegiatan tersebut juga melibatkan KUD Argopuro Krucil melalui drh. Gigih dan Ketua II H. Mujiono serta dua mahasiswa PKL Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Diperta Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto mengatakan pemeriksaan merupakan bagian dari pengawasan terhadap ternak yang mempunyai riwayat atau gejala yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
“Memang ada kunjungan dari Balai Karantina Hewan, Ikan, Tanaman dan Tumbuhan Provinsi Jawa Timur. Memang balai karantina ini berkunjung ke beberapa kabupaten, salah satunya Kabupaten Probolinggo yang berada di jalur perlintasan antar kabupaten kota yang ada di wilayah Jawa Timur,” katanya.
Menurut Niko, pengawasan tersebut berkaitan dengan MTBC pada ternak yang disebabkan bakteri Mycobacterium bovis. Penyakit tersebut disebut dapat berlangsung secara kronis sehingga pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui kondisi ternak secara lebih pasti.
“Khawatirnya kalau ada Mycobacterium Tuberculosis Complex nanti bisa menyebabkan gangguan produksi, kematian dan bisa menyebabkan penularan zoonosis kepada manusia,” jelasnya.
Sampel darah yang telah diambil selanjutnya akan diperiksa melalui laboratorium. Hasil pemeriksaan diperkirakan dapat diketahui dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu.
Artinya, pengambilan sampel tersebut belum menjadi penetapan bahwa kelima sapi positif MTBC. Pemeriksaan laboratorium masih diperlukan untuk mengetahui hasilnya dan menentukan tindak lanjut apabila ditemukan indikasi penyakit.
Niko menjelaskan, berdasarkan penjelasan dalam kegiatan tersebut, penyebaran antarternak dapat terjadi ketika ternak berada dalam lingkungan yang berdekatan.
“Penularan antar ternak dapat terjadi apabila ternak berada pada lingkungan yang berdekatan. Penyebaran dapat berlangsung melalui lendir, batuk, air liur dan sebagainya,” lanjutnya.
Selain aspek kesehatan ternak, perhatian juga diberikan pada kemungkinan dampaknya terhadap manusia. Niko menyebut risiko zoonosis berkaitan dengan kondisi susu dan cara pengolahannya.
“Kalau misalkan bisa zoonosis pada manusia, terjadi apabila manusia yang ada di sekitar sapi tersebut meminum susu dalam kondisi yang tidak bersih dan tidak dimasak sempurna,” tegasnya.
Karena itu, pemeriksaan kesehatan sapi perah tidak hanya berkaitan dengan menjaga kondisi ternak dan produktivitas susu. Pengawasan juga berkaitan dengan upaya menjaga keamanan hasil produksi yang dikonsumsi masyarakat.
Niko menegaskan tujuan pemeriksaan kali ini adalah memperoleh gambaran awal mengenai kemungkinan keberadaan MTBC pada ternak di wilayah Kabupaten Probolinggo.
“Tujuan kegiatan ini adalah mendeteksi secara dini dan secara awal, apakah di Kabupaten Probolinggo ini ada kasus MBTBC. Kalau misalkan ada, ini akan ditindaklanjuti di kemudian hari,” tambahnya.
Sementara Ketua Tim Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur drh. Erni Puspawati mengatakan kegiatan pengawasan dan pemeriksaan direncanakan dilakukan secara berkelanjutan.
Apabila nantinya ditemukan indikasi penyakit berdasarkan hasil pemeriksaan, proses tersebut dapat dilanjutkan dengan langkah penanganan dan pengendalian sesuai kondisi di lapangan.
“Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pengawasan kesehatan sapi perah di Kabupaten Probolinggo, sekaligus membantu menjaga kesehatan ternak dan keamanan hasil produksi susu yang dikonsumsi masyarakat,” ungkapnya.
Pemeriksaan lima sapi perah di Krucil tersebut menjadi bagian dari upaya memperoleh informasi kesehatan ternak secara lebih awal. Dengan menunggu hasil laboratorium sebelum menarik kesimpulan, pengawasan dapat dilanjutkan berdasarkan data pemeriksaan yang tersedia. (riz/zid)
Baca Juga :
