Kraksaan, Lensaupdate.com - Anak-anak usia dini di Kabupaten Probolinggo tumbuh di tengah lingkungan yang semakin dekat dengan teknologi. Kondisi tersebut mendorong guru Kelompok Bermain (KB) dan TK ‘Aisyiyah untuk terus meningkatkan kemampuan agar mampu menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan karakter generasi digital.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan upgrading Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Probolinggo bertema “Memanfaatkan Teknologi Menguatkan Pembelajaran yang Berpusat pada Anak” di ruang pertemuan Tengger Kantor Bupati Probolinggo, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan yang diikuti guru KB dan TK ‘Aisyiyah se-Kabupaten Probolinggo ini dihadiri Ketua PD ‘Aisyiyah Kabupaten Probolinggo Lasminingsih dan Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Amik Mutammimah sebagai narasumber.
Ketua PD ‘Aisyiyah Kabupaten Probolinggo Lasminingsih mengatakan pendidikan anak usia dini memiliki posisi strategis dalam membangun fondasi perkembangan anak. Guru tidak hanya bertugas mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, kemandirian dan kreativitas.
“Pendidikan Anak Usia Dini merupakan jenjang pendidikan yang sangat strategis dalam membentuk fondasi perkembangan anak. Perkembangan teknologi menuntut pendidik untuk terus meningkatkan kemampuan,” ujarnya.
Lasminingsih berharap kegiatan upgrading dapat memberikan perubahan positif terhadap kompetensi para guru.
“Dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas guru. Harapan kami setelah selesai upgrading ini ada perubahan ke arah yang lebih baik,” tambahnya.
Sementara Kepala Bidang Pembinaan PAUD dan PNF Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Amik Mutammimah menjelaskan anak-anak PAUD saat ini sudah sangat akrab dengan teknologi.
“Kondisi ini membuat guru perlu memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik agar tidak tertinggal. Anak-anak PAUD generasi saat ini cenderung merupakan generasi kreatif digital. Mereka sejak kecil sudah akrab dengan teknologi, internet, handphone dan media sosial,” katanya.
Menurut Amik, anak-anak tersebut dapat dikategorikan sebagai native digital. Sementara sebagian guru dan orang tua merupakan digital immigrant yang mengenal teknologi setelah dewasa.
Karena itu, guru perlu meningkatkan literasi digital sekaligus memahami risiko penggunaan teknologi bagi anak. “Anaknya sudah native digital, gurunya harus adaptive digital dan kebijakannya harus smart digital,” tegasnya.
Amik menekankan teknologi harus digunakan untuk memperkuat pembelajaran yang berpusat pada anak, bukan menggantikan peran guru.
“Teknologi tidak boleh hanya menjadi pengganti metode pembelajaran lama, tetapi harus mampu mendorong anak lebih aktif, kreatif dan kritis,” lanjutnya.
Pemanfaatan teknologi dapat dilakukan melalui aplikasi edukatif, video, permainan interaktif hingga alat permainan edukatif (APE) berbasis teknologi. Salah satu contohnya penggunaan barcode pada APE yang dapat menghadirkan suara ketika dipindai.
“Ceramah guru bisa berubah menjadi belajar melalui bermain dan teknologi. Misalnya menggunakan barcode pada APE, ketika dipindai bisa muncul suara binatang. Jadi anak belajar sambil bermain,” jelasnya.
Meski demikian, Amik mengingatkan teknologi tetap membutuhkan pendampingan guru dan orang tua. “Orang tua atau guru menjadi pemantik dan penjembatan. Ketika menggunakan teknologi, anak diajak berpikir kritis dan tetap dalam pendampingan,” tuturnya.
Melalui kegiatan upgrading, IGABA Kabupaten Probolinggo diharapkan semakin siap meningkatkan kompetensi guru KB dan TK ‘Aisyiyah. Kemampuan memanfaatkan teknologi secara bijak diharapkan berjalan seiring dengan penguatan karakter, kreativitas
dan akhlak anak sejak usia dini. (nab/zid)
Baca Juga :
