Kraksaan, Lensaupdate.com - Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Probolinggo menekankan pentingnya pemenuhan istitaah bagi calon jamaah haji. Kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji tersebut tidak hanya ditentukan oleh kondisi kesehatan, tetapi mencakup empat aspek penting.
Penegasan itu disampaikan Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Probolinggo Moh. Barzan saat menjadi narasumber dalam kegiatan evaluasi pelaksanaan haji 2026 menuju perbaikan di Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Senin (31/8/2026).
Menurut Barzan, istitaah merupakan salah satu syarat penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Karena itu, pemahaman mengenai kemampuan jamaah perlu menjadi perhatian sejak sebelum keberangkatan.
“Karena syarat haji itu harus istitaah. Artinya mampu melaksanakan haji. Kemampuan itu setidak-tidaknya mencakup empat kategori,” katanya.
Barzan menjelaskan, aspek pertama adalah kemampuan dari sisi kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Kondisi fisik dan mental menjadi faktor penting karena rangkaian ibadah haji membutuhkan stamina yang cukup.
Aspek kedua berkaitan dengan kemampuan finansial. Jamaah harus memiliki kemampuan pembiayaan yang diperlukan untuk melaksanakan perjalanan dan ibadah haji.
Selanjutnya, istitaah juga mencakup faktor keamanan. Jamaah harus berada dalam kondisi aman selama perjalanan, ketika berada di Tanah Haram hingga kembali ke Tanah Air.
Aspek berikutnya adalah ketersediaan transportasi yang mendukung mobilitas jamaah selama pelaksanaan ibadah haji.
“Yang ketiga mampu dalam artian aman. Aman dalam perjalanan, kemudian di Tanah Haram sampai pulang itu aman. Yang berikutnya adalah adanya transportasi yang bisa mengangkut jamaah ke tujuan, baik Makkah maupun Madinah,” terangnya.
Barzan juga menjelaskan kondisi istitaah kesehatan jamaah dapat dikelompokkan menjadi empat kategori. Pertama, jamaah yang memenuhi persyaratan istitaah kesehatan. Kedua, jamaah yang memenuhi persyaratan tersebut tetapi membutuhkan pendampingan.
Kategori ketiga adalah jamaah yang untuk sementara waktu belum memenuhi persyaratan istitaah. Sedangkan kategori keempat merupakan jamaah yang secara permanen tidak memenuhi persyaratan istitaah.
“Kategori ketiga adalah jamaah yang untuk sementara waktu belum memenuhi persyaratan istitaah. Sedangkan kategori keempat adalah jamaah yang secara permanen tidak memenuhi persyaratan istitaah,” tegasnya.
Dalam evaluasi pelaksanaan haji 2026, Barzan juga menyoroti kebiasaan jamaah menjelang keberangkatan yang berpotensi menguras stamina. Persiapan bekal dan aktivitas menerima tamu hingga larut malam menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
“Menjelang keberangkatan, jamaah haji disibukkan dengan persiapan bekal dan menerima tamu. Padahal dari keberangkatan di rumah menuju titik pemberangkatan, kemudian ke Miniatur Ka'bah dan asrama haji, itu sudah memerlukan tenaga karena banyak rangkaian kegiatan yang harus dilakukan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa stamina perlu dipersiapkan sejak sebelum jamaah meninggalkan rumah. Kondisi fisik yang prima menjadi bagian penting dalam menjalani rangkaian ibadah haji.
Barzan juga meminta jamaah tidak memaksakan diri mengejar terlalu banyak ibadah sunnah ketika berada di Makkah dan Madinah. Aktivitas yang berlebihan tanpa memperhatikan kondisi tubuh dapat berdampak terhadap kesehatan.
“Banyak jamaah mengejar ibadah sunnah di Makkah dan Madinah sehingga lupa akan kesehatannya. Terlalu banyak mengejar ibadah sunnah, kemudian karena stres juga sampai lupa dan susah makan. Termasuk manajemen waktu yang kurang diatur,” urainya.
Di sisi lain, ia menyampaikan bahwa penyelenggaraan haji Indonesia 2026 mencatat capaian positif dari sisi kepuasan pelayanan jamaah. Indeks Kepuasan Jamaah Haji Indonesia (IKJHI) disebut mencapai 91,45 persen dan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, indeks kepuasan jamaah haji Indonesia tahun 2026 mencapai 91,45 persen. Ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan patut kita syukuri,” katanya.
Meski demikian, Barzan menyebut masih terdapat sejumlah tantangan dalam penyelenggaraan haji, di antaranya tingginya jumlah jamaah lanjut usia dan jamaah dengan risiko kesehatan tinggi serta angka kematian yang masih menjadi perhatian.
Dengan jumlah jamaah yang besar, pengelolaan pelayanan haji juga membutuhkan koordinasi dan pengawasan yang kompleks. Kuota nasional yang disebut lebih dari 220 ribu jamaah membuat penyelenggaraan haji melibatkan berbagai pihak.
Kegiatan evaluasi yang berlangsung di Kantor Dinkes Kabupaten Probolinggo tersebut diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri dari dokter dan tenaga medis.
Forum tersebut menjadi ruang evaluasi bersama untuk memperkuat pelayanan sekaligus perlindungan kesehatan jamaah pada penyelenggaraan ibadah haji berikutnya. (nab/zid)
Baca Juga :
.jpeg)