Refleksi Pendidikan, Bupati Haris Dorong Budaya Mutu Berbasis Data


Kraksaan, Lensaupdate.com - Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menegaskan pentingnya pengelolaan pendidikan berbasis data sebagai fondasi utama dalam membangun budaya mutu dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Probolinggo.

Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Refleksi Pendidikan bertema “Membangun Budaya Mutu” yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo bersama Dewan Pendidikan Kabupaten Probolinggo di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Senin (15/6/2026).

Menurut Bupati Haris, pembangunan pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang berperan penting dalam membentuk peradaban. Oleh karena itu, setiap kebijakan pendidikan harus didasarkan pada data yang lengkap dan akurat agar mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan.

“Kalau membangun jalan mungkin hanya beberapa bulan, membangun gedung beberapa tahun. Tetapi membangun peradaban membutuhkan pendidikan yang dikelola dengan baik. Karena itu saya selalu menekankan pentingnya data sebagai dasar pengambilan keputusan,” katanya.

Bupati Haris menjelaskan pemerintah perlu memiliki data yang valid mengenai jumlah sekolah, guru, siswa, pesantren, madrasah hingga angka putus sekolah. Dengan data tersebut, berbagai persoalan pendidikan dapat dipetakan secara tepat dan dicarikan solusi yang sesuai.

“Kita harus mengetahui kondisi pendidikan secara detail. Berapa jumlah guru, siswa, sekolah, pesantren dan anak yang tidak sekolah. Kita juga harus memahami penyebabnya agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Selain penguatan data, Bupati Haris menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan pendidikan, baik sekolah formal, madrasah maupun pesantren untuk bersama-sama meningkatkan kualitas SDM dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Probolinggo.

“Sekolah formal, madrasah maupun pesantren adalah bagian dari keluarga besar pendidikan Kabupaten Probolinggo. Karena itu kita harus bergerak bersama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” tegasnya.

Menurut Bupati Haris, masih terdapat tantangan besar yang harus dihadapi dunia pendidikan Kabupaten Probolinggo, salah satunya capaian IPM yang sebelumnya berada di kelompok terbawah di Jawa Timur. Karena itu diperlukan perubahan pola pikir dan langkah strategis yang berkelanjutan.

Untuk mewujudkan daerah yang ramah pendidikan, Bupati Haris menyebut ada lima faktor utama yang harus diperkuat, yakni peningkatan kualitas guru, penguatan budaya literasi, kolaborasi keluarga-sekolah-masyarakat, pendidikan karakter berbasis moral dan keagamaan serta penanaman growth mindset atau pola pikir bertumbuh.

Selain kecerdasan intelektual atau IQ, Bupati Haris juga menyoroti pentingnya penguatan kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), kemampuan menghadapi tantangan (Adversity Quotient/AQ) dan kemampuan berinovasi (Creativity Quotient/CQ).

“Adversity Quotient adalah kemampuan seseorang untuk bertahan dalam situasi sulit dan tidak mudah menyerah. Sedangkan Creativity Quotient adalah kemampuan melahirkan ide dan inovasi baru. Kedua hal ini sangat penting untuk membentuk generasi unggul,” tambahnya.

Sementara Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Probolinggo Abd. Aziz Wahab mengatakan pihaknya terus mendorong peningkatan mutu pendidikan melalui forum diskusi, evaluasi dan kunjungan langsung ke sekolah maupun madrasah.

“Dalam satu semester terakhir kami telah melaksanakan delapan kali forum diskusi dan melakukan kunjungan ke 34 sekolah dan madrasah. Kunjungan ini bukan untuk mencari kelemahan, tetapi sebagai ajang silaturahmi dan belajar langsung dari para guru, tenaga kependidikan serta peserta didik mengenai kondisi riil dunia pendidikan di Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Aziz menambahkan hasil kunjungan tersebut menemukan banyak praktik baik yang layak dikembangkan, meskipun masih terdapat sejumlah satuan pendidikan yang memerlukan pembenahan dalam aspek kebersihan dan pengelolaan lingkungan sekolah.

“Kami ingin setiap semester ada ruang refleksi bersama. Kita melihat apa yang sudah berubah, apa yang sudah diperbaiki dan apa yang masih harus ditingkatkan. Dengan cara itu, budaya perbaikan akan terus tumbuh dalam dunia pendidikan,” pungkasnya. (nab/zid)