Banyuanyar, Lensaupdate.com - Upaya menekan kerugian akibat serangan hama tikus terus dilakukan petani di Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo. Salah satu inovasi yang kini mulai dikembangkan adalah penggunaan emposan tikus, metode pengendalian hama berbasis fumigasi sederhana yang dinilai murah, mudah dibuat dan efektif melindungi tanaman dari ancaman gagal panen.
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam pelatihan pembuatan emposan tikus yang diikuti tim petani organik Kecamatan Banyuanyar, petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banyuanyar di Kantor BPP Banyuanyar, Kamis (11/6/2026). Kegiatan ini didampingi Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Perkebunan Balai Besar Perbenihan dan Pelindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, Ika Ratmawati.
Sebanyak 14 peserta mengikuti pelatihan yang bertujuan memberikan alternatif pengendalian hama tikus dengan biaya rendah namun memiliki tingkat efektivitas yang tinggi.
POPT Perkebunan BBPPTP Surabaya Ika Ratmawati menjelaskan emposan tikus bekerja dengan sistem pengasapan yang langsung diarahkan ke dalam sarang tikus sehingga mampu menjangkau lorong-lorong bawah tanah yang sulit dijangkau secara manual.
“Prinsipnya bukan mengejar tikus di permukaan, tetapi membasmi di sarangnya. Emposan menghasilkan asap yang menyebar ke seluruh liang sehingga mampu menjangkau bagian sarang yang tidak terlihat dari permukaan,” katanya.
Menurut Ika, bahan baku emposan relatif mudah diperoleh dengan biaya yang terjangkau. Untuk membuat sekitar 200 batang emposan, diperlukan setengah kilogram arang batok kelapa, satu kilogram bubuk belerang, satu kilogram kalium nitrat (KNO3) dan 200 gram soda kue.
Campuran bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam selongsong kertas yang dibentuk menyerupai sumbu pembakaran. Saat digunakan, emposan dinyalakan dan dimasukkan ke dalam lubang aktif tikus, sementara lubang lain yang mengeluarkan asap ditutup rapat agar tikus tidak memiliki jalur keluar.
“Komposisi bahan ini menghasilkan pembakaran yang stabil dan asap yang pekat sehingga mampu menembus seluruh cabang sarang tikus,” jelasnya.
Ika menambahkan keberhasilan pengendalian akan lebih optimal jika dilakukan secara serentak dalam satu hamparan lahan. Dengan cara tersebut, perpindahan tikus ke lahan lain dapat diminimalkan sehingga populasi hama dapat ditekan secara lebih efektif.
Selain mampu menekan populasi tikus, metode emposan juga dinilai lebih aman karena tidak merusak pematang sawah maupun mengganggu pertumbuhan tanaman. Penggunaannya dapat dipadukan dengan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) seperti sanitasi lahan, pengelolaan habitat dan gropyokan tikus.
Koordinator BPP Banyuanyar Inayah Fatmawati berharap pelatihan ini dapat menjadi solusi bagi petani dalam menghadapi serangan tikus yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama penurunan hasil panen.
“Melalui pelatihan ini kami berharap petani memiliki pilihan pengendalian hama yang praktis, murah dan efektif. Dengan demikian tanaman dapat tumbuh optimal dan risiko gagal panen akibat serangan tikus dapat ditekan,” ujarnya.
Salah satu peserta pelatihan, Samsul Sanhaji mengaku tertarik dengan metode tersebut karena mudah diterapkan dan bahan-bahannya mudah ditemukan di sekitar lingkungan petani.
“Cara pembuatannya cukup mudah dan bahan-bahannya juga tidak sulit didapat. Kami berharap metode ini bisa membantu petani mengurangi kerugian akibat serangan tikus,” ungkapnya.
Melalui inovasi sederhana tersebut, petani di Kecamatan Banyuanyar diharapkan mampu mengurangi biaya pengendalian hama sekaligus menjaga produktivitas pertanian agar hasil panen tetap optimal dan menguntungkan. (ren/zid)
