Sumberasih, Lensaupdate.com - Regu Pengendali Hama Penyakit Tumbuhan (RPHPT) “Bayu Perkasa” Kabupaten/Kota Probolinggo terus mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan melalui pelatihan pembuatan pestisida Jadam Sulfur di rumah Sobirin, Desa Laweyan, Kecamatan Sumberasih, Senin (8/6/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 25 peserta tersebut melibatkan anggota komunitas RPHPT, tim Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sumberasih. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan cara yang lebih hemat, aman dan berkelanjutan.
Ketua RPHPT “Bayu Perkasa” Kabupaten/Kota Probolinggo Ika Ratmawati mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian petani dalam menyediakan sarana perlindungan tanaman berbasis ramah lingkungan.
“Pertemuan rutin ini merupakan ajang belajar bersama dan berbagi pengalaman terkait perlindungan tanaman. Kami berharap setiap anggota RPHPT mampu memproduksi sarana pertanian berbasis ramah lingkungan, khususnya agens hayati yang menjadi alat tempur dalam pengendalian hama dan penyakit di lapangan,” katanya.
Menurut Ika, Jadam Sulfur merupakan salah satu alternatif pengendalian hama dan penyakit tanaman yang dinilai efektif sekaligus lebih aman dibandingkan penggunaan pestisida kimia sintetis secara berlebihan.
Sementara Jabatan Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (JF POPT) Diperta Kabupaten Probolinggo Muchlisin menegaskan bahwa penerapan pengendalian hama ramah lingkungan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian.
“Meskipun stok pestisida masih tersedia dan dalam prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pestisida merupakan langkah terakhir dalam mengatasi serangan hama dan penyakit, akan lebih baik apabila petani mengupayakan penggunaan sarana pengendalian yang minim residu dan lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Pelatihan dipandu oleh Kamaluddin Harahap yang menjelaskan bahwa Jadam Sulfur dapat dibuat dengan bahan yang mudah diperoleh dan biaya yang relatif murah.
“Jadam Sulfur mudah dibuat, biayanya murah dan bahan-bahannya mudah diperoleh petani. Selain itu, larutan ini lebih aman bagi tanah dan tanaman dibandingkan pestisida kimia sintetis serta menjadi solusi pestisida yang hemat biaya,” jelasnya.
Dalam sesi praktik, Budiono memperagakan proses pembuatan Jadam Sulfur menggunakan campuran belerang 1 kilogram, soda api 800 gram, garam krosok 50 gram dan air 5 liter. Setelah dicampur hingga homogen, larutan didiamkan selama 24 jam sebelum digunakan.
“Proses pencampuran harus dilakukan di luar ruangan demi keselamatan. Untuk aplikasi di lapangan, larutan cukup diencerkan dengan dosis 2 mililiter per liter air sebelum disemprotkan ke tanaman,” terangnya.
Koordinator PPL BPP Kecamatan Sumberasih Adsan Rahyono menyambut baik pelatihan tersebut karena memberikan solusi yang lebih ekonomis bagi petani dalam menghadapi serangan hama dan penyakit tanaman.
“Selama ini biaya pestisida kimia cukup memberatkan petani. Dengan pelatihan ini, kami mendapatkan pengetahuan baru yang lebih ekonomis dan aman untuk jangka panjang, terutama dalam menghadapi serangan wereng coklat pada tanaman padi maupun penyakit bulai pada jagung,” ungkapnya.
Di sisi lain, pakar prakiraan cuaca komunitas RPHPT Bayu Perkasa Tjipto Waluyo mengingatkan petani untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan hama pada musim kemarau 2026 yang masih berpeluang disertai hujan.
“Pada musim kemarau tahun ini masih ada potensi hujan. Salah satu hama yang diperkirakan meningkat populasinya adalah hama bertipe mulut menusuk dan menghisap seperti kutu dan wereng. Karena itu, penggunaan pestisida dengan dosis ringan yang dipadukan dengan pestisida nabati dapat meningkatkan efektivitas pengendalian sekaligus menghemat biaya,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, petani diharapkan semakin mandiri dalam melakukan pengendalian OPT sekaligus mampu menekan biaya produksi. Selain itu, penggunaan pestisida ramah lingkungan diharapkan mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten dan Kota Probolinggo. (mel/fas)
