Kraksaan, Lensaupdate.com - Universitas Islam Zainul Hasan Genggong di Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan menggelar Seminar Tarbiyah bertema “Navigasi Peran Pendidik di Era AI: Kolaborasi Manusia dan Teknologi untuk Pembelajaran Masa Depan” di aula kampus Unzah Genggong Kraksaan, Senin (4/5/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 300 mahasiswa tersebut menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono sebagai narasumber utama. Seminar membahas transformasi dunia pendidikan di tengah perkembangan pesat kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Dalam paparannya, Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono menyampaikan dunia pendidikan saat ini tengah menghadapi perubahan besar seiring hadirnya teknologi AI dalam proses pembelajaran. “Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menggantikan pendidik, tetapi bagaimana pendidik tetap relevan dan unggul dalam kolaborasi dengan AI,” katanya.
Menurut Hary, paradigma pendidikan telah bergeser dari sekadar transfer pengetahuan menuju proses membangun pemahaman dan makna. Karena itu, peran guru tidak lagi hanya sebagai sumber ilmu, tetapi juga fasilitator pembelajaran. “Pendidik tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu. Tugas utama guru saat ini adalah membantu peserta didik membangun pemahaman dan kebijaksanaan dalam menggunakan informasi,” jelasnya.
Hary menekankan pentingnya reposisi pendidik sebagai arsitek pembelajaran di era digital. Dalam kolaborasi manusia dan AI, teknologi dinilai unggul dalam analisis data dan automasi, sedangkan manusia tetap memiliki kekuatan dalam kreativitas, empati dan pengambilan keputusan. “Ada empat prinsip utama dalam kolaborasi manusia dan AI di dunia pendidikan, yakni AI sebagai alat, manusia sebagai pengambil keputusan, transparansi penggunaan AI dan penguatan literasi AI,” terangnya.
Selain itu, Hary menilai pendidik masa depan harus memiliki keseimbangan antara kemampuan teknologi dan kemampuan sosial. Literasi digital dan pemahaman AI menjadi kebutuhan penting, namun kemampuan berpikir kritis, etika dan kecerdasan emosional tetap menjadi pondasi utama pendidikan. “AI bisa memberikan jawaban dengan cepat, tetapi hanya pendidik yang mampu membentuk karakter dan kebijaksanaan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hary juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan pemerintah dan peran perguruan tinggi dalam menghadapi transformasi pendidikan berbasis teknologi. “Masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan manusia dalam memanfaatkannya,” tambahnya.
Melalui seminar ini, Universitas Islam Zainul Hasan Genggong berharap mahasiswa dan para pendidik semakin siap menghadapi perubahan dunia pendidikan di era AI serta mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif dalam proses pembelajaran. (nab/zid)
.jpeg)