Sukapura, Lensaupdate.com - Inovasi pembelajaran kelas rangkap atau multigrade teaching yang diterapkan di SDN Ngadisari 2 Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus membentuk karakter positif peserta didik. Metode ini menjadi salah satu solusi efektif bagi sekolah dengan keterbatasan jumlah siswa maupun tenaga pendidik.
Sebagai sekolah mitra program NOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), Kemitraan Indonesia dan Australia di bidang pendidikan, SDN Ngadisari 2 telah menerapkan pembelajaran multigrade dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Melalui metode tersebut, siswa dari tingkatan kelas berbeda dapat belajar bersama dalam satu ruang dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Kepala SDN Ngadisari 2 Marsini Astuti menjelaskan bahwa penerapan pembelajaran kelas rangkap memberikan dampak positif tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga perkembangan karakter dan keterampilan sosial peserta didik.
“Penerapan multigrade teaching telah memberikan banyak manfaat bagi siswa. Mereka mengalami peningkatan hasil belajar dan karakter, terbiasa berinteraksi secara positif, saling menghargai serta belajar secara kolaboratif melalui tutor sebaya dan kerja kelompok. Kondisi ini membuat siswa lebih percaya diri, lebih aktif dalam proses pembelajaran, lebih mandiri, memiliki keterampilan sosial yang lebih baik, motivasi belajar yang meningkat serta kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan kreativitas,” katanya.
Dalam praktiknya, siswa didorong untuk saling membantu dan belajar bersama melalui berbagai aktivitas kolaboratif. Model ini menciptakan suasana belajar yang lebih inklusif sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian antar peserta didik.
Tidak hanya berdampak bagi siswa, penerapan multigrade teaching juga memberikan manfaat bagi guru dan pihak sekolah. Guru dituntut lebih kreatif dalam merancang pembelajaran sehingga mampu mengembangkan kompetensi profesional serta keterampilan sosial dalam mengelola kelas yang heterogen.
“ Sistem ini mendorong peningkatan kompetensi profesional, kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran, kemampuan sosial dan interpersonal serta memberikan kepuasan profesional karena mampu menghadirkan layanan pendidikan yang efektif di tengah keterbatasan sumber daya,” jelasnya.
Meski demikian, pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, kebutuhan sarana dan prasarana hingga pentingnya membangun pemahaman bersama antara sekolah, orang tua dan pemangku kepentingan lainnya.
Menurut Marsini, keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berbeda dalam satu waktu serta dukungan seluruh pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.
“Pelaksanaan multigrade membutuhkan kreativitas yang tinggi, kesabaran dan konsistensi dari seluruh pihak. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi yang baik menjadi kunci keberhasilan dalam menjalankan model pembelajaran ini,” terangnya.
Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program, SDN Ngadisari 2 berkomitmen memperkuat kapasitas guru melalui komunitas belajar, pendampingan berkelanjutan dan optimalisasi seluruh sumber daya yang dimiliki sekolah.
Selain itu, sekolah berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap sekolah pelaksana pembelajaran kelas rangkap melalui dukungan kebijakan, pendanaan dan penguatan kapasitas tenaga pendidik.
“Kami berharap ada kebijakan yang lebih jelas dan mendukung, bantuan anggaran yang memadai, apresiasi terhadap inovasi sekolah serta pengakomodasian pembelajaran kelas rangkap dalam Dapodik. Selain itu, kami juga membutuhkan tambahan tenaga administrasi, pembekalan dan pendampingan berkelanjutan bagi guru, dukungan komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah maupun masyarakat serta bantuan sarana dan prasarana agar layanan pendidikan dapat terus ditingkatkan,” pungkasnya.
Melalui inovasi pembelajaran kelas rangkap, SDN Ngadisari 2 menunjukkan bahwa keterbatasan bukan menjadi hambatan untuk menghadirkan pendidikan berkualitas. "Sebaliknya, kondisi tersebut justru menjadi pemicu lahirnya kreativitas dan inovasi dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif, inklusif dan berorientasi pada pengembangan karakter peserta didik," pungkasnya. (put/zid)
