Rest Area Betek Krucil Tumbuhkan Wisata Desa dan Ekonomi Masyarakat


Krucil, Lensaupdate.com - Rest Area Betek di Desa Betek Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo kini berkembang menjadi salah satu ikon wisata desa yang mulai dikenal masyarakat luas. Berada di jalur wisata penghubung Kecamatan Krucil dan Kecamatan Tiris, kawasan tersebut menawarkan panorama pegunungan, udara sejuk dan hamparan terasering hijau lereng Gunung Argopuro.

Tidak hanya menjadi tempat persinggahan wisatawan, Rest Area Betek perlahan tumbuh sebagai penggerak ekonomi masyarakat desa melalui sektor pariwisata dan pemberdayaan UMKM lokal.

Di balik perkembangan kawasan wisata tersebut, terdapat sosok Agus Suwanto yang dikenal aktif mendorong pengembangan wisata desa berbasis masyarakat. Baginya, Rest Area Betek bukan sekadar lokasi wisata, tetapi simbol harapan dan kebangkitan ekonomi masyarakat desa.

“Kalau desa punya potensi dan tidak dikembangkan, maka desa akan tertinggal. Kami ingin Rest Area Betek ini menjadi tempat yang bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi juga mampu menghidupkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Pengembangan Rest Area Betek bermula pada tahun 2019 ketika Pemerintah Desa Betek bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melihat potensi tanah kas desa yang sebelumnya hanya disewakan kepada masyarakat.

Setelah masa sewa berakhir, muncul gagasan untuk mengubah lahan tersebut menjadi kawasan produktif yang mampu memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi desa. Lokasinya yang strategis di jalur wisata Krucil-Tiris menjadi alasan utama lahirnya rest area bernuansa alam tersebut.

Meski demikian, proses pembangunan dan pengembangan kawasan wisata tersebut tidak berjalan mudah. Agus mengaku harus menghadapi berbagai tantangan mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, minimnya kesadaran masyarakat terhadap potensi wisata hingga keterbatasan modal pengembangan.

Namun melalui pendekatan kolaboratif, Agus bersama pemerintah desa dan Pokdarwis terus mengajak masyarakat terlibat aktif dalam pengembangan wisata desa. Warga didorong membuka usaha kuliner, mengembangkan produk UMKM, menjaga kebersihan kawasan hingga mempromosikan wisata melalui media sosial.

“Perlahan dampak ekonomi mulai dirasakan masyarakat. Kehadiran Rest Area Betek membuka lapangan pekerjaan baru, menghadirkan peluang usaha kuliner dan kerajinan lokal serta meningkatkan aktivitas ekonomi desa,” jelasnya.

Selain fokus pada pengembangan wisata, Rest Area Betek juga dikenal memiliki semangat sosial dan inklusif. Salah satunya melalui pemberdayaan karyawan difabel yang dilibatkan dalam pengelolaan kawasan wisata tersebut.

Upaya pengembangan Rest Area Betek juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada tahun 2022, PT POMI dan Paiton Energy mulai memberikan dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) guna membantu pengembangan kawasan wisata desa tersebut.

Kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, Pokdarwis, masyarakat dan sektor perusahaan menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan Rest Area Betek sebagai wisata berbasis pemberdayaan masyarakat.

Kini Rest Area Betek tidak hanya menjadi tempat beristirahat bagi wisatawan. Kawasan tersebut juga menjadi ruang tumbuhnya semangat masyarakat desa dalam membangun kemandirian ekonomi melalui sektor wisata.

Banyak pengunjung datang untuk menikmati suasana sore sambil menyeruput kopi dengan latar panorama pegunungan dan terasering hijau yang menenangkan. Suasana alami dan hangatnya interaksi masyarakat desa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Bagi Agus Suwanto, keberhasilan wisata desa bukan diukur dari kemegahan bangunan, melainkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat sekitar.

“Wisata desa harus bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat, membuat desa semakin dikenal dan membawa desa menuju kemandirian,” tegasnya.

Ia pun mengajak wisatawan menikmati suasana alam Rest Area Betek secara lebih mendalam. “Datanglah bukan hanya untuk melihat tempatnya, tetapi untuk merasakan ketenangan yang ada di dalamnya. Biarkan alam menyambutmu, jauh dari hiruk pikuk, agar hati dan pikiran kembali damai,” pungkasnya. (ren/zid)