Kraksaan, Lensaupdate.com - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo menggelar bimbingan teknis (bimtek) kepenulisan berbasis konten budaya lokal gerakan literasi SAE bertema “Mengubah Cerita Rakyat Menjadi Bahan Bacaan” di ruang Pustakaloka Dispersip Kabupaten Probolinggo, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 50 peserta yang terdiri dari pustakawan, pengelola perpustakaan, pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, guru, tenaga pendidik hingga masyarakat umum berusia minimal 13 tahun yang berdomisili di Kabupaten Probolinggo dan telah lolos seleksi dewan juri.
Para peserta mendapatkan materi dari dua orang narasumber yang berasal dari praktisi budaya atau budayawan Kabupaten Probolinggo serta kalangan akademisi.
Kepala Bidang Pelayanan Pengembangan Perpustakaan Dispersip Kabupaten Probolinggo Nurul Yaqin mengungkapkan perpustakaan memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan literasi dan pelestarian budaya.
“Perpustakaan sebagai institusi pengelola karya tulis, karya cetak dan karya rekam memiliki kontribusi penting dalam pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, teknologi hingga penguatan literasi masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Yaqin, kegiatan bimtek tersebut bertujuan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan umum daerah sekaligus mendorong budaya literasi masyarakat agar lebih kreatif, inovatif dan berkarakter.
“Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan, mengembangkan kegemaran membaca dan literasi daerah serta melakukan pembinaan dan pendataan perpustakaan maupun naskah kuno nusantara,” terangnya.
Sementara Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas mengatakan Kabupaten Probolinggo memiliki kekayaan budaya lokal yang sangat besar dan perlu didokumentasikan secara tertulis agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kabupaten Probolinggo memiliki kekayaan budaya luar biasa mulai dari Tari Glipang, kuliner nasi jagung hingga kearifan lokal masyarakat Tengger di lereng Bromo. Kekayaan ini adalah identitas dan jati diri masyarakat yang harus dilestarikan,” katanya.
Ulfi menjelaskan budaya yang hanya hidup melalui cerita lisan berisiko hilang seiring berjalannya waktu. Karena itu, Dispersip memandang perlu menghadirkan pelatihan kepenulisan berbasis budaya lokal.
“Tujuan kegiatan ini sederhana, yaitu mengubah pengetahuan lisan menjadi karya tulis yang baku, mudah diakses dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” jelasnya.
Melalui bimtek tersebut, para peserta diharapkan mampu menggali dan merekam cerita rakyat, tradisi dan kearifan lokal di wilayah masing-masing dengan metode penulisan yang benar sesuai kaidah Bahasa Indonesia.
“Kami berharap setiap peserta mampu menghasilkan minimal satu naskah siap publikasi yang nantinya akan dikurasi untuk diterbitkan dalam Antologi Budaya Probolinggo 2026 melalui penerbitan Perpusnas Press ber-ISBN,” terangnya.
Lebih lanjut Ulfi menegaskan perpustakaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga menjadi pusat dokumentasi budaya dan penggerak literasi masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk mewujudkan daerah yang berbudaya, literat dan berdaya saing sesuai visi RPJMD 2025-2030,” tegasnya.
Ulfi juga berpesan kepada seluruh peserta agar memanfaatkan kegiatan tersebut dengan maksimal dan tidak ragu menuangkan ide maupun pengetahuan budaya dalam bentuk tulisan.
“Jangan ragu menulis, karena tulisan Bapak dan Ibu sekalian akan menjadi jejak sejarah bagi anak cucu kita di masa depan,” pungkasnya. (nab/zid)
