Kraksaan, Lensaupdate.com - Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Probolinggo mendorong masjid kembali memainkan peran yang lebih luas di tengah kehidupan masyarakat. Penguatan fungsi tersebut dinilai membutuhkan pengurus takmir yang tidak hanya memahami aspek ibadah, tetapi juga mampu mengelola organisasi masjid secara baik.
Hal itu menjadi salah satu pokok pembinaan takmir yang digelar DMI Kabupaten Probolinggo di Masjid Jami’ Nurul Amin At-Taqwa, Desa Sidopekso, Kecamatan Kraksaan, Jumat (2/10/2026) malam.
Sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan yang dilaksanakan setelah salat Isya sekitar pukul 19.30 WIB tersebut. Al-Ustaz Solehuddin dari Kecamatan Gading turut memberikan materi kepada peserta.
Pembinaan tidak hanya diarahkan pada penguatan kemampuan pengurus dalam mengelola organisasi. Peserta juga mendapatkan materi mengenai kefasihan membaca Surah Al-Fatihah, termasuk tajwid dan makhrajul huruf.
Ketua DMI Kabupaten Probolinggo Moh. Barzan mengatakan, kemampuan membaca Al-Fatihah secara tepat menjadi bagian yang penting karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan salat.
“Kemampuan membaca Al-Fatihah dengan benar perlu menjadi perhatian karena surah tersebut merupakan bagian dari rukun salat. Materi ini kita anggap penting karena membaca Surah Al-Fatihah itu merupakan rukun salat, sehingga Fatihahnya harus tepat dan benar,” katanya.
Menurut Barzan, pembinaan terhadap takmir perlu menyentuh dua sisi sekaligus. Pemahaman keagamaan dibutuhkan untuk mendukung kegiatan ibadah, sedangkan kemampuan manajerial diperlukan agar organisasi masjid dapat berjalan dan berkembang.
Karena itu, dalam kegiatan tersebut Barzan juga menyampaikan materi mengenai manajemen dan keorganisasian. Pengurus diharapkan mendapatkan bekal untuk menjalankan tugas takmir secara lebih terarah.
“Harapannya dengan kegiatan ini dapat menambah wawasan pengurus takmir, sehingga bisa bekerja lebih maksimal lagi untuk menghidupkan peran dan fungsi masjid sebagaimana semestinya,” jelasnya.
Bagi DMI, penguatan takmir berkaitan erat dengan bagaimana masjid ditempatkan dalam kehidupan masyarakat. Masjid tidak dipandang hanya sebagai tempat pelaksanaan salat, tetapi juga sebagai ruang yang dapat mempertemukan aktivitas keagamaan dengan kebutuhan sosial masyarakat.
Barzan merujuk pada praktik kehidupan masjid pada zaman Rasulullah SAW sebagai salah satu gambaran mengenai luasnya fungsi masjid.
“Masjid dapat menjadi ruang yang mempertemukan kebutuhan keagamaan dengan kehidupan sosial masyarakat. Pengurus takmir perlu memiliki pemahaman mengenai bagaimana mengoptimalkan fungsi tersebut. Karena masjid itu pada zaman Rasulullah SAW tidak hanya tempat salat saja, tapi segala aktivitas ibadah dan kemasyarakatan dilaksanakan di masjid,” terangnya.
Ia menjelaskan, masjid pada masa Rasulullah SAW juga menjadi tempat berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan umat.
“Rasulullah SAW bahkan menyusun strategi perang itu di dalam masjid, mengatur pemerintahan di masjid serta kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan juga dilaksanakan di masjid,” tegasnya.
Gambaran tersebut menjadi salah satu dasar bagi DMI Kabupaten Probolinggo untuk mendorong optimalisasi fungsi masjid. Menurut Barzan, masjid diharapkan dapat memiliki posisi yang lebih sentral dalam kehidupan masyarakat.
“Kita ingin masjid bisa berperan sentral daripada kegiatan masyarakat itu,” tuturnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, kapasitas pengurus menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat. Takmir tidak hanya berhadapan dengan agenda ibadah rutin, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengelola organisasi, mengatur kegiatan dan mengembangkan peran masjid sesuai kebutuhan masyarakat.
Dalam pembinaan di Sidopekso, aspek ibadah dan kelembagaan ditempatkan dalam satu rangkaian. Materi Al-Fatihah diarahkan untuk meningkatkan ketepatan bacaan dalam salat, sementara materi manajemen memberikan bekal kepada pengurus dalam menjalankan organisasi masjid.
“Dalam konteks ini, materi bacaan Al-Fatihah dan manajemen organisasi diberikan dalam satu kegiatan. Aspek ibadah diperkuat melalui pembelajaran bacaan yang benar, sementara aspek kelembagaan diperkuat melalui materi manajemen dan keorganisasian,” tuturnya.
Barzan berharap tambahan wawasan tersebut dapat diterapkan dalam aktivitas takmir dan kehidupan jamaah sehari-hari. Salah satu perhatian yang kembali ditekankan adalah kemampuan jamaah membaca Al-Fatihah dengan baik, termasuk ketepatan tajwid dan makhrajul huruf.
“Bagaimana jamaah masjid itu salatnya benar, terutama bacaan Fatihahnya itu benar. Tajwidnya, makhrajul hurufnya dan semuanya itu benar,” ujarnya.
Ia berharap pembinaan tidak berhenti pada kegiatan tersebut, tetapi memberikan manfaat bagi pengurus dalam mengoptimalkan peran masjid di lingkungannya.
“Harapan kami mudah-mudahan kegiatan ini dapat membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi para peserta,” pungkasnya. (nab/zid)
Baca Juga :
.jpeg)