562 Pesilat Muda Kabupaten Probolinggo Ditempa Lewat Open Tournament Pencak Silat


Kraksaan, Lensaupdate.com - Kemampuan atlet pencak silat tidak cukup dibentuk melalui latihan rutin. Pengalaman turun langsung ke arena pertandingan menjadi bagian penting untuk menguji kemampuan sekaligus membangun mental bertanding.

Ruang tersebut dibuka Pengurus Kabupaten (Pengkab) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Probolinggo melalui Open Tournament Pencak Silat di GOR Sasana Krida Kraksaan.

Turnamen yang berlangsung selama empat hari, Kamis hingga Minggu (1–4/10/2026) itu diikuti 562 atlet dari berbagai jenjang pendidikan hingga kategori umum. Para peserta bertanding dalam 40 kelas.

Peserta berasal dari tingkat SD, SLTP, SLTA, mahasiswa hingga kategori umum. Keragaman jenjang tersebut membuat arena pertandingan tidak hanya menjadi tempat memperebutkan gelar juara, tetapi juga menjadi ruang bagi pesilat untuk mendapatkan pengalaman menghadapi lawan dalam situasi pertandingan sebenarnya.

Bagi atlet muda, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses untuk mengetahui sejauh mana hasil latihan dapat diterapkan ketika menghadapi tekanan kompetisi.

Dalam turnamen tersebut, persaingan antar pesilat juga menghasilkan capaian dari sejumlah perguruan. Juara umum pertama diraih PBDNJ, disusul SH Terate sebagai juara umum kedua dan Perisai Diri sebagai juara umum ketiga.

Capaian tersebut menjadi bagian dari hasil kompetisi yang mempertemukan ratusan atlet dari berbagai kelompok dan jenjang.

Ketua Pengkab IPSI Kabupaten Probolinggo Achmad Febrianto mengatakan, turnamen tersebut memang diarahkan untuk memberikan ruang kepada atlet muda agar memiliki kesempatan bertanding dan mengembangkan prestasinya.

“Open Tournament Pencak Silat ini kami gelar untuk mewadahi dan memberikan kesempatan kepada atlet-atlet muda untuk berprestasi,” ujarnya.

Menurut Febri, kompetisi menjadi kesempatan bagi atlet untuk menunjukkan kemampuan yang selama ini dibangun melalui latihan.

“Kompetisi ini menjadi ruang bagi para atlet untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam pertandingan,” jelasnya.

Karena itu, berakhirnya turnamen tidak berarti proses pembinaan ikut berhenti. Justru hasil pertandingan dapat menjadi bahan evaluasi bagi atlet untuk mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki dalam latihan.

Febri berharap para atlet pencak silat di Kabupaten Probolinggo tetap menjaga konsistensi latihan setelah mengikuti turnamen. Konsistensi tersebut diperlukan agar kemampuan yang sudah dimiliki terus berkembang dan dapat menjadi bekal menghadapi kompetisi pada level lebih tinggi.

“Harapannya, semoga atlet-atlet muda pencak silat di Kabupaten Probolinggo bisa konsisten berlatih sehingga bisa menorehkan prestasi di tingkat yang lebih tinggi,” terangnya.

Lebih jauh Febri menegaskan bahwa turnamen seperti ini perlu dilihat sebagai bagian dari pembinaan berkelanjutan. Atlet muda tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga pengalaman menghadapi pertandingan dan tekanan kompetisi.

“Bagi atlet muda, pengalaman bertanding menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembinaan. Melalui kompetisi, mereka memiliki kesempatan untuk menguji hasil latihan sekaligus membangun mental bertanding,” pungkasnya.

Dengan demikian, arena pertandingan tidak hanya menentukan siapa yang menjadi juara. Bagi ratusan pesilat muda yang ambil bagian, kompetisi menjadi tahap untuk mengukur kemampuan, mengenali kekurangan dan membangun kesiapan menghadapi persaingan yang lebih tinggi.

Konsistensi setelah kompetisi menjadi pekerjaan berikutnya. Latihan yang terarah dan pengalaman bertanding yang terus bertambah diharapkan dapat membentuk atlet pencak silat Kabupaten Probolinggo yang semakin siap berprestasi. (nab/zid)

Baca Juga :