RSUD Waluyo Jati Kabupaten Probolinggo Jadikan Akreditasi Bagian dari Budaya Mutu


Kraksaan, Lensaupdate.com - RSUD Waluyo Jati Kabupaten Probolinggo terus memperkuat budaya mutu dan keselamatan pasien melalui bimbingan teknis (bimtek) akreditasi bab manajemen, khususnya Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS) serta Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP), Jum'at (4/9/2026).

Bimtek yang berlangsung di ruang pertemuan dr. R.I. Wirjono RSUD Waluyo Jati tersebut menghadirkan narasumber dr. Sugiharto Tanto dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Kegiatan diikuti Pokja TKRS, Pokja PMKP dan seluruh Ketua Pokja Akreditasi RSUD Waluyo Jati.

Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penguatan pemahaman mengenai implementasi standar TKRS dan PMKP. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan tata kelola rumah sakit berjalan efektif sekaligus mendorong peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Direktur RSUD Waluyo Jati dr. Yessi Rahmawati mengatakan akreditasi harus ditempatkan sebagai bagian dari proses membangun sistem pelayanan rumah sakit yang berkelanjutan.

Menurutnya, akreditasi tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pemenuhan dokumen atau persiapan menghadapi survei. Lebih dari itu, standar akreditasi harus diterapkan dalam aktivitas pelayanan sehari-hari sehingga memberikan dampak langsung kepada pasien.

“Akreditasi bukan sekadar memenuhi dokumen atau mempersiapkan diri menghadapi survei, tetapi merupakan proses membangun sistem pelayanan yang aman, bermutu, terukur dan berorientasi pada keselamatan pasien, karena surveyor yang sebenarnya adalah pasien yang kita layani,” katanya.

Yessi menegaskan, pengalaman pasien menjadi salah satu tolok ukur penting dalam melihat keberhasilan penerapan sistem pelayanan rumah sakit. Karena itu, setiap prosedur dan sistem yang dibangun harus memberikan manfaat nyata bagi pengguna layanan.

“Setiap sistem dan prosedur yang dibangun di rumah sakit pada akhirnya harus memberikan dampak nyata terhadap kualitas pelayanan yang diterima pasien,” jelasnya.

Ia menjelaskan, TKRS memiliki peran dalam membangun tata kelola rumah sakit yang efektif. Sementara PMKP diarahkan untuk memastikan upaya peningkatan mutu dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap menempatkan keselamatan pasien sebagai bagian utama dalam setiap proses pelayanan.

“Implementasi akreditasi diharapkan tidak berhenti pada pemenuhan aspek administratif. Standar yang dipahami dan diterapkan secara konsisten diharapkan dapat menjadi bagian dari budaya kerja seluruh jajaran RSUD Waluyo Jati,” tambahnya.

Sementara narasumber dr. Sugiharto Tanto menekankan bahwa pemahaman terhadap standar akreditasi harus diikuti kesamaan persepsi seluruh jajaran rumah sakit.

Menurutnya, penerapan standar tidak akan optimal apabila hanya dipahami oleh kelompok tertentu. Setiap unsur yang terlibat dalam pelayanan perlu memiliki pemahaman yang sama agar standar dapat diterapkan secara konsisten dalam pekerjaan sehari-hari.

“Yang terpenting bukan sekadar memahami standar, tetapi bagaimana seluruh jajaran memiliki persepsi yang sama dan mampu mengimplementasikannya secara konsisten, sehingga TKRS dan PMKP benar-benar memberikan dampak terhadap mutu pelayanan dan keselamatan pasien,” ujarnya.

Melalui bimtek tersebut, RSUD Waluyo Jati berupaya menyelaraskan pemahaman seluruh pokja mengenai standar akreditasi. Penguatan kapasitas tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam menghadapi proses survei, tetapi juga memperkuat penerapan standar dalam setiap layanan.

Dengan penerapan yang konsisten, akreditasi diharapkan menjadi bagian dari budaya kerja RSUD Waluyo Jati dalam memberikan pelayanan yang aman, bermutu, terukur dan berorientasi pada keselamatan pasien. (nab/zid)

Baca Juga :