Ratusan Guru di Kabupaten Probolinggo Didorong Jadi Mitra Cegah Stunting


Kraksaan, Lensaupdate.com - Guru di Kabupaten Probolinggo didorong tidak hanya berperan dalam proses pembelajaran, tetapi juga ikut mengenali berbagai persoalan yang dapat memengaruhi masa depan peserta didik. Sebanyak 500 guru PAUD, SD dan SMP mendapatkan penguatan untuk menjadi mitra dalam pencegahan stunting dan perkawinan anak.

Penguatan tersebut dilakukan melalui sosialisasi guru sebagai mitra dalam pencegahan stunting dan perkawinan anak yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Kamis (17/9/2026).

Peserta terdiri atas 400 guru PAUD dan SD perwakilan dari seluruh Kabupaten Probolinggo serta 100 guru SMP negeri dan swasta. Materi disampaikan oleh Ranti dari DP3AP2KB Kabupaten Probolinggo/Puspaga, Sutilah dari Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo dan Massajo dari Pokja 2 TP PKK Kabupaten Probolinggo.

Kepala Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Hary Tjahjono mengatakan, sekolah memiliki posisi penting dalam upaya pencegahan stunting dan perkawinan dini. Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup ditangani melalui sosialisasi, tetapi membutuhkan tindakan nyata dan keterlibatan berbagai pihak.

“Upaya tersebut tidak cukup dilakukan melalui sosialisasi, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan melibatkan berbagai pihak,” katanya.

Hary mengatakan pencegahan stunting dan perkawinan dini berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Stunting, misalnya, tidak hanya menyangkut kondisi fisik anak, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap tumbuh kembang dan kemampuan belajar.

Sementara perkawinan dini memiliki persoalan yang lebih luas daripada sekadar usia. Kesiapan fisik, psikologis, pendidikan, kesehatan dan sosial menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

“Sementara perkawinan dini, tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan usia. Hal tersebut juga menyangkut kesiapan fisik, psikologis, pendidikan, kesehatan, sosial serta kesiapan dalam membangun keluarga,” terangnya.

Dalam konteks tersebut, guru dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi dengan peserta didik setiap hari. Guru dapat mengenali perubahan perilaku, semangat belajar, kehadiran maupun persoalan sosial dan keluarga yang dialami anak.

“Guru mempunyai posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan peserta didik setiap hari. Guru dapat menjadi pihak pertama yang mengenali adanya perubahan perilaku, kondisi fisik, semangat belajar, kehadiran maupun persoalan sosial dan keluarga yang dialami anak,” tegasnya.

Namun, Hary mengingatkan guru tidak melakukan diagnosis sendiri ketika menemukan anak yang membutuhkan perhatian. Langkah yang perlu dilakukan adalah memberikan pendampingan, berkomunikasi dengan orang tua dan menghubungkan anak dengan tenaga profesional atau pihak berwenang.

Dalam pencegahan stunting, sekolah dapat memperkuat literasi gizi dan kesehatan, perilaku hidup bersih dan sehat serta aktivitas fisik. Lingkungan sekolah juga perlu dijaga agar sehat, aman, nyaman dan ramah anak.

Koordinasi dengan Puskesmas, Posyandu, PKK dan lembaga terkait diperlukan ketika ditemukan persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Sementara dalam pencegahan perkawinan dini, pendekatan edukatif dan tidak menghakimi menjadi perhatian. Anak perlu memperoleh informasi yang benar mengenai pendidikan, kesehatan reproduksi, kesiapan berkeluarga, konsekuensi perkawinan dini serta pentingnya merencanakan masa depan.

Hary juga meminta sekolah memberi perhatian kepada anak yang berisiko putus sekolah, menghadapi tekanan keluarga atau mengalami persoalan sosial.

“Komunikasi antara guru dan orang tua harus terus diperkuat agar berbagai risiko seperti masalah gizi, kesehatan, psikologis, putus sekolah dan perkawinan dini dapat diketahui serta ditangani sejak dini,” pungkasnya. (nab/zid)

Baca Juga :