Kraksaan, Lensaupdate.com - Lantunan musik hadrah menjadi salah satu cara anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Probolinggo menunjukkan kemampuan, membangun kepercayaan diri dan mempererat kebersamaan. Keterbatasan penglihatan tidak menghalangi mereka untuk terus belajar, berlatih dan tampil di tengah masyarakat.
Kisah inspiratif tersebut dibagikan dalam podcast Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Bromo FM bertajuk “Suara Cahaya: Kisah Hadrah Tunanetra Pertuni yang Menggetarkan Hati”, Sabtu (5/9/2026).
Podcast yang berlangsung di Kantor LPPL Radio Bromo FM, Jalan Raya Rengganis Nomor 1, Gedung Islamic Center lantai dasar Kraksaan, dipandu Veyy dengan menghadirkan tiga anggota Pertuni, yakni Adam, Wahyu Purnomo dan Zaini.
Dalam perbincangan tersebut, ketiganya menceritakan pengalaman belajar sekaligus mengembangkan kemampuan bermain hadrah. Bagi mereka, memainkan alat musik membutuhkan konsentrasi, kemampuan mengenali ritme, ketepatan pukulan dan kekompakan antarpemain.
Latihan rutin menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dengan berlatih secara konsisten, setiap pemain dapat semakin memahami pola tabuhan sekaligus menjaga irama ketika tampil bersama.
Wahyu Purnomo mengatakan, kemauan untuk terus belajar menjadi salah satu kunci dalam menguasai permainan hadrah. Menurutnya, kemampuan akan semakin terasah ketika seseorang terbiasa memainkan alat musik dan memahami setiap pukulannya.
“Tetap semangat belajar. Dengan sering memainkan alat, kita akan lebih cepat menerima dan memahami pukulannya,” ujarnya.
Sementara Adam menceritakan perjalanan awal terbentuknya grup hadrah yang kemudian menjadi ruang bagi penyandang tunanetra untuk mengembangkan potensi di bidang seni musik.
Ketertarikannya terhadap musik bermula ketika dirinya menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) dan mengajar musik. Dari pengalaman tersebut, Adam kemudian mengajak penyandang tunanetra lainnya untuk belajar hadrah bersama.
Kelompok tersebut selanjutnya mulai tampil dalam berbagai kegiatan keagamaan, termasuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan membangun kelompok hadrah tersebut juga diwarnai pengalaman kurang menyenangkan. Adam mengaku pernah merasa dikucilkan ketika berada di tengah masyarakat karena kondisi yang dialaminya.
Namun, pengalaman tersebut tidak menghentikan langkahnya untuk berkarya. Justru, pengalaman itu semakin menguatkan semangatnya untuk terus belajar dan beraktivitas.
“Memang sedikit sakit hati, tetapi saya tetap semangat,” kata Adam.
Kisah perjalanan mengenal hadrah juga disampaikan Zaini. Ia mulai belajar hadrah setelah diajak mengikuti latihan untuk persiapan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Seiring waktu, ketertarikannya terhadap seni hadrah semakin berkembang. Ia memilih Hadrah Al-Habsyi karena pola tabuhannya dapat dikembangkan dan divariasikan mengikuti lagu-lagu yang sedang populer.
Bagi anggota Pertuni Kabupaten Probolinggo, hadrah bukan sekadar aktivitas seni. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengekspresikan diri, membangun kepercayaan diri sekaligus memperkuat hubungan antarsesama penyandang tunanetra.
Latihan dan penampilan bersama juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat kemampuan penyandang disabilitas dari perspektif yang lebih luas. Keterbatasan fisik tidak serta-merta membatasi seseorang untuk belajar, berkarya dan memberikan kontribusi.
Melalui kegiatan seni, para anggota Pertuni justru menunjukkan bahwa potensi dapat berkembang ketika diberikan kesempatan, dukungan dan ruang untuk berproses.
Wahyu Purnomo berharap kegiatan hadrah dapat terus berkembang sekaligus menjadi sarana untuk memperkenalkan keberadaan Pertuni kepada masyarakat Kabupaten Probolinggo.
“Harapan kami, Pertuni semakin dikenal masyarakat dan silaturahmi semakin erat,” tambahnya.
Semangat anggota Pertuni melalui seni hadrah menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Dengan kemauan belajar dan latihan yang konsisten, mereka terus menemukan ruang untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Lantunan hadrah pun menjadi medium yang menyatukan semangat, kreativitas dan kebersamaan para penyandang tunanetra di Kabupaten Probolinggo. (nab/zid)
Baca Juga :
