Kraksaan, Lensaupdate.com - Tantangan organisasi Fatayat NU tidak berhenti setelah kepengurusan baru terbentuk. Justru setelah pelantikan, pekerjaan penting berada di tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan ranting untuk memastikan kaderisasi terus berjalan serta kegiatan organisasi benar-benar hadir di tengah masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam pelantikan pengurus PAC Fatayat Nahdlatul Ulama se-Cabang Kraksaan masa khidmat 2026–2029 di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Rabu (30/9/2026) sore.
Sebanyak 13 PAC dilantik, yakni Gending, Tiris Barat, Gading, Banyuanyar, Besuk, Pajarakan, Paiton, Kotaanyar, Tiris Timur, Krucil, Maron, Pakuniran dan Kraksaan. Prosesi pelantikan dipimpin Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Timur Siti Maulidah.
Ketua PC Fatayat NU Kraksaan Fatimah Al Zahra mengatakan kepengurusan PAC yang baru merupakan hasil dari proses organisasi di tingkat anak cabang. Setelah konferensi dilaksanakan, ketua-ketua PAC terpilih kemudian dilantik untuk menjalankan amanah organisasi.
“Alhamdulillah satu tahun kemudian terlaksana konferensi-konferensi di anak cabang-anak cabang. Dan terpilihlah ketua-ketua baru. Alhamdulillah sekarang Ketua PAC-nya dilantik semua,” ujarnya.
Bagi Fatimah, pelantikan tersebut harus menjadi titik awal untuk memperkuat pengabdian. Pengurus dan kader diminta tidak hanya menjalankan administrasi organisasi, tetapi mampu menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
“Oleh karena itu, di sini saya ingin menyerukan semangat untuk menebar kebaikan, semangat untuk berkhidmat, memberikan manfaat yang nyata di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.
Salah satu ruang yang didorong untuk diperkuat adalah hubungan PAC dengan pemerintah kecamatan dan TP PKK. Menurut Fatimah, jejaring tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi dalam menjalankan kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Dari 14 PAC ini saya titip Bapak Camat dan Ibu Camat. Saya titip mohon disapa di kecamatannya masing-masing. Sinergi antara TP PKK dengan Fatayat di anak cabang masing-masing,” lanjutnya.
Sementara itu, Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur Siti Maulidah menempatkan kaderisasi sebagai pekerjaan utama untuk menjaga keberlanjutan organisasi. Menurutnya, kekuatan Fatayat tidak hanya berada pada struktur pimpinan cabang atau anak cabang, tetapi juga sampai ke pimpinan ranting dan anggota.
“Kaderisasi masa depan organisasi. Sumber daya manusianya harus kita bangun, kita kuatkan. Gerakan LKD, DTD ini harus dilakukan, bukan di pimpinan cabang saja, tetapi diikuti oleh pimpinan ranting dan pimpinan anak cabang,” ungkapnya.
Karena itu, PAC diminta tidak hanya memiliki struktur yang lengkap, tetapi juga mampu menghidupkan ranting di bawahnya. Aktivitas organisasi di tingkat paling dekat dengan masyarakat menjadi salah satu ukuran keberlanjutan kaderisasi.
“Jangan sampai banyak biaya tapi tidak bermutu. Hidupnya anak cabang, hidupnya pimpinan ranting itu adalah bagian yang harus kita kuatkan dan selalu dilakukan, dimantapkan oleh sahabat-sahabat,” tuturnya.
Siti juga memperluas agenda kaderisasi pada persoalan yang dihadapi masyarakat. Fatayat NU didorong memperkuat gerakan perempuan, perlindungan perempuan dan anak serta pencegahan kekerasan.
Salah satu yang disoroti adalah edukasi HIV-AIDS. Siti mendorong kader memanfaatkan kegiatan pengajian di tingkat ranting sebagai ruang edukasi masyarakat.
“Melalui pengajian-pengajian yang dilakukan oleh sahabat-sahabat di ranting itu adalah sosialisasi penanggulangan HIV-AIDS. Karena melalui Dinas Kesehatan saja tidak cukup,” urainya.
Kader juga diminta tidak mengabaikan ruang digital. Aktivitas organisasi di tengah masyarakat dapat dikemas menjadi konten positif sehingga kerja kader sekaligus menjadi bagian dari literasi digital.
“Bagaimana sahabat-sahabat ini memproduksi sebagai produsen-produsen konten yang positif. Apa yang sudah panjenengan lakukan, yang kelihatannya itu sederhana, sampaikanlah. Tampakkan melalui literasi digital yang panjenengan miliki,” pintanya.
Dari sisi pemerintah daerah, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Kabupaten Probolinggo Agus Mukson menilai pelantikan merupakan momentum untuk meneguhkan kembali tanggung jawab organisasi.
“Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian atau pengukuhan kepengurusan. Lebih dari itu, pelantikan merupakan momentum untuk meneguhkan kembali niat, komitmen dan tanggung jawab pengabdian,” katanya.
Agus mengatakan perubahan teknologi dan arus informasi yang cepat turut membentuk lingkungan baru bagi generasi muda. Kondisi tersebut membutuhkan peran organisasi kemasyarakatan dalam mendampingi berbagai persoalan sosial.
“Kita bisa memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan, meningkatkan literasi digital, mendukung pendidikan anak dan remaja, memperkuat ketahanan keluarga, mendorong kepedulian terhadap kesehatan anak dan remaja, mencegah perkawinan anak, serta berbagai persoalan sosial lainnya,” terangnya.
Ia pun berpesan agar kepengurusan baru menjadikan organisasi sebagai ruang belajar sekaligus pengabdian.
“Jaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Jadikan organisasi sebagai tempat untuk belajar, berkhidmat dan bermanfaat,” pesannya.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan KH Hafidzul Hakiem Noer juga mendorong Fatayat NU memperkuat sinergi dengan berbagai pihak. Baginya, pengabdian organisasi perlu diarahkan pada kemanfaatan bagi masyarakat.
“Fatayat NU, PCNU dan semua PAC Fatayat NU harus saling bersinergi dan harus bangkit bersama untuk mewujudkan kemanfaatan dan kemaslahatan warga Nahdlatul Ulama, khususnya Probolinggo,” tambahnya.
Pelantikan tersebut turut dirangkai dengan penyerahan hadiah Lomba Video Kreatif. PAC Fatayat NU Kecamatan Gending meraih juara pertama, disusul PAC Besuk sebagai juara kedua dan PAC Paiton sebagai juara ketiga.
Dengan kepengurusan baru yang telah terbentuk, tantangan berikutnya berada pada kemampuan PAC menghidupkan ranting, memperkuat kader dan menghubungkan kerja organisasi dengan kebutuhan masyarakat. Struktur organisasi menjadi dasar, sementara kerja nyata di tingkat akar rumput menjadi ruang pembuktian pengabdian. (nab/zid)
Baca Juga :
.jpeg)