Gading, Lensaupdate.com - Kerajinan dandang tradisional yang telah menjadi identitas Desa Dandang Kecamatan Gading mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. Melalui program Ngantor di Kecamatan Gading, Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Fahmi AHZ menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung keberlangsungan usaha para perajin agar tetap mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah persaingan industri modern.
Komitmen tersebut disampaikan Wabup Fahmi saat mengunjungi sentra kerajinan milik Mahfud di Desa Dandang Kecamatan Gading, Senin (29/6/2026). Dalam kunjungan itu, ia didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo M. Sjaiful Efendi, sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), jajaran Pemerintah Kecamatan Gading serta Pemerintah Desa Dandang.
Di lokasi, rombongan melihat secara langsung proses pembuatan dandang dan wajan yang hingga kini masih dilakukan secara manual. Mulai dari pembentukan bahan, penyambungan hingga penyelesaian akhir dikerjakan dengan keterampilan tangan yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Wabup Fahmi, keberadaan para perajin tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan identitas Desa Dandang. Ia mengaku baru mengetahui bahwa nama desa tersebut berasal dari aktivitas masyarakat yang sejak dahulu dikenal sebagai pembuat dandang.
"Setelah kami datang langsung ke sini, ternyata Desa Dandang memiliki sejarah yang sangat menarik. Nama desa ini lahir karena masyarakatnya sejak dulu dikenal sebagai pengrajin dandang. Tradisi itu masih bertahan hingga sekarang dan tentu menjadi kekayaan budaya yang harus kita jaga bersama," katanya.
Wabup Fahmi menilai potensi tersebut layak dikembangkan sebagai salah satu produk unggulan UMKM Kabupaten Probolinggo. Selain memiliki pasar yang masih terbuka, produk rumah tangga seperti dandang dan wajan juga tetap dibutuhkan masyarakat sehingga memiliki prospek usaha yang cukup menjanjikan.
"Kami ingin UMKM seperti ini terus berkembang. Produk yang mereka hasilkan merupakan kebutuhan masyarakat sehingga peluang pasarnya masih sangat besar. Pemerintah akan terus hadir memberikan dukungan agar usaha mereka semakin maju," jelasnya.
Dalam dialog bersama para pengrajin, Wabup Fahmi menerima berbagai aspirasi terkait keterbatasan alat produksi yang masih sederhana. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan kapasitas produksi maupun efisiensi pekerjaan.
Karena Desa Dandang juga merupakan salah satu wilayah penghasil tembakau, Pemkab Probolinggo akan mengkaji kemungkinan pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk membantu penyediaan peralatan produksi bagi para perajin.
"Seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual. Kami akan berkoordinasi dengan OPD terkait untuk mengkaji kemungkinan bantuan melalui DBHCHT. Mudah-mudahan memungkinkan sehingga produktivitas para perajin dapat meningkat dan usaha mereka semakin berkembang," tegasnya.
Sementara Mahfud mengaku telah menekuni usaha pembuatan dandang sejak tahun 2007. Saat ini usahanya mempekerjakan empat orang pekerja setelah sebagian besar tenaga kerja sebelumnya memilih membuka usaha sendiri.
"Dulu karyawannya lebih banyak. Sekarang tinggal empat orang karena banyak yang sudah bisa membuat sendiri lalu membuka usaha masing-masing," ujarnya.
Mahfud menjelaskan seluruh modal usaha masih berasal dari dana pribadi. Untuk memperluas pemasaran, selain menjual secara langsung ke berbagai daerah, ia juga memanfaatkan pemasaran secara daring sehingga produknya dapat menjangkau konsumen lebih luas.
Ia berharap pemerintah dapat membantu penyediaan peralatan produksi agar proses pembuatan dandang menjadi lebih cepat dan kapasitas produksi meningkat.
"Harapan kami ada bantuan alat produksi karena peralatan yang kami miliki masih terbatas. Kalau alatnya lebih lengkap, produksi tentu bisa lebih banyak," pungkasnya. (ren/zid)
