Ritual Pengambilan Tirta Suci Tandai Dimulainya Yadnya Kasada 2026


Lumbang, Lensaupdate.com - Umat Hindu Tengger mulai melaksanakan rangkaian ritual Yadnya Kasada 1948 Saka/2026 Masehi melalui prosesi Mendak Tirta di kawasan Air Terjun Madakaripura, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jum'at (29/5/2026). Ritual ini menjadi simbol penyucian sebelum puncak perayaan Kasada yang akan berlangsung di kawasan Gunung Bromo.

Sejak pagi, puluhan warga Tengger bersama pemangku adat dan tokoh agama berjalan menuju sumber mata air yang dianggap sakral. Mereka membawa berbagai sesaji sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan dalam pelaksanaan seluruh rangkaian upacara Kasada.

Prosesi diawali dengan persembahyangan bersama yang dipimpin pemangku Desa Ngadas, Slamet. Setelah pembacaan mantra-mantra suci, para pandita mengambil air dari sumber mata air Madakaripura untuk dijadikan tirta yang nantinya digunakan dalam penyucian sarana upacara di Pura Luhur Poten.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto menjelaskan bahwa Mendak Tirta merupakan salah satu tahapan penting dalam tradisi Kasada yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Tengger.

“Air suci yang diambil dari empat sumber mata air sakral akan dikumpulkan menjadi satu dan digunakan untuk menyucikan perlengkapan ibadah di Pura Luhur Poten sebelum puncak pelaksanaan Yadnya Kasada,” ujarnya.

Menurut Bambang, selain Madakaripura, pengambilan tirta juga dilakukan di tiga lokasi suci lainnya, yakni Sumber Watu Klosot dan Ranu Pane di Lumajang serta mata air Widodaren yang berada di kawasan Gunung Bromo. Seluruh air suci tersebut kemudian dipersatukan sebagai lambang keharmonisan masyarakat Tengger yang tersebar di wilayah Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang.

Madakaripura sendiri memiliki makna khusus bagi masyarakat Tengger. Kawasan ini dipercaya sebagai tempat moksa Patih Gajah Mada setelah memperoleh tanah perdikan dari Raja Hayam Wuruk pada masa Kerajaan Majapahit. Kepercayaan tersebut menjadikan Madakaripura sebagai salah satu lokasi yang disakralkan hingga saat ini.

Sementara Camat Sukapura Nur Rachmad Sholeh menegaskan bahwa pemerintah akan terus memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi masyarakat Tengger sebagai bagian dari warisan budaya yang bernilai tinggi.

“Mendak Tirta adalah ritual tahunan masyarakat Tengger yang memiliki nilai spiritual dan budaya sangat tinggi. Pemerintah akan terus mendukung agar tradisi ini tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Ritual Mendak Tirta menjadi awal dari serangkaian kegiatan Yadnya Kasada yang berakar pada legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat Tengger kepada Sang Hyang Widhi Wasa atas berkah kehidupan sekaligus penghormatan terhadap ajaran leluhur yang terus dijaga hingga kini.

Puncak Yadnya Kasada dijadwalkan berlangsung di Pura Luhur Poten dan Kawah Bromo dengan prosesi pelarungan hasil bumi serta berbagai persembahan sebagai simbol syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan yang diterima masyarakat sepanjang tahun. (put/zid)