Kraksaan, Lensaupdate.com - Puasa tidak semata-mata dimaknai sebagai ibadah personal antara hamba dan Allah SWT. Lebih dari itu, puasa merupakan rekayasa sosial ilahiyah yang dirancang untuk membentuk karakter individu sekaligus menata kehidupan sosial yang berkeadaban.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo KH. Abdul Wasik Hannan. Menurutnya, puasa memiliki dimensi spiritual dan sosial yang tidak bisa dipisahkan. Ibadah ini melatih pengendalian diri, kejujuran dan kesabaran, namun pada saat yang sama juga menumbuhkan empati dan solidaritas terhadap sesama.
“Puasa bukan hanya ibadah personal, tetapi rekayasa sosial ilahiyah. Di dalamnya ada proses pembentukan manusia yang berempati, masyarakat yang peduli dan pada akhirnya melahirkan peradaban yang bermoral,” katanya.
Kiai Wasik menjelaskan, ketika seseorang menahan lapar dan dahaga, sesungguhnya ia sedang belajar merasakan apa yang dialami oleh saudara-saudaranya yang kurang beruntung. Dari proses itu lahir kepekaan sosial. Kepekaan inilah yang menjadi fondasi kepedulian dan semangat berbagi di tengah masyarakat.
“Rasa lapar yang kita rasakan saat puasa adalah pendidikan rasa. Dari sana muncul kesadaran bahwa masih banyak saudara kita yang setiap hari merasakan hal yang sama, bahkan tanpa pilihan. Inilah yang mendorong lahirnya empati dan kepedulian sosial,” jelasnya.
Lebih lanjut Kiai Wasik menilai puasa juga berfungsi sebagai instrumen pengendalian diri dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kondisi menahan diri dari hal-hal yang dibolehkan sekalipun, umat Islam dilatih untuk menjauhi perbuatan tercela seperti kebohongan, fitnah, korupsi dan segala bentuk kemungkaran.
“Kalau saat berpuasa saja kita masih mudah marah, masih menyakiti orang lain, maka ruh puasa belum kita pahami secara utuh. Puasa mendidik kita untuk menjaga lisan, menjaga sikap dan menjaga hati,” terangnya.
Ia menambahkan, apabila nilai-nilai puasa benar-benar diinternalisasi, maka dampaknya tidak hanya dirasakan secara individual, tetapi juga kolektif. Masyarakat akan tumbuh menjadi komunitas yang saling menghormati, saling membantu dan menjunjung tinggi nilai keadilan.
“Bayangkan jika nilai kejujuran, kesabaran dan kepedulian yang dilatih selama puasa itu kita bawa dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah akan lahir masyarakat yang kuat secara moral dan kokoh secara sosial,” imbuhnya.
Kiai Wasik menerangkan, tantangan zaman modern yang sarat dengan materialisme dan individualisme justru semakin menegaskan pentingnya puasa sebagai benteng moral. Puasa menjadi momentum untuk merefleksikan diri, memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
“Puasa adalah sekolah kehidupan. Ia membentuk karakter, memperkuat solidaritas dan membangun peradaban yang berlandaskan akhlak mulia. Inilah hakikat rekayasa sosial ilahiyah yang harus kita pahami bersama,” pungkasnya. (nab/zid)
