Probolinggo, Lensaupdate.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem pada awal tahun 2026. Penguatan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi penanggulangan bencana yang dipimpin langsung oleh Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris bersama Wakil Bupati Fahmi AHZ di Pendopo Kabupaten Probolinggo, Senin (19/1/2026) sore.
Rapat koordinasi ini dilaksanakan menyusul peringatan dini dari BMKG Juanda terkait potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Jawa Timur. BMKG memprediksi terjadinya hujan sedang hingga lebat yang berpotensi menimbulkan banjir, tanah longsor, angin kencang hingga puting beliung pada periode Januari hingga Maret 2026, termasuk di Kabupaten Probolinggo.
Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menegaskan bahwa penanggulangan bencana harus dilakukan secara terencana dan tidak bersifat reaktif. Menurutnya, kesiapan sejak dini menjadi kunci utama dalam menekan risiko serta dampak bencana bagi masyarakat.
“Pemerintah tidak boleh menunggu kejadian baru bertindak. Kehadiran pemerintah harus lebih awal, lebih cepat dan lebih terkoordinasi agar masyarakat merasa aman dan terlindungi,” ujarnya.
Dalam arahannya, Bupati Haris menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta optimalisasi peran kecamatan dan desa sebagai garda terdepan penanganan bencana. Ia kembali menguatkan penerapan konsep BPBD GERCEP SAE (Gerak Cepat, Terpadu, Berbasis Kecamatan dan Desa) sebagai pola kerja utama penanggulangan bencana di Kabupaten Probolinggo.
“BPBD bertindak sebagai komando teknis, kecamatan menjadi ujung tombak respons di lapangan, sementara Desa Tangguh Bencana diharapkan mampu menjalankan fungsi peringatan dini dan mitigasi risiko di tingkat desa,” jelasnya.
Sementara Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ menyoroti pentingnya evaluasi terhadap berbagai kejadian bencana yang terjadi sepanjang Januari 2026. Evaluasi tersebut dinilai krusial agar penanganan ke depan dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat dan terukur.
“Setiap kejadian harus menjadi bahan pembelajaran. Dengan evaluasi yang baik, respons bisa lebih sigap, asesmen lebih akurat dan mitigasi dapat dilakukan lebih dini,” katanya.
Data BPBD Kabupaten Probolinggo menunjukkan sejumlah bencana telah terjadi di beberapa wilayah, di antaranya longsor di Kecamatan Krucil, banjir di Kecamatan Sumberasih dan Tongas serta banjir di wilayah barat dan timur Kabupaten Probolinggo. Selain itu, cuaca ekstrem juga mengakibatkan kerusakan fasilitas pendidikan berupa ambruknya ruang kelas di SDN Sumberkare 1 Kecamatan Wonomerto.
Dalam rakor tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo memaparkan perkembangan kondisi cuaca terkini, peta prakiraan curah hujan, data kejadian bencana serta jumlah warga terdampak banjir yang mencapai ratusan kepala keluarga di beberapa kecamatan. Paparan tersebut menjadi dasar penyusunan langkah antisipasi dan penanganan lanjutan.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkim) Kabupaten Probolinggo Agus Budianto juga menyampaikan kondisi infrastruktur terdampak bencana, mulai dari jembatan rusak dan terputus hingga plengsengan yang berpotensi longsor. Sementara para camat memaparkan kesiapan wilayah masing-masing dalam menghadapi kemungkinan bencana susulan.
Kapolres Probolinggo AKBP M. Wahyudin Latif turut memberikan arahan strategis terkait kesiapan personel Polri di tingkat kecamatan. Langkah pemetaan personel dilakukan untuk memastikan pengamanan wilayah, proses evakuasi serta distribusi bantuan dapat berjalan cepat dan terkoordinasi.
Melalui rapat koordinasi ini, Pemkab Probolinggo menegaskan komitmennya membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh, terpadu dan responsif, dengan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama hingga ke tingkat desa. (mel/fas)
