DKUPP Kabupaten Perkuat Ekonomi Masyarakat, 50 Pelaku UMKM Banyuanyar Dilatih Kerajinan Bambu Berbasis GMP


Banyuanyar, Lensaupdate.com – Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Kabupaten Probolinggo terus memperkuat daya saing pelaku usaha lokal melalui pengembangan industri kreatif. Salah satunya diwujudkan dengan pelatihan industri kerajinan bambu berbasis Good Manufacturing Practice (GMP) bagi pelaku usaha industri wanita di Kecamatan Banyuanyar, Jum’at (28/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Sumber Mata Air Perawan (Olbek) Desa Liprak Kulon Kecamatan Banyuanyar ini diikuti 50 pelaku usaha mikro wanita di wilayah Kecamatan Banyuanyar. 

Para peserta mendapatkan pembinaan langsung dari narasumber Irfan Ardiansyah dari Strive Indonesia dan Pengusaha UMKM Marem Craft Miskadi. Pada kesempatan tersebut, diberikan pula sertifikat kewirausahaan dan pelatihan secara simbolis kepada perwakilan peserta.

Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Sugeng Wiyanto melalui Kepala Bidang Usaha Mikro Aditia Arya Guntoro menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat penguatan ekonomi masyarakat melalui program pembinaan dan digitalisasi UMKM di seluruh kecamatan.

“Pelatihan ini digelar di 24 kecamatan dan merupakan bagian dari dukungan pendanaan cukai rokok serta pelaksanaan mandat Pemkab Probolinggo untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha. Ada anggaran dari DBHCHT sehingga kami beri pelatihan untuk 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo,” ujarnya.

Menurut Aditia, dalam mendukung program “SAE Ekonomi” Bupati Probolinggo, DKUPP menargetkan penguatan besar-besaran bagi pelaku usaha. “Kita diberi mandat untuk 3.000 toko kelontong naik kelas, 2.000 UMKM naik kelas serta pengembangan 10 Rumah Ekonomi Kreatif,” jelasnya.

Selain pelatihan produksi dan manajemen usaha jelas Aditia, program digitalisasi menjadi prioritas utama melalui pengembangan aplikasi Si Madu. Aplikasi tersebut bukan hanya etalase produk UMKM, tetapi akan terintegrasi dengan pemesanan online dan logistik. “Kita rencananya kerja sama dengan kantor pos agar ongkos kirim bisa difasilitasi dan diratakan se-Kabupaten Probolinggo,” terangnya.

Aditia menerangkan aplikasi tersebut juga mendukung program “Bela Beli UMKM” untuk ASN. Di mana setiap ASN diwajibkan berbelanja produk UMKM setiap bulan. “Nominal belanja mulai Rp50.000 sampai Rp200.000 dan jika tidak dilaksanakan akan ada sanksi. Data transaksi Si Madu nanti terhubung ke BKPSDM dan BPPKAD,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut Aditia mengajak seluruh peserta menyebarkan informasi program kepada pelaku usaha lain agar pemerataan pembinaan UMKM tercapai di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo. “Harapan kami tiap-tiap UMKM bisa masuk dan tiap-tiap ASN bisa belanja di UMKM terdekat dari tempat kerjanya,” pungkasnya. (ren/zid)