Kraksaan, Lensaupdate.com - Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) menggelar kegiatan Empowerment DEWI SAE (Desa Wisata Sejahtera, Amanah-Religius dan Eksis Berdaya Saing) Tahap I Tahun 2025 di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Senin hingga Selasa (10–11 November 2025).
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Probolinggo M. Sjaiful Efendi dan diikuti oleh 158 peserta yang terdiri dari 58 perwakilan OPD, 36 perangkat desa serta 72 pengelola wisata dari 36 desa wisata di Kabupaten Probolinggo.
Kepala Disporapar Kabupaten Probolinggo Heri Mulyadi menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk menyosialisasikan pelaksanaan pendampingan DEWI SAE tahap I tahun 2025 kepada seluruh desa wisata.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menyamakan persepsi antara perangkat daerah pendamping, pemerintah desa dan pengelola wisata tentang pelaksanaan pendampingan DEWI SAE. Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk membangun sinergi agar pendampingan berjalan efektif serta meningkatkan kapasitas pengelola wisata dan Pokdarwis dalam mengembangkan produk serta paket wisata desa,” ujarnya.
Sementara Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo M. Sjaiful Efendi mengatakan program DEWI SAE merupakan langkah strategis Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo untuk mendorong tumbuhnya desa wisata yang mandiri, berdaya saing dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Melalui program ini, desa wisata tidak hanya menjadi objek kunjungan wisata, tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal. Tahap I pendampingan tahun 2025 ini merupakan fase penting untuk memastikan setiap desa wisata memiliki arah pengembangan yang jelas dan terukur,” katanya.
Lebih lanjut Sjaiful menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam keberhasilan program ini. Kunci keberhasilan DEWI SAE adalah kolaborasi antara pemerintah desa, pengelola wisata dan perangkat daerah pendamping.
“Sosialisasi ini menjadi momentum membangun koordinasi yang kuat dan berkelanjutan, sekaligus ruang belajar bersama untuk bertukar pengalaman dan inovasi dalam mengembangkan potensi wisata di masing-masing desa,” imbuhnya.
Melalui kegiatan ini, Sjaiful berharap program DEWI SAE tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, melainkan gerakan bersama untuk mewujudkan desa wisata yang maju, mandiri dan berkelanjutan.
“Mari kita jadikan program DEWI SAE bukan sekedar program tahunan, tetapi sebuah gebrakan bersama untuk mewujudkan desa wisata yang maju, mandiri dan berkelanjutan,” pungkasnya. (nab/zid)
