Kraksaan, Lensaupdate.com – Batik biasanya identik dengan acara resmi. Namun, Kiki Yuri, desainer muda asal Kabupaten Probolinggo, membuktikan bahwa batik juga bisa tampil segar, kekinian dan cocok jadi gaya anak muda.
Lewat sentuhan kreatifnya, batik khas Kabupaten Probolinggo bernama Sejatining Urip berhasil naik kelas hingga menembus panggung mode nasional. Bahkan, koleksi batiknya kini jadi pilihan outfit yang digemari generasi muda, mulai untuk nongkrong di kafe hingga tampil stylish di berbagai acara.
Rahasia di balik popularitas batik Sejatining Urip ini dibongkar langsung oleh Kiki dalam podcast spesial Hari Batik Nasional yang digelar Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Radio Bromo FM di Gedung Islamic Center Kraksaan, Kamis (2/10/2025).
Batik Sejatining Urip lahir pada tahun 2014 dari tangan kreatif Taufik Alami. Motifnya terinspirasi dari kekayaan alam Kabupaten Probolinggo mulai dari gagahnya Gunung Bromo, birunya laut, hamparan tembakau hingga tumbuhan subur yang sarat makna doa, gotong royong dan keseimbangan hidup.
“Batik itu identitas budaya. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi?” tegas Kiki dalam podcast.
Menurut Kiki, batik tidak boleh hanya dilihat sebagai busana untuk acara resmi. Dengan warna-warna segar dan motif khas, batik bisa dipakai anak muda dalam berbagai momen.
“Batik tidak harus untuk kondangan. Dipakai nongkrong, jalan-jalan atau dijadikan tas dan aksesori tetap keren. Warna batik bisa banget jadi pilihan Gen Z,” ujarnya penuh semangat.
Perjalanan Kiki menjadi desainer tidak mulus. Meski sejak SMP sudah bercita-cita menekuni dunia fashion, orang tuanya sempat mengarahkan kuliah di bidang hukum. Namun, cintanya pada wastra membuatnya memilih jalur desain di Surabaya.
Keputusannya terbukti tepat. Karya-karya Kiki sukses tampil di ajang bergengsi, seperti Jakarta Fashion Festival (JF3) 2023 dan Jogja Fashion Week 2024. Nama batik Sejatining Urip pun semakin dikenal.
Meski begitu, Kiki mengakui ekosistem fashion di Kabupaten Probolinggo masih perlu banyak dukungan. Ia bahkan bermimpi suatu hari ada ajang Probolinggo Fashion Week yang bisa menjadi wadah kreator lokal untuk menampilkan karya mereka.
“Kalau masyarakat terbiasa memakai batik sehari-hari, UMKM batik akan tumbuh dan batik khas daerah bisa terus lestari,” kata Kiki.
Bagi yang ingin melihat lebih dekat koleksi Batik Sejatining Urip, masyarakat bisa berkunjung ke Galeri Batik Dewi Rengganis di Desa Jatiurip Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Koleksi ini juga dapat diakses melalui akun Instagram resmi @batik_dewirengganis.
Podcast ini menjadi bukti bahwa batik bukan hanya peninggalan tradisi, tetapi juga tren yang bisa menyatu dengan gaya hidup modern. Dan lewat tangan-tangan muda seperti Kiki Yuri, batik khas Probolinggo semakin siap mendunia. (nab/zid)
