Kraksaan, Lensaupdate.com - Masjid tak lagi cukup hanya menjadi tempat ibadah. Ia harus menjadi pusat pemberdayaan umat agar berdaya, berdampak dan mampu menyejahterakan lingkungan sekitarnya.
Gagasan inilah yang menjadi sorotan dalam Workshop Revitalisasi Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) yang digelar Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Probolinggo, Senin (29/9/2025).
Mengangkat tema “Mendesain Masjid Berdaya dan Berdampak untuk Ummat”, workshop yang berlangsung di Pusat Layanan Haji dan Umroh Terpadu Kraksaan itu dihadiri Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris, Wakil Ketua DPRD M. Zubaidi, Kepala Kemenag H. Samsur, Ketua PCNU Kota Kraksaan KH. Hafidzul Hakim Noer, Ketua BWI Kabupaten Probolinggo HM. Ramly Syahir dan perwakilan ATR/Kantor Pertanahan Kabupaten Probolinggo Ismail.
Tak hanya membahas penguatan fungsi masjid, acara ini juga dirangkai dengan penyerahan sertifikat wakaf dan pelepasan peserta Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) Nasional 2025.
Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris menegaskan pentingnya mengembalikan peran masjid sebagaimana masa Nabi Muhammad SAW, tak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, musyawarah hingga ekonomi umat.
“Masjid harus menjadi pilar peradaban. Sejarah mencatat, di zaman Rasulullah SAW, masjid menjadi pusat segala aktivitas umat. Semangat ini yang harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Dengan lebih dari 1.692 masjid dan mushala di Kabupaten Probolinggo, ia melihat potensi besar yang harus dimaksimalkan dengan pendekatan manajemen modern. “Masjid tak boleh hanya mengandalkan proposal bantuan. Ia harus bisa mandiri secara finansial. Bayangkan jika masjid mampu mengelola zakat, sedekah, wakaf hingga membangun usaha kecil. Ini akan jadi kekuatan luar biasa,” tambahnya.
Menurut Gus Haris, ada dua kata kunci dalam mengelola masjid ke depan yakni berdaya dan berdampak. “Berdaya berarti mandiri dan kuat secara internal, sementara berdampak berarti memberikan manfaat nyata bagi umat, baik secara spiritual maupun sosial ekonomi,” lanjutnya .
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H. Samsur menerangkan pentingnya pengelolaan masjid secara profesional. Ia mengingatkan bahwa masjid adalah tempat pembinaan umat yang memiliki fungsi strategis.
“Sebagaimana Nabi SAW ketika hijrah ke Madinah, yang pertama dibangun bukan rumah, melainkan masjid. Dari situlah dakwah dan pendidikan Islam berkembang,” ungkapnya.
Ia menyebutkan bahwa dari 1.692 masjid di Kabupaten Probolinggo, sebagian besar telah bersertifikat wakaf. Namun tantangan ke depan adalah bagaimana menjadikan masjid benar-benar ramah masyarakat, terutama bagi anak-anak dan remaja serta menjadi pusat kebersamaan. “Masjid harus hidup. Kegiatan dakwah, pendidikan, majelis taklim hingga TPA harus diperkuat. Tapi semua itu butuh pengelolaan yang serius dan terarah,” terangnya.
Samsur juga mendorong kolaborasi antara pengurus masjid dengan pemerintah daerah dan masyarakat agar fungsi masjid terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan zaman. “Kalau masjid dikelola dengan baik, InsyaAllah akan membawa berkah, bukan hanya bagi umat Islam, tapi bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan,” pungkasnya. (nab/zid)
