Kraksaan, Lensaupdate.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo menggelar pembacaan Sholawat Muhammad di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Jum’at (25/7/2025) pagi.
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Camat beserta karyawan/karyawati di lingkungan Pemkab Probolinggo ini dibuka oleh Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris. Sekaligus memimpin langsung pembacaan Sholawat Muhammad.
Turut mendampingi para Staf Ahli Bupati dan Asisten di lingkungan Pemkab Probolinggo. Tidak ketinggalan penceramah KH. M. Syakur Dewa atau Gus Dewa selaku Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid di Desa Patemon Kecamatan Krejengan.
Bupati Probolinggo Gus dr. Mohammad Haris mengungkapkan pentingnya bersholawat sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW. Bahkan di salah satu Sabda Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa siapa yang bersholawat satu kali, maka Allah SWT akan bersholawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosa serta mengangkat derajatnya sepuluh tingkat.
“Sholawat Muhammad ini adalah majelis pertama yang hadir sebelum maraknya majelis sholawat di tempat lain. Ini adalah majelis yang mengakar kuat, penuh keberkahan dan nilai-nilai spiritual tinggi,” katanya.
Bupati Haris menjelaskan bacaan dalam Majelis Sholawat Muhammad tidak hanya berupa sholawat, tetapi juga mengandung intisari dari Al-Qur’an dan doa-doa para ulama terdahulu. “Bacaannya diantaranya Surah Yaasiin, Kanzul ‘Arsy, Istighfar Rajab, Sholawat Muhammad, Rotibul Haddad dan Doa Akasyah,” lanjutnya.
Menurut Bupati Haris, doa-doa tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dari para sahabat Nabi, ulama hingga gurunya sendiri. Doa Akasyah yang menjadi penutup rangkaian bacaan disebutnya sebagai puncak dari semua doa karena tidak lagi berisi permintaan duniawi, melainkan pengakuan atas kelemahan dan permohonan ampunan kepada Allah SWT.
“Doa ini bukan minta jabatan atau rezeki. Tapi isinya adalah keinsyafan dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Kita hanya minta ampun, minta tobat kalau pernah menyekutukan-Nya secara tidak sadar," tegasnya.
Bupati Haris juga menekankan pentingnya membaca dengan pemahaman, sehingga dalam buku Sholawat Muhammad sengaja dicetak lengkap dengan terjemahan dan latin agar memudahkan semua kalangan.
“Selama 15 tahun menjalani kebiasaan bersholawat dan membaca dzikir ini saya merasakan langsung manfaatnya, terutama dalam hal ketenangan hati dan kelancaran rezeki. Kalau bacaan ini sudah mengalir di darah kita, Insya Allah apa yang jadi niat dan hajat itu mudah dikabulkan. Yang penting hati kita jadi tenang, jadi lembut,” ucapnya.
Lebih lanjut Bupati Haris menambahkan sholawat juga membawa dampak positif dalam kehidupan keluarga. Suami yang rajin mengajak istrinya bersholawat akan menciptakan hubungan yang harmonis dan penuh kasih.
“Kalau suami ngajak sholawatan, istrinya juga ikut. Hatinya jadi lembut. Ini penting untuk keluarga. Berkah itu datang begitu saja. Keinginan kita juga tidak meledak-ledak, karena hati kita tenang,” tambahnya.
Bupati Haris berharap agar majelis ini menjadi jalan keberkahan dan membentuk pribadi-pribadi yang istiqomah. “Semoga kita semua bisa istiqomah bersholawat dan menjadikannya sebagai wasilah meraih syafaat Rasulullah SAW,” harapnya.
Sementara KH. M. Syakur Dewa atau Gus Dewa menyampaikan agenda sholawatan bulanan ini merupakan inisiasi langsung dari Gus Haris selaku Bupati Probolinggo. “Tadi Gus Bupati sampaikan, ini mau digelar berapa kali dalam sebulan? Beliau jawab, cukup satu kali sebulan, tapi sebulan Jawa. Artinya, sekitar lima minggu sekali. Saya mendukung sepenuhnya karena ini bagian dari menghidupkan syiar,” ungkapnya.
Dalam ceramahnya, Gus Dewa menyisipkan nilai-nilai keteladanan dari hadits Rasulullah SAW tentang pentingnya sifat-sifat utama dalam diri seorang Muslim. Keadilan, kedermawanan, sifat wara' dan kesabaran bukan hanya untuk para ulama atau tokoh agama, tetapi relevan untuk semua kalangan. “Kalau Pak Camat adil, bukan hanya istri dan anaknya yang merasakan manfaat, tapi satu kecamatan akan merasakannya. Itu makna keadilan dalam kepemimpinan,” jelasnya.
Gus Dewa juga menyinggung pentingnya sifat wara’, terutama di era yang penuh dengan godaan materi. “Kalau ulama punya sifat wara', itu luar biasa. Tak sembarang menerima harta. Kita ini, kalau menerima uang dari tangan orang, harus pastikan itu halal. Kalau tidak, lebih baik ditolak,” ucapnya.
Menjelang akhir tausiyah, Gus Dewa secara khusus menyampaikan pesan untuk para ibu-ibu. Terutama pentingnya rasa malu sebagai ciri perempuan ahli surga. “Yang ahli surga itu bukan hanya perempuan yang alim, tapi yang punya rasa malu. Kalau bersalah, tidak gengsi minta maaf ke suaminya. Itu luar biasa,” tegasnya,
Sholawat Muhammad ini menjadi pembuka agenda rutin bulanan yang diharapkan bisa semakin menguatkan spiritualitas masyarakat dan ASN di lingkungan Pemkab Probolinggo. (nab/zid)
