Mahasiswa UB Asal Kabupaten Probolinggo Redam Adiksi Gadget Lewat Pustaka Keliling dan Pondok Baca


Banyuwangi, Lensaupdate.com - Di tengah darurat adiksi gadget yang menggerogoti generasi muda, seorang mahasiswa asal Kabupaten Probolinggo justru menciptakan oase baru di pelosok desa. Ibnus Shabil, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) hadir bukan sekedar membawa program Mahasiswa Membangun Desa (MMB) biasa. 


Ibnus Shabil berhasil meluncurkan Pustaka Keliling dan Pondok Baca “Taman Upin-Ipin” di Desa Kelir Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi. Sebuah terobosan nyata yang sukses mengalihkan anak-anak dari layar ke lembar buku.


“Saya tidak sedang membangun perpustakaan. Saya sedang memutus rantai candu digital dari akar rumput!” tegas Shabil, dengan sorot mata penuh keyakinan.


Fenomena candu digital pada anak-anak bukan lagi kekhawatiran fiktif. Riset dari Universitas Muria Kudus (2025) mencatat, 67% siswa SD di Jawa Tengah menghabiskan lebih dari 1 jam sehari untuk scrolling TikTok dengan 32% di antaranya rela menunda tugas demi konten pendek. 78% guru mengeluhkan penurunan fokus belajar, sementara 41% orang tua menyadari prestasi akademik anak menurun sejak mengenal platform tersebut.


“Anak-anak kita bukan kurang cerdas. Mereka hanya terlalu lama disuapi algoritma, bukan dibimbing oleh cerita!” cetus Shabil.


Bersama tim MMD 43 UB dengan Dosen Pembimbing Lapangan Albar Aldetary Hasibuan, Ibnus mengubah halaman desa menjadi ruang belajar terbuka. Program Pustaka Keliling dan Pondok Baca digelar sepanjang 1 hingga 31 Juli 2025 dan langsung mendapat sambutan luar biasa dari warga, terutama anak-anak.


Pustaka Keliling hadir setiap Senin, Rabu dan Sabtu pukul 15.30. Sementara Pondok Baca dibuka setiap sore pukul 17.00–19.00, waktu yang biasanya menjadi "jam emas" bermain gadget. “Di sini, anak-anak memilih ingin belajar dan mereka senang, bukan terpaksa. Buku cerita, dongeng, permainan tradisional dan sesi bercerita menjadi magnet baru yang perlahan menggeser perhatian anak-anak dari layar ke halaman buku,” jelasnya.


Antusiasme anak-anak luar biasa. Mereka datang sebelum waktu kegiatan dimulai. Beberapa bahkan meminta tambahan sesi karena merasa “belajar di taman baca itu lebih asyik dari nonton TikTok”. “Kalau desa bisa mencetak generasi literat tanpa gadget, kenapa kota malah sibuk cari alasan?” ucap Ibnus penuh sindiran tajam.


Orang tua pun terlibat aktif, tak sekadar mengantar, tetapi juga mulai mengubah pola asuh di rumah. “Mereka sadar, pembatasan gadget bukan soal melarang, tapi soal menyediakan alternatif yang menyenangkan dan mendidik,” lanjutnya.


Tidak sekadar menunggu anak datang, Ibnus dan tim menyasar langsung ke titik-titik rawan. Mereka mendatangi anak-anak yang duduk sendiri memegang gawai, lalu mengajak mereka ikut aktivitas. “Ayo ikut congklak cerita di pondok baca! Kita ada buku dongeng wayang dan belajar gambar gratis!,” ajaknya.


Pendekatan humanis dan aktif ini sukses menjaring rata-rata 30–40 anak per hari, melampaui target 25 anak. “Anak-anak usia 4 hingga 14 tahun pun tampak bersemangat mengikuti berbagai aktivitas edukatif yang disajikan dengan gaya bermain,” tegasnya.


Yang paling luar biasa, program ini tidak berakhir saat MMD UB usai. Pemerintah Desa Kelir dan Tim TP PKK Desa Kelir menyatakan komitmennya untuk menjadikan Pustaka Keliling sebagai program rutin desa.


“Langkah konkret yang disiapkan antara lain  pembentukan relawan lokal dari Karang Taruna dan PKK, alokasi anggaran desa untuk perawatan buku dan operasional, kemitraan dengan sekolah untuk mengisi gap kebutuhan belajar anak serta edukasi digital untuk orang tua, bertajuk Bijak Bersama Gadget,” tambahnya.


Setelah tiga minggu berjalan, perubahan drastis mulai terasa. Anak-anak lebih banyak bermain di luar rumah. Durasi penggunaan gadget berkurang secara signifikan. Beberapa anak bahkan mulai berminat menulis cerita sendiri dan belajar menyanyi lagu edukatif. “Dulu HP jadi rebutan, sekarang buku jadi rebutan,” tutur salah satu ibu dengan senyum lega.


Ibnus Shabil menegaskan bahwa gerakan ini adalah investasi masa depan. “Saya tak hanya bangun pondok baca, tapi membangun ekosistem literasi yang hidup. Desa harus jadi benteng terakhir melawan candu digital. Dengan dukungan masyarakat, guru, pemerintah desa dan semangat anak-anak, Desa Kelir kini menjadi model nasional yang layak ditiru oleh desa-desa lain di Indonesia,” pungkasnya. (*)