Kraksaan, Lensaupdate.com - Batik tidak hanya dikenalkan sebagai pakaian tradisional di TK Islam Terpadu (TKIT) Permata Kraksaan. Sebanyak 173 murid Kelompok A dan B diajak mengenal batik sekaligus belajar percaya diri, tertib, sabar menunggu giliran dan menghargai teman melalui fashion show bertema “Aku Cinta Batik Indonesia”.
Kegiatan kokurikuler dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional tersebut digelar di halaman TKIT Permata Kraksaan, Kamis (2/10/2025). Anak-anak tampil mengenakan beragam busana batik Nusantara di hadapan guru dan teman-temannya.
Kepala TKIT Permata Kraksaan Anita Supristiwaningsih mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya sebagai peragaan busana. Pengenalan batik sekaligus menjadi bagian dari pembelajaran karakter dan pengenalan kekayaan budaya Indonesia sejak usia dini.
“Kegiatan ini adalah wujud syukur kami atas nikmat Allah SWT yang menganugerahkan kekayaan budaya yang luar biasa indah yaitu batik. Melalui batik, kami ingin menanamkan sejak dini pada anak bahwa mencintai budaya Indonesia adalah bagian dari rasa syukur dan identitas sebagai muslim Indonesia yang berkarakter,” ujarnya.
Selain memperkenalkan batik Nusantara, TKIT Permata Kraksaan secara khusus mengenalkan batik khas Kabupaten Probolinggo kepada para murid.
Sejumlah motif lokal diperkenalkan kepada anak, di antaranya anggur, mangga dan daun tembakau. Pengenalan tersebut menjadi cara sekolah menghubungkan pembelajaran budaya nasional dengan lingkungan yang lebih dekat dengan kehidupan anak.
“Kami mengenalkan sejumlah motif antara lain anggur, mangga dan daun tembakau yang menjadi bagian dari kekayaan lokal Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.
Menurutnya, pengenalan batik daerah penting agar anak tidak hanya mengetahui budaya dari berbagai wilayah Indonesia, tetapi juga memahami bahwa Kabupaten Probolinggo memiliki kekayaan budaya yang dapat dibanggakan.
“Kami sengaja memilih batik khas Kabupaten Probolinggo untuk dikenalkan kepada anak-anak, agar mereka tahu bahwa di daerahnya sendiri ada batik yang tidak kalah indah. Ini adalah cara kami menumbuhkan rasa memiliki dan bangga terhadap kekayaan Indonesia dari lingkungan terdekat,” terangnya.
Dengan pendekatan tersebut, batik menjadi bagian dari pengalaman belajar anak. Mereka tidak sekadar melihat motif atau mengenakan pakaian batik, tetapi juga diperkenalkan pada identitas budaya yang berasal dari daerahnya sendiri.
Fashion show juga dimanfaatkan sekolah untuk melatih keberanian dan kemandirian anak. Setiap murid mendapat kesempatan berjalan di atas karpet hijau, tersenyum, memberikan salam dan memperkenalkan batik yang dikenakannya.
Bagi anak usia dini, kesempatan tampil tersebut menjadi pengalaman untuk membangun rasa percaya diri di lingkungan sekolah.
Namun, pembelajaran tidak berhenti ketika anak berada di atas panggung. Murid juga dibiasakan menunggu giliran, tertib mengantre serta memberikan dukungan kepada teman yang sedang tampil.
“Anak-anak belajar untuk sabar menunggu giliran tampil, tertib mengantre dan memberikan dukungan kepada teman yang sedang tampil. Pembiasaan ini sejalan dengan nilai Syukur, Sabar dan Karakter (SRC) yang menjadi ciri khas TKIT Permata Kraksaan,” tambahnya.
Kegiatan tersebut juga diintegrasikan dengan pembelajaran delapan Dimensi Profil Lulusan. Dengan demikian, peringatan Hari Batik Nasional diarahkan menjadi pengalaman belajar yang menggabungkan pengenalan budaya dengan pembentukan karakter.
Suasana kegiatan berlangsung meriah. Anak-anak tampil dengan busana batik yang beragam dan menunjukkan keberanian di hadapan guru serta teman-temannya. Murid perempuan juga mengenakan jilbab sesuai dengan pembiasaan adab berpakaian Islami di lingkungan sekolah.
Anita berharap pengalaman tersebut dapat membuat kecintaan terhadap batik tumbuh sejak usia dini. Menurutnya, pengenalan budaya melalui aktivitas yang menyenangkan dapat menjadi bagian dari proses membentuk anak yang memiliki karakter sekaligus mengenal identitas budayanya.
“Melalui peringatan Hari Batik Nasional ini kami berharap kecintaan terhadap batik dapat tumbuh sejak usia dini. Pengenalan budaya Indonesia di lingkungan sekolah diharapkan menjadi bagian dari pembentukan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter, nilai keislaman dan rasa bangga terhadap budaya bangsa,” pungkasnya. (nab/zid)
Baca Juga :
