Pemuda Desa Binor Disiapkan Jadi Kader Konservasi Lingkungan


Paiton, Lensaupdate.com - Karang Taruna Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, mendorong pemuda tidak hanya menjadi peserta kegiatan lingkungan, tetapi ikut disiapkan sebagai kader konservasi yang mampu menjaga dan menyuarakan persoalan lingkungan di masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan melalui Education Ranger Camp (ERC) 1.1, kegiatan pendidikan konservasi yang mempertemukan pelajar, komunitas pecinta alam dan pemuda dalam pembelajaran lingkungan secara langsung. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dua malam di Edukasi Wisata Bumi Harmony, Desa Binor, Kecamatan Paiton, Jum'at hingga Minggu (11–13/9/2026).

Sebanyak 45 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari SMK Negeri 1 Kraksaan, MAN 1 Probolinggo, SMA Negeri 1 Paiton, SMK Negeri Kotaanyar serta sejumlah komunitas pecinta alam.

ERC 1.1 mengusung tema “Wiyata Dalam Bentala”, yang menggambarkan proses belajar yang menyatu dengan bumi. Melalui konsep tersebut, alam ditempatkan bukan sekadar sebagai objek yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar memahami ekologi dan tanggung jawab menjaga lingkungan.

Materi yang diberikan mencakup ekologi dan ekosistem, advokasi lingkungan serta kontribusi perusahaan terhadap lingkungan. Pembelajaran juga tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi diperkuat dengan pengalaman langsung di lapangan.

Bagi penyelenggara, pendekatan tersebut menjadi penting karena pendidikan konservasi tidak cukup hanya mengenalkan persoalan lingkungan. Peserta juga perlu memahami bagaimana kepedulian tersebut dapat diterjemahkan menjadi kontribusi dan aksi di lingkungan masing-masing.

Ketua Karang Taruna Desa Binor Dicky Irqi Z mengatakan ERC merupakan bagian dari upaya pemuda desa membangun pendidikan konservasi sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

“ERC 1.1 menjadi bagian dari program Karang Taruna Desa Binor bersama Pecinta Rimba dan Satwa Liar Indonesia (PERISAI) dalam pendidikan kader konservasi yang melibatkan penggiat alam dan komunitas pecinta alam se-Probolinggo,” ujarnya.

Menurut Dicky, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda camp. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta diharapkan dapat menjadi awal terbentuknya jejaring sekaligus aksi lingkungan yang dilakukan secara berkelanjutan.

Dukungan terhadap penguatan peran pemuda juga disampaikan Ketua Karang Taruna Kabupaten Probolinggo Sigit Wida Hartono. Menurutnya, generasi muda memiliki ruang yang besar untuk menjadi penggerak kepedulian lingkungan di tengah masyarakat.

“Keterlibatan generasi muda dalam pendidikan konservasi menjadi penting karena pemuda memiliki ruang besar untuk menjadi penggerak kepedulian lingkungan di tingkat masyarakat,” katanya.

ERC dirancang sebagai kegiatan pendidikan konservasi yang dilaksanakan secara berkelanjutan. Tujuannya bukan hanya menumbuhkan kepedulian, tetapi juga mendorong keberanian peserta untuk menyuarakan persoalan lingkungan.

Dalam prosesnya, peserta diajak memahami bahwa menjaga lingkungan membutuhkan pengetahuan, kepedulian dan keberanian untuk mengambil peran.

“Dalam pelaksanaannya, peserta diajak memahami bahwa menjaga bumi membutuhkan pengetahuan, kepedulian dan keberanian untuk berkontribusi. Advokasi lingkungan dipandang sebagai bentuk pembelaan terhadap hak-hak alam, sementara konservasi menjadi wujud tanggung jawab untuk menjaga ruang hidup,” terangnya.

Penyelenggaraan ERC 1.1 juga didukung PLN Peduli by PLN Nusantara Power. Kolaborasi tersebut mempertemukan unsur pemuda, sekolah, komunitas dan dunia usaha dalam satu ruang edukasi lingkungan.

Bagi Karang Taruna Desa Binor, keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pendidikan konservasi. Pemuda, pelajar dan penggiat alam tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki ruang untuk membangun jejaring dan bertukar pengalaman mengenai persoalan lingkungan.

Pengalaman panitia Karang Taruna Desa Binor yang sebelumnya mengikuti berbagai kegiatan serupa, termasuk hingga tingkat nasional, turut menjadi bekal dalam penyelenggaraan ERC 1.1.

Ke depan, pendidikan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Para pegiat alam juga diharapkan mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh melalui aksi konservasi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar hutan.

Dengan demikian, ERC 1.1 tidak hanya menjadi kegiatan edukasi selama tiga hari, tetapi diarahkan sebagai bagian dari proses membangun generasi muda yang memiliki pengetahuan, kepedulian dan keberanian untuk mengambil peran dalam menjaga lingkungan. (ren/zid)

Baca Juga :