Braille Tetap Penting, Pertuni Kabupaten Probolinggo Latih 32 Penyandang Netra


Kraksaan, Lensaupdate.com - Perkembangan teknologi digital tidak membuat kemampuan membaca dan menulis Braille kehilangan arti bagi penyandang disabilitas netra. Justru, keterampilan tersebut tetap menjadi bekal penting ketika perangkat elektronik tidak dapat digunakan.

Hal itu menjadi perhatian DPC Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Kabupaten Probolinggo melalui pelatihan baca tulis Braille yang diikuti 32 anggota. Kegiatan dibuka di aula SLB Dharma Asih Kraksaan, Sabtu (19/9/2026) dan akan berlangsung selama lima kali pertemuan.

Ketua DPC Pertuni Kabupaten Probolinggo Moh. Ansori mengatakan pelatihan terutama ditujukan kepada anggota pemula agar memiliki kemampuan dasar membaca dan menulis menggunakan huruf Braille.

“Ini pelatihan baca tulis Braille bagi anggota penyandang disabilitas netra, terutama yang menjadi sasaran kami adalah anggota pemula. Harapannya, teman-teman ini setidaknya sudah punya dasar terkait dengan Braille,” katanya.

Peserta dibagi dalam dua tingkatan. Kelas dasar diperuntukkan bagi anggota yang belum memahami Braille, sedangkan kelas lanjutan diikuti peserta yang sudah memiliki kemampuan dasar.

Pada tingkat dasar, peserta diperkenalkan dengan titik-titik Braille hingga tanda baca. Sementara kelas lanjutan mendapatkan materi yang lebih kompleks, seperti simbol matematika, tulisan singkat hingga Al-Quran Braille.

Pembagian tersebut dilakukan agar proses pembelajaran menyesuaikan kemampuan peserta. Anggota pemula tidak langsung menghadapi materi yang sulit, sedangkan peserta yang sudah memiliki dasar dapat meningkatkan keterampilannya.

Bagi Ansori, Braille dan teknologi digital tidak perlu ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling menggantikan. Keduanya justru dapat digunakan secara beriringan sesuai kebutuhan.

“Teknologi dan Braille itu tidak bisa dipisahkan, tapi saling bergandengan. Karena Braille itu tidak ada batas. Kalau HP dan laptop masih ada batas,” terangnya.

Ketergantungan terhadap perangkat elektronik memiliki keterbatasan tertentu. Telepon seluler maupun laptop membutuhkan sumber daya listrik atau baterai agar dapat digunakan. Kondisi berbeda terjadi pada Braille yang tetap dapat digunakan selama tersedia media dan alat tulis.

“Kalau misalnya HP itu tidak ada baterainya, laptop tidak ada baterainya, itu kan bingung kita-kita mau nulis dan membaca. Tapi kalau Braille selama ada kertas bisa,” tegasnya.

Karena itu, kemampuan Braille dipandang bukan sekadar keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi salah satu cara menjaga kemandirian penyandang disabilitas netra.

Namun, kemampuan tersebut membutuhkan latihan berkelanjutan. Kepekaan jari menjadi bagian penting agar seseorang semakin terbiasa mengenali pola titik Braille ketika membaca maupun menulis.

“Kuncinya itu sering-sering digunakan. Karena kepekaan tangan itu yang membuat kita bisa lancar untuk membaca dan menulis,” lanjut Ansori.

Pelatihan tersebut menghadirkan instruktur Rahman Hadi dari DPC Pertuni Kabupaten Jember dan Fatimah dari DPC Pertuni Kabupaten Bondowoso.

Ansori berharap hasil pelatihan tidak berhenti pada 32 peserta. Anggota yang telah menguasai kemampuan Braille diharapkan dapat meneruskan pengetahuan tersebut kepada penyandang tunanetra lainnya.

Pertuni Kabupaten Probolinggo sebenarnya memiliki program pembelajaran secara door to door. Namun, menurut Ansori, pola tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga pelatihan bersama menjadi alternatif untuk menjangkau lebih banyak anggota.

“Kami memang punya program door to door, tapi kurang efektif karena banyak biaya. Alhamdulillah ini ada hibah sehingga kami bisa mengumpulkan teman-teman. Harapannya, dari teman-teman ini bisa jadi salah satu alumni yang menyebarkan ke yang lain,” pungkasnya.

Pembukaan pelatihan turut dihadiri perwakilan Disdikdaya Kabupaten Probolinggo, Dinsos Kabupaten Probolinggo, Kepala SLB Dharma Asih Kraksaan Slamet serta jajaran DPC Pertuni Kabupaten Probolinggo.

Dengan pola pelatihan berjenjang dan harapan munculnya alumni yang dapat mengajarkan kembali, kegiatan tersebut diarahkan tidak hanya untuk menambah kemampuan peserta, tetapi juga memperluas akses belajar Braille di kalangan penyandang disabilitas netra. (nab/zid)

Baca Juga :