Kraksaan, Lensaupdate.com - Budaya literasi di kalangan pelajar Kabupaten Probolinggo terus menunjukkan perkembangan positif. Para santri MTs Zainul Hasan (Zaha) Genggong berhasil menerbitkan buku antologi cerpen yang kemudian diserahkan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo, Rabu (12/8/2026).
Antologi tersebut merupakan kumpulan karya santri yang dihasilkan melalui Lomba Cerpen dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional. Penyerahan dilakukan oleh pengelola Perpustakaan MTs Zaha Genggong saat melakukan kunjungan silaturahmi ke kantor Dispersip Kabupaten Probolinggo.
Terbitnya buku tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pengembangan budaya literasi di lingkungan madrasah. Para santri tidak hanya diajak membaca, tetapi juga diberikan ruang untuk mengolah gagasan dan menuangkannya dalam bentuk tulisan.
Melalui karya cerpen, para santri mengeksplorasi berbagai ide yang bersumber dari pengalaman, perasaan, imajinasi maupun lingkungan sekitar. Cerita yang dihasilkan juga membawa beragam pesan positif yang dekat dengan kehidupan mereka.
Sejumlah nilai yang muncul dalam karya tersebut antara lain persahabatan, perjuangan, kepedulian terhadap lingkungan, semangat belajar hingga keteladanan guru dan kiai.
Kepala Dispersip Kabupaten Probolinggo Ulfiningtyas memberikan apresiasi terhadap kreativitas para santri. Menurutnya, lahirnya buku antologi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan literasi dapat berkembang menjadi karya yang memiliki nilai edukatif sekaligus dapat dinikmati masyarakat.
“Karya-karya para santri ini menjadi wadah untuk menuangkan ide, perasaan, pengalaman dan imajinasi mereka. Menulis bukan hanya sekadar merangkai kata, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan pesan kebaikan dan nilai-nilai kehidupan,” ujarnya.
Ulfi menilai setiap cerpen memiliki karakter tersendiri. Perbedaan gaya dan gagasan dalam tulisan tersebut justru menunjukkan potensi kreatif yang dimiliki para santri.
Ia berharap pengalaman menerbitkan buku dapat memotivasi para santri untuk terus menulis dan tidak berhenti setelah menyelesaikan satu karya.
“Semangat tersebut diharapkan terus berkembang sehingga para santri tidak berhenti pada satu karya, tetapi terdorong untuk menghasilkan tulisan-tulisan berikutnya,” katanya.
Menurut Ulfi, karya literasi yang lahir dari sekolah maupun madrasah perlu mendapatkan ruang apresiasi. Salah satunya dengan mendokumentasikan karya tersebut dalam bentuk buku agar dapat dibaca oleh masyarakat secara lebih luas.
“Kami berharap karya santri MTs Zaha Genggong ini dapat memotivasi lembaga lain untuk menghasilkan karya dalam bentuk tulisan yang diterbitkan menjadi sebuah buku,” terangnya.
Dispersip Kabupaten Probolinggo juga membuka peluang agar antologi cerpen tersebut menjadi bagian dari koleksi perpustakaan daerah. Kehadiran karya santri di rak perpustakaan diharapkan dapat memperluas jangkauan pembaca sekaligus memberikan kebanggaan kepada para penulis muda.
“Langkah ini sekaligus memperkuat peran perpustakaan sebagai ruang publik yang tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga memberikan apresiasi terhadap karya literasi masyarakat, termasuk pelajar dan santri,” tegasnya.
Bagi para santri, terbitnya antologi tersebut bukan sekadar hasil dari sebuah perlombaan. Buku tersebut menjadi dokumentasi proses belajar sekaligus bukti bahwa gagasan anak muda dapat berkembang menjadi karya yang memiliki manfaat bagi orang lain.
Dispersip berharap kolaborasi dengan sekolah dan madrasah terus diperkuat melalui berbagai program literasi. Dengan semakin banyak pelajar yang berani menulis dan menerbitkan karya, Kabupaten Probolinggo diharapkan memiliki ekosistem literasi yang semakin kuat dan melahirkan generasi muda kreatif yang gemar membaca sekaligus produktif menghasilkan tulisan. (nab/zid)
Baca Juga :
