Resmikan Hemodialisis, Bupati Haris Minta Kasus Gagal Ginjal Ditekan


Kraksaan, Lensaupdate.com - Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris meminta pengembangan layanan hemodialisis di RSUD Waluyo Jati tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas pelayanan pasien. Lebih jauh, keberadaan layanan tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan dan menekan kasus gagal ginjal di Kabupaten Probolinggo.

Hal tersebut disampaikan Bupati Haris saat meresmikan layanan hemodialisis RSUD Waluyo Jati Kabupaten Probolinggo, Sabtu (22/8/2026). Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan ruang pelayanan serta dialog bersama pasien yang tengah menjalani cuci darah.

Bupati Haris menegaskan keberhasilan pelayanan kesehatan tidak seharusnya hanya dilihat dari jumlah pasien yang berhasil dilayani maupun pendapatan rumah sakit. Menurutnya, indikator yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah dan tenaga kesehatan dalam mencegah masyarakat agar tidak sampai mengalami penyakit tersebut.

“Fokus pelayanan rumah sakit itu bukan sebanyak apa pasien yang harus kita tangani sehingga menghasilkan income. Progres keberhasilan itu bukan seberapa banyak pasien hemodialisa yang harus kita tangani. Justru apa upaya kita agar kasus gagal ginjal ini bisa menurun dengan cepat di Kabupaten Probolinggo,” tegasnya.

Untuk memperkuat upaya pencegahan, Bupati Haris meminta dilakukan pemetaan secara menyeluruh terhadap pasien gagal ginjal di Kabupaten Probolinggo. Data tersebut, menurutnya, tidak cukup hanya berasal dari RSUD Waluyo Jati, tetapi perlu dikolaborasikan dengan rumah sakit lain yang memiliki layanan hemodialisis.

Pemetaan tersebut meliputi lokasi tempat tinggal, usia, jenis kelamin hingga perkembangan jumlah kasus dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

“Pemetaan perlu mencakup lokasi tempat tinggal pasien, usia, jenis kelamin hingga perkembangan kasus dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Bagaimana kemudian kasus gagal ginjal, kita punya mapping pasien gagal ginjal itu tinggal di mana? Apakah lebih banyak di pesisir, apakah lebih banyak di gunung, apakah lebih banyak di bukit-bukit kita atau di mana,” terangnya.

Menurut Bupati Haris, data tersebut penting untuk melihat pola persebaran penyakit sekaligus mencari kemungkinan faktor risiko yang menyebabkan kasus gagal ginjal terus muncul.

Ia juga meminta perkembangan usia pasien ditelusuri. Pemerintah perlu mengetahui apakah kasus gagal ginjal semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda atau justru masih didominasi usia lanjut.

“Ditracking sampai 10 tahun ke belakang, kira-kira pasien-pasien gagal ginjal ini semakin muda apa semakin tua. Ini yang akhirnya bisa jadi sebuah evaluasi,” tegasnya.

Bupati Haris juga menyoroti perubahan gaya hidup masyarakat yang perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan penyakit. Salah satunya pola konsumsi makanan dan minuman anak-anak yang berada di lingkungan sekolah.

“Kalau anak-anak semakin ke sini semakin umurnya semakin muda, berarti ada yang salah dengan gaya hidup anak-anak kita. Mungkin anak-anak jajan dan sebagainya. Yang sekarang musuh kita justru adalah makanan-makanan yang ada di sekitar sekolah anak-anak kita dan lain sebagainya,” ujarnya.

Karena itu, ia meminta Dinas Kesehatan, rumah sakit dan tenaga kesehatan tidak hanya berfokus pada penanganan pasien yang sudah sakit. Data kesehatan harus dimanfaatkan untuk menyusun kebijakan pencegahan yang lebih tepat sasaran.

“Artinya adalah tidak harus sebanyak apa kita melayani pasien hemodialisa, tetapi sebanyak apa yang bisa kita cegah,” tambahnya.

Sementara Direktur RSUD Waluyo Jati dr. Yessi Rahmawati mengatakan layanan hemodialisis dihadirkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat Kabupaten Probolinggo dan daerah sekitarnya.

Layanan tersebut telah mendapatkan dukungan BPJS Kesehatan sehingga peserta yang memenuhi ketentuan dapat memperoleh pelayanan sesuai mekanisme yang berlaku.

Namun, tingginya kebutuhan masyarakat membuat kapasitas layanan yang baru dibuka tersebut langsung mengalami kelebihan beban. Sejak mendapatkan persetujuan layanan pada 5 Juni 2026, tingkat pemanfaatannya telah mencapai sekitar 110 persen.

“Saat ini layanan telah mencapai 110 persen, layanan baru dibuka dan sekarang sudah overload. Sehingga kami harus segera menambah layanan cuci darah di RSUD Waluyo Jati,” ungkap Yessi.

Untuk menambah kapasitas, RSUD Waluyo Jati menyiapkan pengembangan melalui skema kerja sama. Rumah sakit menyediakan fasilitas gedung, sementara pihak mitra memberikan dukungan terhadap pengembangan layanan hemodialisis.

“Ini bentuknya kerja sama, sehingga pemerintah daerah tidak mengeluarkan dana untuk pembangunannya. Kami mempersiapkan fasilitas gedungnya karena kami bekerja sama dengan pihak yang mendukung layanan hemodialisis,” jelasnya.

Yessi menegaskan pengembangan layanan kesehatan di RSUD Waluyo Jati akan terus dilakukan. Peresmian hemodialisis, menurutnya, bukan menjadi akhir pembangunan, tetapi awal dari tanggung jawab untuk menjaga mutu dan keselamatan pasien.

“Bagi kami, peresmian hari ini bukanlah akhir dari sebuah pembangunan. Hari ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga mutu, memastikan keselamatan pasien, memberikan pelayanan dengan hati dan menjadikan RSUD Waluyo Jati sebagai rumah sakit kebanggaan masyarakat Kabupaten Probolinggo,” tegasnya.

Yessi berharap pengembangan tersebut semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap RSUD Waluyo Jati sekaligus membuat masyarakat Kabupaten Probolinggo semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas di daerah sendiri.

“Semoga RSUD Waluyo Jati semakin menjadi pilihan masyarakat Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (nab/zid)