Warga Binaan Rutan Kraksaan Belajar Batik untuk Mandiri


Kraksaan, Lensaupdate.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo terus memperluas akses pelatihan kerja bagi berbagai lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan. Melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), sebanyak 16 warga binaan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kraksaan mengikuti pelatihan membatik sebagai bekal memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan masa pidana.

Program pelatihan berbasis kompetensi tersebut resmi dimulai di Aula Pengayoman Rutan Kelas IIB Kraksaan, Senin (27/7/2026). Kegiatan dibiayai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2026 dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menekan angka pengangguran di Kabupaten Probolinggo.

Selama 20 hari kerja, mulai Juli hingga Agustus 2026, para peserta akan mendapatkan pelatihan membatik secara intensif. Seluruh peserta dipilih melalui proses seleksi dengan mempertimbangkan minat, kemampuan dasar serta masa pidana yang segera berakhir sehingga keterampilan yang diperoleh dapat langsung dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.

Pembukaan pelatihan dihadiri Kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo Saniwar, Kepala Rutan Kelas IIB Kraksaan Galih Setiyo Nugroho, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Probolinggo Nurhadi Wijayanto serta instruktur dari Batik Tulis Ronggo Mukti Kraksaan Mahrus Ali.

Pada kesempatan tersebut, BPJS Ketenagakerjaan Cabang Probolinggo juga menyerahkan kartu kepesertaan secara simbolis kepada perwakilan peserta. Perlindungan jaminan sosial tersebut diberikan agar seluruh peserta memperoleh perlindungan selama mengikuti pelatihan.

Kepala Rutan Kelas IIB Kraksaan Galih Setiyo Nugroho meminta seluruh peserta memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sungguh-sungguh. Keterampilan membatik dapat menjadi bekal penting untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas.

"Saya minta tolong pelatihan ini diikuti dengan maksimal dan ikhlas. Ilmu yang disampaikan instruktur diserap sebaik mungkin sehingga dapat menjadi bekal ketika saudara-saudara kembali ke tengah masyarakat," ujarnya.

Ia menilai pelatihan ini bukan hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga binaan. Dengan kemampuan membatik, peserta berkesempatan bekerja di industri batik maupun membangun usaha secara mandiri.

Galih juga mengapresiasi kolaborasi antara Disnaker Kabupaten Probolinggo, Rutan Kraksaan dan BPJS Ketenagakerjaan yang dinilai menjadi langkah nyata dalam mempersiapkan warga binaan agar memiliki kompetensi sekaligus perlindungan sosial sebelum kembali ke lingkungan keluarga.

Sementara Kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo Saniwar mengatakan pelatihan berbasis kompetensi merupakan strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja, termasuk bagi warga binaan yang sedang menjalani pembinaan.

"Harapan kami, seluruh peserta memperoleh keterampilan sesuai kompetensinya. Setelah keluar dari rutan mereka memiliki bekal untuk bekerja, bahkan berpeluang direkrut pelaku usaha batik atau membuka usaha sendiri dari rumah," katanya.

Menurut Saniwar, keterampilan yang diperoleh peserta diharapkan mampu memperbesar peluang memperoleh pekerjaan maupun berwirausaha. Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran terbuka melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja.

Ia mengajak seluruh peserta menjadikan pelatihan tersebut sebagai awal untuk membangun masa depan yang lebih produktif dan meninggalkan masa lalu.

Selain pelatihan membatik di Rutan Kraksaan, pada hari yang sama Disnaker Kabupaten Probolinggo juga membuka sejumlah pelatihan berbasis kompetensi lainnya meliputi dua kelas menjahit, dua kelas bordir serta satu kelas pengolahan hasil pangan berupa pembuatan roti di Kantor Disnaker Kabupaten Probolinggo.

Melalui program Pelatihan Batik Warga Binaan Kraksaan dan berbagai pelatihan kompetensi lainnya, Pemkab Probolinggo berharap semakin banyak masyarakat memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan tenaga kerja yang mandiri, produktif, berdaya saing, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. (nab/zid)